Beranda Nasional Jogja Batu Raksasa Seukuran Mobil Hantam Rumah Ketua RT di Imogiri

Batu Raksasa Seukuran Mobil Hantam Rumah Ketua RT di Imogiri

Ilustrasi bencana tanah longsor | Freepik

BANTUL, JOGLOSEMARNEWS.COM – Suara “krasak-krasak” yang memecah keheningan pagi menjadi pertanda buruk bagi keluarga Djuradi (57). Beberapa detik kemudian, batu raksasa meluncur dari atas tebing dan menghantam rumahnya di Padukuhan Wunut, Kalurahan Sriharjo, Kapanewon Imogiri, Selasa (3/3/2026) sekitar pukul 06.00 WIB.

Beruntung tak ada korban jiwa dalam insiden tersebut. Namun bagian dapur dan kamar mandi rumah Ketua RT 5 itu praktis hancur tak berbentuk setelah dihantam batu berukuran lebih dari tiga kali dua meter.

“Setelah keluar terus saya lihat ada batu besar dari atas sudah turun dan menimpa rumah ini,” ujar Djuradi saat ditemui di kediamannya, Rabu (4/3/2026).

Ia menuturkan, sebelum kejadian wilayah Sriharjo diguyur hujan selama hampir sehari penuh. Di atas rumahnya memang sejak lama terdapat batu besar yang posisinya menggantung di tebing. Diduga akibat tanah yang labil, batu tersebut akhirnya bergerak turun, merobohkan pepohonan, lalu menghantam bangunan.

Saat kejadian, di dalam rumah terdapat dua kepala keluarga dengan total lima orang penghuni. Istri, anak, menantu, dan cucunya berada di dalam rumah. Bahkan, ibu dari sang cucu tengah memanaskan air untuk mandi ketika suara mencurigakan terdengar.

“Di rumah ini ada dua KK atau lima orang. Ada saya, istri, anak, menantu, sama cucu. Pas kejadian, ibunya ini lagi nyiapin air panas untuk mandi dia. Terus denger krasak-krasak, jadi ikut lagi keluar dan alhamdulillah selamat,” ucapnya.

Akibat terjangan batu, satu kamar mandi, satu dapur, dinding sepanjang kurang lebih 15 meter, 15 lembar atap asbes, serta berbagai peralatan dapur rusak berat. Kamar mandi dan dapur bahkan nyaris tak tersisa wujudnya.

Baca Juga :  Mahasiswi 24 Tahun Ditemukan Tewas Tergantung di Kos Condongcatur

Kini, keluarga Djuradi harus beradaptasi dengan kondisi darurat. Untuk kebutuhan mandi, cuci, dan kakus (MCK), mereka memanfaatkan aliran sungai di dekat rumah. Air minum diambil dari mata air di atas tebing. Sementara memasak terpaksa menumpang di rumah tetangga.

“Kalau untuk keperluan MCK gitu kebetulan di dekat sini ada kali. Jadi cuci-cuci di situ. Semua di situ. Kalau kebutuhan minum ambil dari mata air. Sebenarnya ada PAM, tapi kan putus karena tergulung batu ini,” jelasnya.

Meski kondisi rumah rusak dan batu besar masih tergeletak di lokasi, Djuradi mengaku belum berniat meninggalkan rumah warisan keluarganya itu. Batu tersebut pun untuk sementara tidak dipindahkan karena ukurannya terlalu besar dan berisiko membahayakan.

“Batu itu enggak bisa dipatah. Karena ini batunya besar banget. Enggak diukur berapa lebar sama diameternya. Tapi ini lagi dibersihkan. Kemarin juga warga dua RT sudah gotongroyong ke tempat saya untuk bersihkan patahan batu sama tempat yang kena batu,” katanya.

Pihak keluarga sudah menerima bantuan logistik dan terpal dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Bantul. Namun Djuradi berharap ada bantuan pembangunan kamar mandi karena menjadi kebutuhan paling mendesak.

“Kalau bisa pemerintah bantu memikirkan kebutuhan kamar mandi. Barang kali pemerintah bisa mengusahakan, kami mengucapkan banyak terima kasih. Ini yang kacau sekali kamar mandi, mbak,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Bantul, Mujahid Amrudin, menyampaikan bahwa batu berukuran besar tersebut untuk sementara dibiarkan di lokasi demi keselamatan.

Baca Juga :  MBG Ramadan di Jogja Tuai Kritik, Banyak Siswa Tak Habiskan Jatah Makanan

“Batu itu kan besar, kalau mau dipecah tidak mungkin karena takut membahayakan rumah. Jadi, sementara kami biarkan batu itu dan sementara kan di atas masih ada batu juga yang bisa berpotensi jatuh. Saran dari masyarakat, batu itu tidak dipindah dan dipecah,” ujarnya.

BPBD telah menyarankan agar keluarga sementara waktu mengungsi demi keamanan.

“Kemarin saya sudah bertemu pemilik rumah (Pak Djuradi). Kami menyarankan, sementara mereka relokasi atau mengungsi dulu. Kemarin sudah bersedia untuk mengungsi di tempat orang tuanya di bawah, sehingga nanti posisinya aman. Kami juga sudah koordinasi dengan Bu Lurah Sriharjo agar pemilik rumah mengungsi, sembari melihat perkembangan lokasi,” terangnya.

Selain kejadian di Sriharjo, hujan deras beberapa hari terakhir juga memicu pohon tumbang di kawasan Ring Road Druwo Bantul serta longsor di Argorejo, Kapanewon Sedayu. BPBD mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan, terutama di wilayah rawan tebing dan longsor.

Untuk sementara, keluarga Djuradi masih bertahan di tengah keterbatasan, sembari menunggu kepastian langkah penanganan berikutnya dari pemerintah setempat. [*] Disarikan dari sumber berita media daring

Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.