Site icon JOGLOSEMAR NEWS

Danantara: Ekspor Bahan Mentah Bikin RI Rugi Rp 300 T

Ilustrasi kegiatan ekspor impor | pixabay

JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM — Ketergantungan pada ekspor bahan mentah kembali menuai kritik. Alih-alih mengoptimalkan nilai tambah, Indonesia dinilai justru membiarkan potensi pendapatan ratusan triliun rupiah menguap setiap tahun.

Direktur Badan Pengelola Investasi Danantara, Lucky Lukman Nurrahmat, mengungkapkan besarnya kerugian tersebut saat memaparkan peluang investasi di sektor peternakan.

“Pada dasarnya, kita membiarkan potensi pendapatan sebesar sekitar Rp 300 triliun terbuang,” katanya di gedung BRIN, Jakarta, Jumat (27/3/2026).

Menurut Lucky, persoalan utama terletak pada belum optimalnya hilirisasi. Ia menyebut sebagian besar produk yang diekspor masih dalam bentuk bahan mentah, sementara porsi produk olahan masih sangat terbatas.

Kondisi tersebut, kata dia, membuat Indonesia kehilangan peluang besar untuk meraup nilai tambah dari rantai produksi yang seharusnya bisa dikembangkan di dalam negeri.

Di sisi lain, Lucky melihat situasi ini justru membuka peluang investasi yang cukup besar, khususnya di sektor peternakan. Ia memetakan setidaknya empat peluang yang bisa dimanfaatkan.

Pertama, target swasembada pangan yang dicanangkan pemerintah pada 2029. Saat ini, Indonesia masih bergantung pada impor pangan dengan nilai yang cukup besar setiap tahunnya.

“Kita menghabiskan sekitar Rp 10 miliar per tahun untuk mengimpor pangan. Ini merupakan masalah kebijakan, tetapi juga merupakan peluang bagi kita,” tuturnya.

Peluang kedua datang dari pasar domestik yang terus tumbuh. Dengan peningkatan kebutuhan pangan sekitar 5 hingga 7 persen per tahun, permintaan protein hewani diprediksi ikut melonjak.

Ketiga, pasar regional yang semakin terbuka. Ia menyebut nilai perdagangan pangan di kawasan ASEAN diproyeksikan mencapai sekitar 800 miliar dolar AS pada 2030, sehingga membuka ruang bagi Indonesia untuk memperluas ekspor—dengan catatan kapasitas produksi dan teknologi mampu bersaing.

Sementara peluang keempat kembali menyoroti persoalan lama: ekspor berbasis bahan mentah yang belum tersentuh hilirisasi secara optimal.

Dalam sektor unggas, Lucky menilai Indonesia sebenarnya memiliki modal kuat. Produksi ayam broiler nasional mencapai sekitar 3,5 juta ton per tahun dan menempatkan Indonesia di posisi lima besar dunia.

Namun, peluang ekspor belum tergarap maksimal. Dari pasar global yang diperkirakan bernilai 9 miliar dolar AS dengan pertumbuhan 8 persen, kontribusi Indonesia masih sangat kecil.

Sebagai perbandingan, penetrasi ekspor Indonesia baru sekitar 2 persen, jauh tertinggal dari Thailand yang telah mencapai 40 persen.

Untuk menggenjot sektor ini, Danantara tengah mengembangkan proyek peternakan terpadu yang mencakup rantai pasok unggas, mulai dari day old chicken (DOC) hingga grandparent stock (GPS).

Sejumlah proyek bahkan telah memasuki tahap peletakan batu pertama pada kuartal pertama tahun ini.

Lucky juga menyinggung program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dinilai akan menjadi katalis permintaan sektor unggas, seiring rencana pembangunan puluhan ribu dapur hingga 2030.

Selain investasi, Danantara juga mengklaim mendorong penguatan peternak kecil melalui peningkatan kapasitas produksi GPS serta akses pembiayaan seperti kredit usaha rakyat.

“Kami (Danantara) tidak hanya mengucurkan modal, tetapi juga membangun kapasitas dan kemampuan teknologi di tingkat nasional,” katanya.

Pernyataan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa tanpa pergeseran serius menuju hilirisasi, Indonesia berisiko terus kehilangan nilai ekonomi besar dari sumber daya yang dimilikinya sendiri. [*] Disarikan dari sumber berita media daring

Exit mobile version