SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM – Suasana tenang di Dukuh Tugumulyo, Desa Gading, Kecamatan Tanon, Kabupaten Sragen mendadak berubah menjadi mimpi buruk bagi warga. Selama sekitar satu bulan terakhir, jutaan lalat diduga berasal dari kandang ayam petelur di tengah pemukiman warga terus menyerbu rumah-rumah penduduk.
Serangan lalat yang datang tanpa henti membuat aktivitas warga terganggu, mulai dari urusan makan, tidur, hingga pekerjaan sehari-hari. Kondisi ini membuat warga dari dua dukuh, yakni Tugumulyo dan Camplangan, semakin resah dan akhirnya mengeluarkan ultimatum keras kepada pengelola kandang ayam tersebut. Jika tidak segera ditangani dalam waktu satu minggu, masyarakat mengancam akan melakukan aksi besar hingga menuntut penutupan kandang.
Informasi yang dihimpun menyebutkan kandang ayam petelur tersebut merupakan milik Kepala Desa Gading, Puryanto, yang kemudian disewakan kepada Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Gading untuk operasional peternakan. Kandang tersebut berisi sekitar 1.000 ekor ayam dan berada di tengah area pemukiman warga.
Diduga kuat, kondisi kandang yang kurang terawat menjadi pemicu utama ledakan populasi lalat. Kotoran ayam yang basah, sisa pakan yang menumpuk, serta ventilasi kandang yang buruk, terlebih saat musim hujan seperti sekarang, menjadi lingkungan ideal bagi berkembangnya lalat dalam jumlah besar.
Salah satu warga terdampak, Hendri Cahyono Saputra (41), yang tinggal hanya sekitar 20 meter dari kandang, mengaku kondisi saat ini sudah di luar batas kewajaran. Menurut warga Dukuh Tugumulyo RT 10 ini, jutaan lalat hampir menutupi berbagai sudut rumah, bahkan hingga makanan yang hendak dikonsumsi keluarga.
“Iya benar mas, dampaknya luar biasa, terutama di makanan jadi tidak higienis. Nasi, lauk-pauk, sayur, semua dikerubuti lalat. Kalau malam tidur, lampu harus dimatikan total, kalau tidak lalat nempel di badan,” kata Hendri, Selasa (10/3/2026).
Hendri yang sehari-hari bekerja sebagai penjahit juga merasakan dampak langsung terhadap usahanya. Kain-kain jahitan miliknya sering dipenuhi bintik hitam yang diduga berasal dari kotoran lalat. Hal itu tentu merugikan karena membuat kualitas hasil jahitan menurun.
Selain itu, beberapa warung makan di sekitar lokasi juga mulai kehilangan pelanggan. Banyak pembeli merasa jijik melihat makanan yang terus dikerubuti lalat sehingga memilih mencari tempat makan lain.
Menurut Hendri, lonjakan populasi lalat baru terasa sejak kandang ayam petelur tersebut mulai beroperasi. Sebelumnya memang ada kandang ayam potong di wilayah tersebut, namun kondisi lalat tidak separah sekarang karena menggunakan sistem ventilasi blower yang lebih modern.
“Sejak kandang ayam petelur itu ada, lalat baru timbul sebanyak ini. Secara logika, ya kandang itu penyebabnya. Sebelumnya ada kandang ayam potong dan MBG, tapi lalatnya tidak seperti ini, masih bisa dimaklumi karena sistemnya beda,” bebernya.
Warga juga mengaku sudah berulang kali mencoba menyelesaikan persoalan ini melalui jalur musyawarah. Laporan telah disampaikan mulai dari tingkat RT hingga Kecamatan Tanon. Namun hingga kini, mereka merasa belum mendapatkan solusi nyata.
Hendri bahkan sempat menemui Ketua BUMDes Gading, Sujiono, untuk menanyakan langkah konkret yang akan dilakukan. Namun pertemuan tersebut justru memunculkan ketegangan karena warga merasa jawaban yang diberikan hanya berupa janji tanpa kepastian.
“Tadi malam saya nemui Ketua BUMDes. Katanya mau diusahakan, tapi saya tanya sampai kapan? Sudah tiga bulan seperti ini. Bahkan ada kesan kami ditantang karena menyangkut pihak-pihak tertentu di desa,” tambah Hendri.
Tak hanya itu, warga juga menyoroti persoalan izin lingkungan. Mereka menyebut sejak awal berdirinya kandang ayam petelur tersebut tidak pernah ada komunikasi resmi ataupun persetujuan dari warga sekitar yang kini terdampak langsung.
Karena itu, warga dari dua dukuh yang jumlahnya sekitar 80 Kepala Keluarga kini sepakat mengajukan dua tuntutan utama kepada pemerintah desa dan pengelola kandang.
Tuntutan warga antara lain:
✓ Penyemprotan dan pengendalian lalat secara intensif hingga populasi benar-benar berkurang
✓ Pengelolaan kandang yang lebih bersih dan sistem ventilasi yang memadai
✓ Penanganan kotoran ayam agar tidak menjadi sumber berkembangnya lalat
✓ Komitmen pengelola untuk memastikan gangguan tidak terulang
Jika dalam waktu satu minggu tidak ada perubahan signifikan, warga mengaku siap melakukan aksi massa ke Kabupaten Sragen untuk menuntut penutupan permanen kandang tersebut.
“Kami kasih tenggang waktu satu minggu. Kalau tidak ada solusi, kami terpaksa melakukan aksi ke Sragen. Ini bukan tuntutan pribadi, tapi hasil koordinasi dengan warga terdampak. Pilihannya cuma dua: lalat bisa dikendalikan atau kandang ditutup,” tegas Hendri.
Sementara itu, pihak Kecamatan Tanon membenarkan adanya laporan dari warga terkait serangan lalat tersebut. Kasi Trantib Kecamatan Tanon, Lanjar, menyatakan pihaknya telah melakukan koordinasi dengan pemerintah desa serta pengelola kandang.
“Ya, istilahnya dapat keterangan dari desa bahwa untuk penyelesaian itu pengelola kandang. Tapi dari pelapor istilahnya belum puas. Nah, itu ‘kan kalau kita sudah koordinasi dengan desa dan pengelola mengurangi dampak lalat niku dengan membersihkan kandang, melakukan penyemprotan gitu,” ujarnya.
Meski demikian, warga berharap tindakan nyata segera dilakukan karena kondisi saat ini dinilai sudah sangat mengganggu kesehatan dan kenyamanan lingkungan. Jika persoalan ini terus berlarut-larut tanpa solusi, konflik antara warga dan pengelola kandang dikhawatirkan akan semakin memanas. Huri Yanto
Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.















