Site icon JOGLOSEMAR NEWS

Geopolitik Memanas, Rupiah Tergerus hingga Rp 16.892 per Dolar AS

Ilustrasi rupiah | Freepik

JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM – Tekanan global kembali menggerus mata uang Garuda. Rupiah tak mampu bertahan dari gelombang sentimen eksternal dan harus menutup perdagangan di zona merah, di tengah memanasnya konflik geopolitik dan memburuknya persepsi risiko terhadap Indonesia.

Pada Rabu (4/3/2026), rupiah ditutup di level Rp 16.892 per dolar Amerika Serikat, melemah 20 poin dibandingkan penutupan sebelumnya di posisi Rp 16.872 per dolar AS. Bahkan pada sesi pagi, rupiah sempat menyentuh Rp 16.917 per dolar AS sebelum akhirnya sedikit terkoreksi.

Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan tekanan terhadap rupiah belum akan mereda dalam waktu dekat. Ia menyebut peluang rupiah menyentuh Rp 17.400 per dolar AS terbuka lebar jika dalam bulan Maret ini nilai tukar menembus Rp 17.000 per dolar AS.

Menurutnya, eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran menjadi salah satu pemicu utama pelemahan tersebut. Serangan yang dikabarkan menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, meningkatkan kekhawatiran pasar global.

“Ancaman terhadap Selat Hormuz, jalur penting untuk ekspor minyak mentah dari produsen utama, termasuk Arab Saudi, Irak, dan Uni Emirat Arab, telah menyuntikkan premi risiko geopolitik yang signifikan ke dalam harga minyak,” kata Ibrahim dalam keterangannya pada Rabu, 4 Maret 2026.

Lonjakan risiko geopolitik itu berdampak pada pergerakan harga minyak dunia dan memicu arus keluar modal dari negara berkembang, termasuk Indonesia.

Dari dalam negeri, sentimen negatif juga datang dari lembaga pemeringkat internasional, Fitch Ratings, yang merevisi outlook utang Indonesia dari stabil menjadi negatif. Meski begitu, lembaga tersebut masih mempertahankan peringkat utang Indonesia di level BBB.

Menghadapi tekanan tersebut, Bank Indonesia memastikan tetap berada di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, menegaskan komitmen intervensi akan dilakukan secara berkelanjutan.

“Intervensi yang tegas dan konsisten akan terus kami lakukan melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, disertai dengan pembelian SBN di pasar sekunder,” kata Destry dalam keterangan resmi pada Rabu, 4 Maret 2026.

BI mencatat secara month to date rupiah melemah sekitar 0,51 persen. Namun, menurut Destry, pergerakan tersebut masih relatif sejalan dengan tren mata uang di kawasan regional.

Di tengah tekanan itu, fundamental eksternal Indonesia diklaim tetap terjaga. Cadangan devisa pada akhir Januari 2026 tercatat sebesar US$ 154,6 miliar. Sementara itu, sepanjang 2026 hingga saat ini, aliran modal asing yang masuk ke pasar keuangan domestik mencapai Rp 25,7 triliun.

Meski demikian, pelaku pasar masih mencermati dinamika konflik Timur Tengah dan arah kebijakan global. Jika eskalasi terus berlanjut, nilai tukar rupiah berpotensi menghadapi tekanan lanjutan dalam waktu dekat. [*] Disarikan dari sumber berita media daring

 

Exit mobile version