JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM – Lonjakan harga minyak dunia yang menembus angka 115 dolar AS per barel mulai menguji ketahanan kebijakan energi nasional. Di tengah tekanan global dan isu kenaikan harga BBM yang kian santer, pemerintah belum juga memberikan kepastian, meski sinyal arah kebijakan mulai disampaikan.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengungkapkan bahwa keputusan terkait harga BBM subsidi sepenuhnya berada di tangan Presiden Prabowo Subianto.
Pernyataan tersebut disampaikan Bahlil saat mendampingi Presiden dalam agenda kenegaraan di Tokyo, Jepang, Senin (30/3/2026), sekaligus merespons isu yang menyebutkan adanya rencana kenaikan harga BBM mulai 1 April.
“Insya Allah atas arahan Bapak Presiden untuk BBM subsidi sampai dengan sekarang saya pikir Bapak Presiden punya hatilah untuk memperhatikan rakyat kecil. Percayalah nanti tunggu tanggal mainnya Bapak Presiden akan memutuskan seperti apa untuk kebaikan rakyat bangsa dan negara,” ujar Bahlil.
Menurutnya, Presiden terus mempertimbangkan kondisi masyarakat, terutama kelompok berpenghasilan rendah, sebelum mengambil kebijakan strategis yang berdampak luas.
Di tengah gejolak geopolitik global, harga minyak mentah dunia memang mengalami kenaikan signifikan. Kondisi ini bahkan telah mendorong sejumlah negara seperti Thailand, Filipina, dan Australia untuk menyesuaikan harga BBM di dalam negeri.
Namun, pemerintah Indonesia sejauh ini memilih menahan harga BBM subsidi demi menjaga daya beli masyarakat.
“Harga sekarang sudah mencapai 115 dolar AS (per barel). Di dalam negeri (harga) masih stabil. Bapak Presiden kita ini kan tiap hari memikirkan tentang bagaimana pembangunan negara tapi juga bagaimana memperhatikan kebutuhan dan kondisi masyarakat kita di bawah,” kata Bahlil.
Ia menegaskan, fokus pemerintah saat ini adalah memastikan subsidi tetap tepat sasaran, sehingga hanya dinikmati oleh kelompok masyarakat yang benar-benar membutuhkan.
“Nah tadi saya katakan bahwa subsidi tunggu tanggal mainnya insyaallah saya yakinkan bahwa Bapak Presiden dalam membuat kebijakan selalu mempertimbangkan dan memprioritaskan tentang kondisi masyarakat. Insyaallah baik nanti tunggu tanggal mainnya ya,” tegasnya.
Di sisi lain, Bahlil juga menegaskan bahwa harga BBM non-subsidi, khususnya untuk sektor industri, akan tetap mengikuti mekanisme pasar sesuai aturan yang berlaku.
Ia menilai kelompok masyarakat mampu tidak seharusnya bergantung pada BBM bersubsidi yang memang diperuntukkan bagi rakyat kecil.
“Apa itu definisi yang industri adalah bensin RON 95, 98 itu kan orang-orang yang mampulah seperti mohon maaf contoh Pak Rosan, Pak Seskab masa pakai minyak subsidi ya kan? Dan selama mereka mau jalan banyak selama ada uang untuk bayar monggo tugas negara menyiapkan yang membayar mereka itu tidak ada tanggungan negara sama sekali,” tandasnya.
Dengan kondisi global yang belum stabil, keputusan terkait harga BBM subsidi kini menjadi salah satu ujian besar bagi pemerintah dalam menjaga keseimbangan antara stabilitas ekonomi dan perlindungan sosial. [*] Disarikan dari sumber berita media daring
Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.















