Beranda Umum Nasional Meski Rupiah Tembus Rp 17.001 per Dolar AS, Menkeu Purbaya Yakin Stabilitas...

Meski Rupiah Tembus Rp 17.001 per Dolar AS, Menkeu Purbaya Yakin Stabilitas Tetap Terjaga

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa | Wikipedia

JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM – Tekanan terhadap nilai tukar rupiah kembali menjadi sorotan setelah mata uang Garuda sempat menembus level psikologis Rp17.000 per dolar Amerika Serikat. Di tengah gejolak pasar global tersebut, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai Indonesia masih memiliki modal kuat untuk menjaga stabilitas ekonomi.

Purbaya menegaskan bahwa kunci utama menghadapi tekanan pasar adalah soliditas antara pemerintah dan Bank Indonesia (BI) dalam menjaga keseimbangan ekonomi.

Menurutnya, selama koordinasi berjalan baik dan kondisi fundamental ekonomi tetap terjaga, gejolak di pasar keuangan global tidak akan terlalu sulit dikendalikan.

“Kalau kompak seperti ini, enggak terlalu sulit mengendalikan gejolak pasar dunia,” kata Purbaya di Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa (10/3/2026).

Ia menjelaskan stabilitas nilai tukar tidak hanya bergantung pada intervensi pasar, tetapi juga pada kondisi ekonomi domestik secara keseluruhan. Pemerintah dan bank sentral, kata dia, perlu memastikan pertumbuhan ekonomi tetap berjalan dan likuiditas di sistem keuangan masih memadai.

Baca Juga :  Apresiasi untuk Driver, Grab Naikkan BHR 2026 hingga Rp 1,6 Juta dan Hadirkan 105 Paket Umrah

Purbaya bahkan menilai pengendalian nilai tukar rupiah bukan persoalan yang terlalu rumit jika fondasi ekonomi nasional berada dalam kondisi sehat.

“Selama fondasi ekonomi kita bagus, mengendalikan rupiah lebih gampang dibanding kalau ekonomi lagi berantakan,” ujarnya.

Sebelumnya, kurs rupiah pada perdagangan Senin (9/3/2026) sempat mengalami pelemahan cukup tajam. Mata uang Indonesia itu turun 76 poin atau sekitar 0,45 persen hingga berada di posisi Rp17.001 per dolar AS.

Pelemahan tersebut terjadi seiring meningkatnya sentimen penghindaran risiko (risk off) di pasar global. Salah satu pemicunya adalah lonjakan harga minyak mentah dunia yang menembus angka US$100 per barel.

Analis mata uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai lonjakan harga minyak memicu kekhawatiran pelaku pasar terhadap potensi tekanan ekonomi global dan kenaikan inflasi.

Baca Juga :  Sorotan Publik ke BoP Menguat, Pengamat Tegaskan RI Tak Otomatis Berpihak ke AS

“Rupiah diperkirakan melemah terhadap dolar AS oleh sentimen risk off yang memburuk dipicu kenaikan harga minyak mentah yang melewati US$ 100 per barel yang dikhawatirkan akan berdampak besar pada perekonomian global dan inflasi,” kata Lukman di Jakarta, Senin (9/3/2026). [*] Disarikan dari sumber berita media daring

 

Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.