Site icon JOGLOSEMAR NEWS

Utang Luar Negeri Indonesia Melonjak Jadi Rp 7.394 Triliun

Ilustrasi gedung Bank Indonesia | Wikipedia

JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM — Beban utang luar negeri Indonesia pada awal tahun 2026 kembali menanjak dan menembus angka ribuan triliun rupiah. Bank Indonesia mencatat total utang luar negeri (ULN) Indonesia pada Januari 2026 mencapai US$ 434,7 miliar atau setara sekitar Rp 7.394 triliun dengan asumsi kurs Rp 17.010 per dolar Amerika Serikat.

Meski mengalami kenaikan secara nominal, laju pertumbuhan utang tersebut tercatat relatif lebih lambat dibandingkan bulan sebelumnya. Secara tahunan, posisi ULN Indonesia tumbuh 1,7 persen year on year, sedikit lebih rendah dibandingkan Desember 2025 yang mencatat pertumbuhan 1,8 persen.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso, menjelaskan bahwa perkembangan utang luar negeri pada awal tahun ini terutama dipengaruhi oleh peningkatan pinjaman dari sektor publik, khususnya pemerintah.

BI mencatat posisi ULN pemerintah pada Januari 2026 mencapai US$ 216,3 miliar, dengan pertumbuhan 5,6 persen secara tahunan. Angka ini sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan pada Desember 2025 yang berada di level 5,5 persen year on year.

“Perkembangan ULN pada Januari 2026 tersebut dipengaruhi oleh penarikan pinjaman luar negeri untuk mendukung pelaksanaan program dan proyek pemerintah serta aliran masuk modal asing pada Surat Berharga Negara (SBN) internasional seiring dengan tetap terjaganya kepercayaan investor terhadap prospek perekonomian Indonesia di tengah meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global,” kata Denny dalam keterangan resmi pada Senin (16/3/2026).

Jika dilihat dari penggunaannya, utang luar negeri pemerintah sebagian besar dialokasikan untuk sejumlah sektor strategis. Di antaranya sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial yang menyerap sekitar 22 persen dari total ULN pemerintah.

Selanjutnya disusul sektor administrasi pemerintahan, pertahanan, dan jaminan sosial wajib sebesar 20,3 persen, jasa pendidikan sebesar 16,2 persen, konstruksi sekitar 11,6 persen, serta sektor transportasi dan pergudangan sebesar 8,5 persen.

BI juga mencatat bahwa struktur utang pemerintah masih didominasi oleh pinjaman jangka panjang yang mencapai 99,98 persen dari total ULN pemerintah.

Di sisi lain, utang luar negeri sektor swasta justru mengalami penurunan. Pada Januari 2026, ULN swasta tercatat sebesar US$ 193 miliar, turun dibandingkan posisi Desember 2025 yang mencapai US$ 194 miliar.

Secara tahunan, ULN swasta mengalami kontraksi 0,7 persen year on year, lebih dalam dibandingkan penurunan pada bulan sebelumnya yang tercatat 0,2 persen.

“Penurunan posisi ULN swasta tersebut dipengaruhi oleh ULN perusahaan bukan lembaga keuangan (nonfinancial corporations),” kata Denny.

Berdasarkan sektor ekonomi, utang luar negeri swasta terbesar berasal dari industri pengolahan, jasa keuangan dan asuransi, pengadaan listrik dan gas, serta pertambangan dan penggalian. Keempat sektor tersebut menyumbang sekitar 80,1 persen dari total ULN swasta.

Sama seperti sektor pemerintah, utang luar negeri swasta juga masih didominasi oleh pinjaman jangka panjang yang porsinya mencapai 76,2 persen.

Meski nilai utang terus bertambah, Bank Indonesia menilai kondisi struktur ULN Indonesia masih berada pada level yang relatif terkendali. Hal ini antara lain tercermin dari rasio utang luar negeri terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang justru mengalami penurunan.

Pada Januari 2026, rasio ULN terhadap PDB tercatat 29,6 persen, lebih rendah dibandingkan Desember 2025 yang berada di angka 29,9 persen. Selain itu, komposisi utang juga masih didominasi oleh pinjaman jangka panjang dengan porsi sekitar 85,6 persen dari total utang luar negeri Indonesia. [*] Disarikan dari sumber berita media daring

 

Exit mobile version