Site icon JOGLOSEMAR NEWS

Heboh Hilangnya Siswa SMP di Yogya Terkuak, Bukan Diculik, Tapi Mengamankan Diri

Ilustrasi orang hilang | freepik

YOGYAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM Kekhawatiran orang tua atas hilangnya seorang pelajar SMP di Kota Yogyakarta yang sempat heboh di media sosial, akhirnya terjawab.

Remaja berinisial NA (16) yang sempat dilaporkan menghilang usai diantar ke sekolah, ternyata pergi atas kehendaknya sendiri untuk mencari perlindungan dan pendampingan.

Informasi yang dihimpun menyebutkan, NA diantar orang tuanya ke sekolah sekitar pukul 06.45 WIB pada Kamis (16/4/2026). Namun tak lama setelah itu, pihak sekolah justru mengabarkan bahwa siswa tersebut sudah meninggalkan lingkungan sekolah.

“Kemudian pada jam 09.00 WIB pihak sekolah mengabari orang tuanya bahwa anak tersebut pada jam 06.57 WIV meningalkan sekolahan SMPN 12 yogyakarta dan naik mobil berwarna hitam ke arah utara,” ujar Anton Budi Susilo, Jumat (17/4/2026).

Kabar tersebut sontak memicu kepanikan keluarga. Upaya pencarian langsung dilakukan dengan melibatkan aparat kepolisian. Namun, saat dihubungi, nomor ponsel milik korban sudah tidak aktif.

Petugas kemudian melakukan penelusuran dengan memeriksa rekaman CCTV di sekitar sekolah serta menggali keterangan dari sejumlah saksi. Koordinasi juga dilakukan lintas wilayah, termasuk dengan jajaran kepolisian di Sleman.

Hasil penyelidikan akhirnya mengungkap fakta tak terduga. NA ditemukan dalam kondisi selamat dan ternyata mendatangi sebuah lembaga perlindungan perempuan dan anak untuk meminta pendampingan.

“Hasil penyelidikan dengan koordinasi pihak Polresta Sleman, Polresta Jogja dan dan unit Reskrim Polsek Jetis berhasil menemukan korban dalam keadaan sehat,” ujarnya.

Lebih lanjut dijelaskan, langkah tersebut dilakukan korban secara sadar. Bahkan, NA disebut meminta agar dirinya berada di bawah pengawasan lembaga terkait dengan pertimbangan kondisi psikologis.

“Korban sudah berhasil bertemu dengan orang tuanya atas pertimbangan psikologis korban, dari badan perlindungan anak dan perempuan (RDU) meminta kepada semua pihak dan atas permintaan korban pribadi saat ini korban berada di bawah lembaga pengawasan dan perlindungan anak DIY,” jelasnya.

Meski demikian, pihak kepolisian masih mendalami alasan di balik keputusan korban meninggalkan rumah dan sekolah.

“Motif korban meninggalkan rumah dalam penyelidikan,” pungkasnya.

Kasus itu menjadi pengingat pentingnya perhatian terhadap kondisi psikologis anak, di samping pengawasan dalam aktivitas keseharian mereka. [*] Disarikan dari sumber berita media daring

 

Exit mobile version