WONOGIRI, JOGLOSEMARNEWS.COM — Hujan lebat yang mengguyur hampir seluruh wilayah Kabupaten Wonogiri dan sekitarnya sejak Selasa (14/4/2026) pukul 22.00 WIB hingga Rabu (15/4/2026) pukul 03.00 WIB dinihari benar-benar membawa dampak serius. Bencana tanah longsor terjadi di Dusun Gembuk, Desa Bero, Kecamatan Manyaran, hingga membuat akses jalan menuju empat rumah warga tertutup total oleh material tanah.
Peristiwa ini langsung mendapat perhatian dari pihak kecamatan. Camat Manyaran Toto Tri Mulyarto melalui Kasi Tata Pemerintahan Suparso bersama staf Kamino serta Kepala Desa Bero Roh Edi Wibowo turun langsung ke lokasi untuk memastikan kondisi di lapangan sekaligus langkah penanganan cepat.
Dari hasil pantauan, longsor terjadi di tebing pekarangan milik warga bernama Riyadi (52) yang memiliki kontur cukup curam. Material tanah yang ambrol mencapai panjang sekitar 18 meter dengan tinggi kurang lebih 8 meter. Padahal sebelumnya sudah ada bangket atau talud non permanen, namun tidak mampu menahan derasnya guyuran hujan semalaman.
Situasi ini memicu aksi cepat warga. Tanpa menunggu lama, masyarakat Dusun Gembuk langsung bergerak melakukan kerja bakti. Mereka bahu-membahu membersihkan material longsoran yang menutup jalan serta menata ulang bangketan tanah agar lebih aman. Tanggul darurat juga dibuat untuk mengantisipasi aliran air hujan agar tidak langsung menghantam tebing yang rawan longsor.
Tidak hanya di satu titik, longsor juga terjadi di Dusun Daleman. Pekarangan milik Suyoto ikut terdampak dengan longsoran sepanjang 10 meter dan tinggi 4 meter yang menutup akses jalan menuju rumahnya. Meski tidak ada korban jiwa, kerugian material mulai terasa dan menjadi perhatian warga sekitar.
Perkiraan sementara, pembangunan talud permanen di lokasi Dusun Gembuk membutuhkan biaya sekitar Rp35 juta, sementara di Dusun Daleman kerugian ditaksir mencapai Rp15 juta. Angka ini menjadi tantangan tersendiri bagi warga jika tidak segera mendapat solusi penanganan yang lebih kuat dan berkelanjutan.
Pihak kecamatan melalui Suparso juga mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada menghadapi cuaca ekstrem yang tidak menentu. Potensi bencana seperti longsor bisa terjadi kapan saja, terutama di wilayah dengan kondisi tanah labil dan tebing curam seperti di Manyaran. Aris Arianto
