SOLO, JOGLOSEMARNEWS.COM – Ratusan mahasiswa memadati ruang teater kampus utama Universitas Duta Bangsa (UDB) Nusukan, Surakarta, dalam kuliah umum bertajuk Food Tech Talk, Rabu (15/4/2026).
Kegiatan yang digelar kolaborasi antara Program Studi dan Himpunan Mahasiswa Teknologi Rekayasa Pangan dan Agribisnis itu mengangkat tema “Sinergi Hulu-Hilir: Transformasi Manajemen Agribisnis Berbasis Teknologi Rekayasa untuk Kedaulatan Pangan Masa Depan.”
Dalam forum tersebut, tiga narasumber mengupas persoalan krusial sektor pangan nasional dari berbagai sudut pandang, mulai dari produksi hingga distribusi.
Praktisi UMKM, Edi Prayitno, Owner KUB Marta Tirtorejo Wonogiri, menyoroti pentingnya inovasi produk lokal. Ia mencontohkan pengolahan singkong menjadi mocaf yang mampu meningkatkan nilai ekonomi hingga puluhan kali lipat.
“Produk lokal sebenarnya punya potensi besar jika dikelola dengan inovasi dan teknologi yang tepat,” ujarnya, seperti dikutip dalam rilis ke Joglosemarnews.
Sementara itu, Prof. Harisudin menyinggung adanya paradoks di sektor pertanian Indonesia. Meski dikenal sebagai negara agraris, Indonesia dinilai masih bergantung pada impor pangan.
“Ini menjadi tantangan besar yang harus dijawab bersama, terutama oleh generasi muda,” tegasnya.
Sementara itu, dari sisi akademik dosen Agribisnis UDB, Retna Dewi Lestari, S.P., M.Si., menekankan bahwa persoalan pangan tidak hanya berhenti pada aspek produksi.
“Masalah utama justru terletak pada sistem distribusi dan pengolahan yang belum optimal,” ungkapnya.
Ia menambahkan, diperlukan pendekatan terintegrasi yang mampu menghubungkan sektor hulu hingga hilir agar tercipta sistem pangan yang kuat dan berkelanjutan.
Sedangkan ketua panitia, Bimo Sefrianto, S.P., M.Si., menjelaskan kegiatan tersebut bertujuan untuk membuka wawasan mahasiswa agar tidak hanya berorientasi sebagai pencari kerja.
“Kami ingin mahasiswa menjadi agropreneur yang mampu menciptakan peluang dan solusi di sektor pangan,” katanya.
Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa tidak lagi diposisikan sekadar sebagai peserta kuliah, melainkan calon penggerak perubahan yang mampu menjembatani petani, teknologi, dan pasar dalam satu ekosistem yang berkelanjutan.
Acara berlangsung lancar dengan antusiasme tinggi dari peserta yang aktif mengikuti diskusi hingga akhir kegiatan. [*]
