Site icon JOGLOSEMAR NEWS

Warning untuk Gunungkidul! Kematian Akibat Leptospirosis Melonjak 500 Persen

ilustrasi leptospirosis

ilustrasi leptospirosis / pixabay

GUNUNGKIDUL, JOGLOSEMARNEWS.COM – Lonjakan tajam kematian akibat penyakit yang kerap dianggap sepele menjadi sinyal bahaya serius di Gunungkidul. Dalam waktu tiga bulan pertama 2026, angka kematian akibat leptospirosis melonjak drastis hingga lima kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya.

Data dari Dinas Kesehatan setempat mencatat, hingga Maret 2026 terdapat 29 kasus leptospirosis, dengan 6 di antaranya berujung kematian. Padahal sepanjang 2025, hanya satu kasus kematian yang dilaporkan.

Kepala Dinas Kesehatan Gunungkidul, Ismono, membenarkan adanya peningkatan signifikan tersebut.
“Dilaporkan sampai bulan Maret ada 29 kasus leptospirosis di Gunungkidul dan 6 diantaranya meninggal dunia,” ujarnya saat dikonfirmasi, Selasa (7/4/2026).

Kasus kematian itu tersebar di sejumlah wilayah, yakni Playen, Semin, dan Ngawen. Dari total korban meninggal, empat di antaranya laki-laki dan dua perempuan.
“Enam orang yang meninggal itu terdiri dari empat laki-laki dan dua perempuan,” kata Ismono.

Lonjakan ini membuat otoritas kesehatan setempat meningkatkan kewaspadaan. Sejumlah langkah pencegahan terus digencarkan untuk menekan potensi penambahan kasus, terutama di wilayah rawan.

Ismono menekankan bahwa kelompok yang paling berisiko adalah masyarakat yang banyak beraktivitas di luar ruangan, khususnya petani. Lingkungan sawah dan ladang menjadi titik rawan penularan karena menjadi habitat tikus, yang membawa bakteri leptospira melalui urine.

“Tikus banyak berkembang biak di sawah, dan ada genangan dan itu berpotensi menularkan leptospirosis lewat urine,” jelasnya.

Karena itu, ia mengimbau petani untuk menggunakan alat pelindung seperti sepatu bot guna mencegah kontak langsung dengan air atau tanah yang terkontaminasi.

Leptospirosis sendiri merupakan penyakit yang masuk melalui luka terbuka pada tubuh. Gejalanya kerap menyerupai penyakit lain seperti flu atau demam berdarah, mulai dari demam tinggi, nyeri otot, hingga mual dan muntah.

Dalam perkembangannya, penyakit ini dapat memasuki fase berat yang menyerang organ vital seperti hati, ginjal, paru-paru, hingga otak jika tidak segera ditangani.

Ismono pun mengingatkan masyarakat agar tidak menunda pemeriksaan jika mengalami gejala mencurigakan, terutama setelah beraktivitas di lingkungan berisiko.

“Jika gejala ke arah leptospirosis kami minta segera ke Puskesmas, rumah sakit atau klinik terdekat agar bisa segera tertangani,” tegasnya.

Dengan tren peningkatan yang cukup tajam di awal tahun ini, kewaspadaan kolektif dinilai menjadi kunci agar kasus serupa tidak terus bertambah dan menimbulkan korban jiwa lebih banyak. [*] Disarikan dari sumber berita media daring

Exit mobile version