Site icon JOGLOSEMAR NEWS

Harga Dexlite Meroket, Siswa di Gunungkidul Pulang Tak Diantar

Ilustrasi bus sekolah | freepik

GUNUNGKIDUL, JOGLOSEMARNEWS.COM – Lonjakan harga BBM nonsubsidi jenis Dexlite mulai memukul layanan publik di Gunungkidul. Kali ini, ratusan pelajar yang selama ini mengandalkan Bus Sekolah gratis harus menerima kenyataan pahit setelah layanan antar-jemput dipangkas demi menekan biaya operasional.

Pemkab Gunungkidul melalui Dinas Perhubungan kini hanya mengoperasikan Bus Sekolah pada pagi hari untuk mengantar siswa berangkat sekolah. Sedangkan layanan penjemputan saat pulang sekolah resmi dihentikan di sebagian besar rute.

Kebijakan itu diambil setelah harga Dexlite melonjak tajam dalam waktu berdekatan. Jika sebelumnya masih berada di kisaran Rp 14.200 per liter, kini harga BBM nonsubsidi tersebut mencapai Rp 26.000 per liter.

Selama ini Bus Sekolah melayani tujuh rute utama, yakni Ponjong-Wonosari, Semanu-Wonosari, Sokoliman-Wonosari, Tanjungsari-Wonosari, Gedangsari-Wonosari, Nglipar-Wonosari, serta Semin-Wonosari.

Namun akibat membengkaknya biaya bahan bakar, operasional penuh kini hanya tersisa untuk rute Semin-Wonosari.

“Yang masih operasional penuh hanya bus sekolah rute Semin-Wonosari,” kata Kepala Bidang Angkutan dan Terminal Dinas Perhubungan Gunungkidul, Sigit Wijayanto dikutip dari Kompas.com.

Sigit menjelaskan, kenaikan harga Dexlite sebenarnya sudah mulai terasa sejak April lalu saat harga naik dari Rp 14.200 menjadi Rp 23.600 per liter. Saat itu pihaknya telah melakukan simulasi anggaran dan memperkirakan operasional bus hanya mampu bertahan hingga akhir Juni.

Namun belum sempat kondisi stabil, harga Dexlite kembali melonjak pada awal Mei hingga menyentuh Rp 26.000 per liter.

“April naik dari Rp 14.200 menjadi Rp 23.600. Kemudian pada awal Mei naik menjadi Rp 26.000 per liter,” jelasnya.

Menurut Sigit, satu unit Bus Sekolah setiap tahunnya membutuhkan anggaran sekitar Rp 392 juta. Anggaran tersebut mencakup pembelian BBM, biaya perawatan hingga pajak kendaraan.

Dengan kenaikan harga BBM saat ini, Dishub mengakui belum melakukan hitungan final terkait kebutuhan tambahan anggaran. Namun yang pasti, kondisi sekarang membuat operasional sulit dipertahankan sampai akhir tahun jika tidak ada dukungan anggaran tambahan.

“Kami belum menghitung anggaran kenaikan saat ini, dan yang pasti tidak bisa sampai akhir tahun,” katanya.

Sekretaris Dinas Perhubungan Gunungkidul, Bayu Susilo Aji menambahkan, pihaknya masih berupaya mencari solusi agar layanan bus sekolah tetap berjalan. Salah satu opsi yang tengah diperjuangkan ialah agar bus sekolah diperbolehkan menggunakan BBM subsidi.

Menurutnya, keberadaan bus sekolah selama ini cukup efektif membantu menekan angka kecelakaan pelajar.

“Yang sedang diperjuangkan, tapi kami tetap mengedepankan serta mengacu pada aturan dan ketentuan yang berlaku,” ujarnya.

Sementara itu, Wakil Ketua DPRD Gunungkidul Heri Nugroho meminta Pemkab segera mengambil langkah cepat agar layanan Bus Sekolah kembali normal. Ia menilai layanan tersebut merupakan kebutuhan penting masyarakat dan menyangkut keselamatan pelajar.

“Karena ini pelayanan publik dan sangat berdampak langsung kepada anak-anak kita, maka operasional harus seperti biasa, anggaran harus disiapkan oleh pemerintah daerah,” katanya.

Politisi Partai Golkar itu mengaku telah berkomunikasi dengan Sekda Gunungkidul agar persoalan tersebut segera ditindaklanjuti.

“Barusan saya sudah komunikasikan dengan Pak Sekda untuk segera ditindaklanjuti,” pungkasnya. [*] Disarikan dari sumber berita media daring

Exit mobile version