WONOGIRI, JOGLOSEMARNEWS.COM – Mei sampai Juni memang sering bikin suasana kampung di wilayah Jawa terasa beda. Jalan desa ramai, terop berdiri di mana-mana, suara sound cek mikrofon mulai terdengar sejak pagi, dapur hidup, ibu-ibu sibuk nyiapke bawang, bapak-bapak angkut kursi, dan grup warga mulai dipenuhi kalimat sakral: “Dinten niki pun wiwit rewang, monggo rawuh nggih.”
Nah, momen seperti inilah yang oleh banyak warga secara bercanda sering disebut Hargongnas alias Hari Jagong Nasional. Bukan hari resmi di kalender merah memang, tapi rasanya kok nyata sekali ya bos. Soalnya undangan hajatan datang bertubi-tubi tanpa aba-aba.
Mulai dari hajatan pernikahan, sunatan, mantu, tasyakuran, hingga acara keluarga lainnya, semua seperti kompak digelar di waktu yang sama. Khususnya di masyarakat Jawa, Mei dan Juni memang sering dianggap masuk musim jagong.
Menurut sejumlah warga, dalam setahun ada bulan maupun tanggal tertentu yang dianggap lebih cocok untuk menggelar hajatan. Meski semua hari sejatinya baik, sebagian masyarakat Jawa masih mempertimbangkan momen tertentu berdasarkan tradisi, hitungan, hingga keyakinan keluarga.
Salah satu yang sering dipilih adalah bulan Besar atau sesudah Idul Adha. Momen ini dianggap pas sehingga banyak keluarga akhirnya menggelar acara dalam waktu yang berdekatan.
Akibatnya? Ulem alias undangan mendadak numpuk.
Ada warga yang mengaku sudah pegang belasan undangan. Ada yang santai bilang dapat 10 ulem, lalu disahut teman wedangan, “Lha aku wes 13.” Belum selesai, dari pojokan ada yang ikut nimbrung, “Aku 15 iki, dompet wes mlayu dhisik.”
Obrolan seperti itu justru jadi hiburan tersendiri di warung kopi dan angkringan. Adu banyaknya ulem kadang malah mirip adu skor.
• “Aku wis entuk 10 ulem”
✓ “Lha aku 13”
• “15 bos, iki durung RT sebelah”
✓ “Iki durung tetangga sak dusun loh…”
Padahal yang bikin deg-degan bukan cuma jumlah undangannya. Tapi “paket lengkap” yang menyertainya.
Kalau jagong beda desa atau beda daerah biasanya cukup menyiapkan uang sumbangan sesuai kemampuan. Namun ceritanya bisa beda kalau yang punya hajat masih satu dusun atau tetangga dekat.
Karena selain uang, sering kali juga ikut membantu tenaga, waktu, bahkan membawa sembako untuk mendukung kelancaran acara. Belum lagi ikut persiapan dari awal sampai selesai.
Mulai pasang terop, angkat kursi, bantu parkir, cuci piring, jaga dapur, sampai tugas yang kadang muncul mendadak: “Mas tolong beli es batu sekalian.”
Jadi kalau dihitung-hitung, jagong tetangga dekat bukan sekadar hadir lalu pulang bawa berkat. Ada tenaga, waktu, kebersamaan, dan tentu saja isi dompet yang ikut berpartisipasi.
Untuk nominal sumbangan sendiri memang tidak ada patokan pasti. Semua kembali pada kemampuan masing-masing. Namun di banyak tempat, nominal minimal yang sering dibicarakan warga kini sekitar Rp50 ribu per acara.
Nah, coba dihitung pelan-pelan.
Kalau dapat 10 undangan saja dengan rata-rata Rp50 ribu, sudah Rp500 ribu. Itu belum bensin, belum jajan anak, belum kalau sehari ada dua lokasi hajatan.
Dan tantangan belum selesai.
Karena setelah musim jagong, sebentar lagi masuk tahun ajaran baru. Pengeluaran lain sudah antre menunggu. Mulai biaya sekolah, alat tulis, seragam, uang kuliah, kebutuhan kos, sampai perlengkapan anak yang daftar sekolah.
Makanya tak heran kalau Hargongnas ini sering jadi bahan candaan warga. Di satu sisi capek dan bikin dompet siaga, tapi di sisi lain justru jadi momen mempererat silaturahmi.
Karena bagaimanapun, jagong bukan cuma soal amplop. Tapi juga tentang hadir, menyapa, ketemu saudara lama, ketawa bareng tetangga, dan pulang sambil bawa cerita.
Nah sekarang pertanyaannya tinggal satu bos…
Sudah dapat ulem berapa? 5? 10? Atau sudah masuk liga elite 15 undangan? Kelkelkel… Aris Arianto
