Site icon JOGLOSEMAR NEWS

Momentum Idul Adha, Keraton Solo Kembali Terbelah! Grebeg Besar Bakal Digelar Sendiri-sendiri

GKR Panembahan Timoer Rumbay memberikan keterangan kepada awak media di kawasan Talang Paten, Keraton Kasunanan Surakarta, Selasa (19/5/2026), terkait pelaksanaan Grebeg Besar Idul Adha 2026 di lingkungan Keraton Solo | Ando

SOLO, JOGLOSEMARNEWS.COM – Polemik internal Keraton Kasunanan Surakarta kembali mencuat menjelang perayaan Idul Adha 2026. Tahun ini, Grebeg Besar Idul Adha dipastikan kembali digelar dua kali oleh dua kubu berbeda di internal Keraton Solo.

Kubu PB XIV Purbaya dijadwalkan menggelar Grebeg Besar pada Rabu (27/5/2026). Prosesi tersebut disebut tetap berjalan sebagaimana tradisi keraton selama ini, yakni dengan arak-arakan gunungan menuju Masjid Agung untuk didoakan sebelum dibagikan kepada masyarakat.

“Kalau kegiatannya seperti biasa nggih. Kalau di keraton ada grebeg itu seperti biasa gunungan. Kemudian dibawa ke masjid besar didoakan baru kemudian dibagikan,” ujar GKR Panembahan Timoer Rumbay saat ditemui di Talang Paten Keraton Kasunanan Surakarta, Selasa (19/5/2026).

Rumbay menegaskan, penentuan tanggal pelaksanaan telah didasarkan pada perhitungan penanggalan Jawa dan kalender keraton. Ia membantah jika penetapan tanggal tersebut berkaitan dengan rencana Grebeg Besar yang juga akan digelar kubu KGPH Panembahan Agung Tedjowulan.

“Oh, Gusti Tedjo mau buat,” ucapnya singkat.

Ia kemudian menegaskan bahwa tradisi Grebeg, Gunungan hingga Suro merupakan dhawuh dalem atau titah raja yang dijalankan secara turun-temurun di lingkungan keraton. Karena itu, menurutnya, penyelenggaraan Grebeg Besar seharusnya berada di bawah otoritas raja.

“Acara-acara Grebeg, Gunungan, Suro, itu adalah acara keraton yang merupakan dhawuh dalem. Nah dhawuh dalem itu dari Raja. Makanya saya malah bingung kalau Gusti Tedjo bikin itu terus rajane sopo? Kan Gusti Tedjo bukan Raja,” tegasnya.

Saat disinggung mengenai ajakan Tedjowulan agar Grebeg Besar cukup digelar satu kali demi menghindari perpecahan, Rumbay justru mempersilakan pihak Tedjowulan bergabung dengan prosesi yang digelar kubu PB XIV Purbaya.

“Ya bagus, monggo silakan bergabung bersama kita. Kan kalau kita ada rajanya sudah,” katanya.

Rumbay juga menyinggung soal Surat Keputusan (SK) yang diterima Tedjowulan terkait revitalisasi Keraton Surakarta. Menurutnya, SK tersebut hanya berkaitan dengan pengelolaan revitalisasi dan pelestarian budaya, bukan menyangkut suksesi kepemimpinan keraton.

“Kalau masalah beliau mendapatkan SK, itu kan untuk revitalisasi dan pelestarian budaya. Tidak menyinggung masalah suksesi. Bahkan menterinya pun waktu di DPR juga mengatakan bahwa SK itu tidak mencampuri suksesi,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa di kubu PB XIV Purbaya, persoalan suksesi dianggap telah selesai karena raja telah jumeneng atau bertakhta.

Rumbay juga menepis anggapan bahwa dirinya bersikap jumawa dalam menyikapi konflik internal keraton. Ia mengaku hanya menjalankan titah dari Raja Paku Buwono XIII serta memegang teguh paugeran atau aturan adat yang diwariskan secara turun-temurun.

“Saya ini hanya menjalankan titah Raja Paku Buwono XIII dan apa yang saya tahu dari aturan adat atau paugeran yang turun-temurun sejak dulu. Jadi kalau dibilang jumawa, saya hanya menjalankan apa yang saya tahu,” pungkasnya.

Sebelumnya, Pelaksana Pelindungan, Pengembangan, dan Pemanfaatan Keraton Solo, KGPH Panembahan Agung Tedjowulan, mengeluarkan instruksi agar seluruh keluarga besar Keraton Surakarta tidak lagi menggelar Grebeg Besar secara terpisah.

Melalui juru bicaranya, Kanjeng Pakoenegoro, Tedjowulan meminta agar ego personal maupun kelompok dikesampingkan demi menjaga kekhidmatan tradisi keraton.

“Gusti Tedjowulan memberikan arahan agar jangan lagi menonjolkan ego personal maupun kelompok. Jangan mengadakan Grebeg Besar Idul Adha sendiri-sendiri,” ujar Kanjeng Pakoenegoro dalam keterangan tertulis yang diterima pada Rabu (13/5/2026).

Ia juga meminta agar tidak ada lagi gesekan di internal Keraton Surakarta dan mengajak seluruh keluarga besar keraton untuk bersatu.

Dalam rapat persiapan Grebeg Besar 2026, Tedjowulan turut mengundang Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) GKR Wandansari atau Gusti Moeng, unsur TNI-Polri, Camat Pasar Kliwon hingga pemangku wilayah terkait.

Terkait waktu pelaksanaan, kubu Tedjowulan masih menunggu penetapan resmi Idul Adha dari pemerintah pusat. Namun, mereka berencana menggelar Grebeg Besar pada hari kedua Idul Adha. [Ando]

 

Exit mobile version