YOGYAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM – Pagelaran Musik Orkestra dan Sastra (MORSA) 2026 tak hanya menawarkan pertunjukan seni lintas disiplin, tetapi juga mengusung misi besar membangun ekosistem seni dan budaya yang berkelanjutan.
Melalui panggung kolaboratif yang mempertemukan berbagai cabang kesenian, MORSA diharapkan mampu menjadi pemantik lahirnya industri kreatif yang dapat menghidupi para pelaku seni.
Hal itu disampaikan produser sekaligus penggagas MORSA, Joko Pranoto, dalam konferensi pers bersama tim penyelenggara di Tarumartani Yogyakarta, Jumat (29/5/2026).
Menurut Joko, selama ini seni dan sastra masih sering dipandang sebagai aktivitas yang tidak menjanjikan secara ekonomi. Karena itu, MORSA hadir untuk mendorong lahirnya ekosistem kesenian yang lebih sehat dan berkelanjutan melalui pertunjukan berbayar yang memberikan nilai ekonomi bagi para pelakunya.
“MORSA adalah pemantik kegiatan. Kami ingin menumbuhkan ekosistem berkesenian dan budaya yang terus berlanjut menjadi sebuah industri. Menjadi produk yang bisa dijual. Tradisi menonton gratis perlahan kita kikis. Kita ingin seni menjadi industri melalui pertunjukan berbayar. Sastrawan tidak boleh miskin. Berkesenian harus mampu menghidupi seniman dan keluarga,” tegasnya.
MORSA 2026 yang dipersembahkan Pagar Betis Nusantara akan digelar pada 23 Juni 2026 di Purawisata Amphitheater Yogyakarta. Acara tersebut mengusung tajuk Gelar Seni Budaya Indonesia sekaligus menjadi momentum peluncuran dua buku kumpulan puisi karya Joko Pranoto berjudul Yang Kutitipkan Kepada Langit dan Negeri Retak.
Perhelatan ini mendapat dukungan dari berbagai pihak. Rina Puspa dari Bidang Pengembangan Ekonomi Kreatif Dinas Pariwisata DIY menyatakan dukungannya terutama dalam aspek promosi dan sosialisasi agar kegiatan seni mampu menjangkau kalangan generasi muda yang selama ini belum akrab dengan dunia kesenian.
Partisipasi juga datang dari berbagai komunitas budaya, termasuk keluarga besar Sulawesi, Minang, dan Batak yang akan ikut meramaikan acara. Kelompok musik Gondang Beta Hita dijadwalkan tampil membawa warna khas musik Sumatera Utara dalam panggung kolaboratif tersebut.
Joko menjelaskan, MORSA sengaja dirancang sebagai ruang pertemuan berbagai “sekte kesenian” dalam satu panggung. Penonton akan disuguhi beragam pertunjukan mulai dari orkestra musik, teater, monolog, pembacaan puisi, musikalisasi puisi, video visual hingga shalawat reggae.
“Kami ingin menunjukkan bahwa beragam kesenian bisa bersatu dalam satu panggung. Kolaborasi seperti ini bermanfaat untuk memicu semangat berkesenian. MORSA tidak menjadi pembanding, tetapi pemicu semangat bagi semua seniman,” ujarnya, seperti dikutip dalam rilisnya ke Joglosemarnews.
Sejumlah seniman dan budayawan nasional dijadwalkan tampil dalam acara tersebut. Mereka antara lain Clara Sinta Rendra, Jose Rizal Manua, Alvin Bin Adam, EB Magor, Khalonk Rahmanhia, Romy Sastra, Lis Limbuk, Kubis Bagonk, serta Orkestra ISI Yogyakarta.
Selain itu, penonton juga akan menyaksikan monolog dan pembacaan puisi oleh Sutardji Calzoum Bachri, penampilan kidung oleh Nyai Dewi B. Dersonolo dari Solo, Angklung Malioboro, serta berbagai kolaborasi seni lainnya yang diiringi orkestra.
MORSA juga menghadirkan unsur akademik melalui orasi ilmiah yang akan disampaikan Ketua Dewan Guru Besar UGM Prof. Dr. M. Baiquni, M.A., dan Guru Besar ISI Yogyakarta Prof. Dr. Yudiaryani, M.A.
Gaung acara ini bahkan telah menarik perhatian pemerintah pusat. Joko mengungkapkan bahwa tim MORSA telah bertemu Menteri Kebudayaan Fadli Zon pada 25 Mei lalu. Dalam pertemuan tersebut, Fadli disebut menyambut positif penyelenggaraan MORSA dan berencana menghadiri acara tersebut.
Sementara itu, desainer produksi MORSA, Mahmoud El Qodrian, menegaskan bahwa kegiatan ini berupaya merekonstruksi seni sebagai industri yang tetap menjaga idealisme dan martabat para pelakunya.
“Kita ingin menunjukkan bagaimana seni bisa menghidupi ekosistem dan keluarga para pelaku seni. MORSA akan merekonstruksi seni menjadi industri yang menghidupi tanpa menghilangkan idealisme. Tetap bermartabat. Yogyakarta adalah barometer seni Indonesia,” katanya.
Sebagai bentuk apresiasi kepada penonton, panitia menyediakan tiket VIP yang dilengkapi merchandise berupa buku karya Joko Pranoto dan goodie bag. Sementara pemegang tiket Premium akan mendapatkan buku karya Joko Pranoto.
Menariknya, seluruh penonton juga berkesempatan mengikuti lomba esai mengenai kesan terhadap pertunjukan MORSA. Panitia menyiapkan hadiah uang tunai Rp2 juta untuk juara pertama, Rp1,5 juta untuk juara kedua, dan Rp1 juta untuk juara ketiga.
Ke depan, MORSA tidak hanya akan digelar di Yogyakarta. Penyelenggara berencana membawa panggung kolaboratif tersebut ke berbagai daerah di Indonesia sebagai bagian dari gerakan kebudayaan yang lebih luas dan berkelanjutan. [*]
