YOGYAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM – Wacana Presiden Prabowo Subianto yang menginginkan bahasa Perancis diajarkan di seluruh jenjang pendidikan di Indonesia mulai menuai beragam tanggapan. Di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), kalangan guru menyambut positif gagasan tersebut, namun meminta agar penerapannya dilakukan secara realistis dan tidak menjadi kewajiban bagi seluruh sekolah.
Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) DIY menilai pengajaran bahasa Perancis dapat menjadi nilai tambah bagi peserta didik dalam menghadapi perkembangan global. Namun, keterbatasan tenaga pendidik dan belum meratanya sumber daya sekolah menjadi faktor yang perlu dipertimbangkan pemerintah sebelum kebijakan itu diterapkan secara luas.
Ketua PGRI DIY, Didik Wardaya, mengatakan pihaknya masih menunggu regulasi resmi dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah terkait arah kebijakan tersebut. Menurutnya, pengajaran bahasa Perancis lebih tepat diterapkan sebagai mata pelajaran pilihan, khususnya di tingkat SMA dan SMK.
“Ya, kita tunggu regulasi dari Kemdikdasmen. Tapi saya kira untuk jenjang SMA/SMK ada baiknya. Tapi belum bersifat wajib, tapi pilihan mengingat SDM (sumber daya manusia). Ya, tentunya jurusan bahasa Perancis pada beberapa SMA sudah ada, belum merata,” kata Didik.
Ia menjelaskan, sejumlah sekolah di DIY sebenarnya telah mengenalkan bahasa Perancis kepada siswa. Namun keberadaannya masih terbatas dan belum didukung ketersediaan guru secara merata di seluruh daerah.
Selain menyoroti aspek kesiapan sumber daya manusia, PGRI DIY juga mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara penguasaan bahasa asing dan pelestarian bahasa daerah.
Didik menegaskan bahwa bahasa Jawa tetap memiliki posisi strategis dalam sistem pendidikan di Yogyakarta. Karena itu, upaya memperluas pengajaran bahasa asing tidak boleh mengorbankan keberlangsungan bahasa dan budaya lokal.
“Untuk bahasa Jawa merupakan mulok (muatan lokal) wajib di DIY untuk menghindari kepunahan dan jangan sampai tercerabut dari akar budaya sendiri,” tegasnya.
Pandangan tersebut muncul setelah Presiden Prabowo menyampaikan keinginannya agar bahasa Perancis dipelajari oleh para siswa Indonesia. Pernyataan itu disampaikan saat kunjungan kenegaraan ke Istana Elysee, Paris, Perancis, Kamis (28/5/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Prabowo menekankan pentingnya memperkuat hubungan Indonesia dan Perancis di berbagai bidang, mulai dari pendidikan, sains, teknologi hingga kerja sama internasional dalam menjaga stabilitas dunia.
Sebagai bagian dari penguatan hubungan kedua negara, Prabowo secara khusus mendorong pengajaran bahasa Perancis di lingkungan pendidikan nasional.
“Saya sudah instruksikan agar semua tingkatan sekolah di Indonesia harus belajar bahasa Perancis, melihat perkembangan dunia ke depan,” kata Prabowo dalam pidatonya yang disiarkan melalui kanal YouTube Sekretariat Presiden.
Wacana penambahan bahasa asing di sekolah bukan kali pertama disampaikan Presiden Prabowo. Sebelumnya, saat menerima kunjungan Presiden Brasil Luiz Inácio Lula da Silva pada Oktober 2025, Prabowo juga mengungkapkan rencana menjadikan bahasa Portugis sebagai salah satu bahasa prioritas dalam dunia pendidikan Indonesia.
Kala itu, Prabowo menyebut kebijakan tersebut sebagai bentuk penghormatan sekaligus penguatan hubungan strategis Indonesia dengan Brasil.
“Sebagai bukti bahwa kami memandang Brasil sangat penting, saya telah memutuskan bahwa bahasa Portugis akan menjadi salah satu prioritas bahasa disiplin pendidikan Indonesia,” ujarnya.
Meski demikian, kalangan pendidikan di daerah berharap setiap kebijakan penambahan mata pelajaran bahasa asing disertai kajian matang, mulai dari kesiapan kurikulum, ketersediaan tenaga pengajar, hingga dampaknya terhadap pelestarian bahasa dan budaya lokal yang selama ini menjadi identitas bangsa. [*] Disarikan dari sumber berita media daring
