Site icon JOGLOSEMAR NEWS

Rupiah Tertekan Dolar, Prabowo Santai: Warga Desa Tak Pakai Mata Uang Asing

Presiden Prabowo Subianto | Instagram

JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM Di tengah tekanan nilai tukar rupiah yang menyentuh level tertinggi sejak krisis moneter 1998, Presiden Prabowo Subianto justru menanggapi situasi tersebut dengan nada santai dan penuh guyonan.

Saat menghadiri kegiatan di Desa Tingul, Nganjuk, Jawa Timur, Sabtu (16/5/2026), Prabowo mengatakan masyarakat tidak perlu terlalu cemas selama Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa masih terlihat tenang.

“Purbaya sekarang populer banget. Selama Purbaya bisa senyum, tenang aja enggak usah kalian khawatir itu. Mau dolar berapa ribu kek, kan kalian di desa-desa nggak pakai dolar,” ujar Prabowo seperti disiarkan Sekretariat Presiden.

Dalam pidatonya, Prabowo juga melontarkan sejumlah candaan terkait pelemahan rupiah terhadap dolar AS. Menurutnya, pihak yang paling merasakan dampak kurs dolar tinggi adalah kalangan yang kerap bepergian ke luar negeri.

Ia kemudian menyebut beberapa nama pejabat dan pengusaha yang hadir dalam acara tersebut, di antaranya Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Hariyadi atau Titiek Soeharto, Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono, Kepala BPI Danantara Rosan Roeslani hingga Ketua Kadin Indonesia Anindya Bakrie.

“Yang pusing yang suka ke luar negeri. Ayo siapa ini? Mbak Titiek ini pusing ini. Menteri tapi pengusaha, coba kucek. Trenggono? Ada? Sudah enggak ke luar negeri, oh kau ke pulau-pulau,” kata Prabowo disambut tawa hadirin.

Ia juga berseloroh kepada Rosan dan Anindya Bakrie.

“Rosan? Tapi enggak, dia sudah botak. Lu duduk aja. Anin, lu pusing boleh, lu pengusaha, lu Kadin,” ucapnya.

Prabowo menegaskan masyarakat desa tidak perlu panik menghadapi gejolak kurs dolar karena aktivitas ekonomi sehari-hari tidak menggunakan mata uang asing. Menurutnya, kondisi Indonesia masih relatif aman dibanding sejumlah negara lain, terutama dalam sektor pangan dan energi.

“Rupiah begini, dolar begitu. Orang rakyat di desa enggak pakai dolar kok, iya kan?” ujarnya.

Meski demikian, pelemahan rupiah belakangan menjadi sorotan serius di kalangan pelaku pasar dan ekonom. Pada perdagangan Jumat (15/5/2026), rupiah sempat menyentuh level Rp 17.600 per dolar AS, posisi terlemah sejak krisis Asia 1997-1998.

Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, bahkan memperingatkan potensi pelemahan lanjutan jika tekanan eksternal terus meningkat.

“Kalau seandainya tembus Rp 18.000 di bulan Mei ini, ada kemungkinan besar rupiah itu akan menembus level Rp 22.000,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Jumat (15/5/2026).

Menurut Ibrahim, tekanan terhadap rupiah dipicu kombinasi faktor eksternal dan domestik. Dari luar negeri, penguatan dolar AS terjadi karena bank sentral Amerika Serikat atau The Federal Reserve diperkirakan belum akan memangkas suku bunga sepanjang 2026 akibat inflasi yang masih tinggi.

Selain itu, meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah juga ikut menekan pasar keuangan global, terutama saat Indonesia memasuki masa libur panjang sehingga ruang intervensi Bank Indonesia menjadi terbatas.

Sementara dari dalam negeri, pelemahan rupiah dinilai berpotensi memperbesar tekanan terhadap APBN, terutama akibat naiknya beban subsidi energi dan impor migas. [*] Disarikan dari sumber berita media daring

 

Exit mobile version