WONOGIRI, JOGLOSEMARNEWS.COM — Semangat peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-285 Kabupaten Wonogiri terasa begitu hidup di SDN 1 Pokoh Kidul, Selasa (19/5/2026). Seluruh siswa dan guru larut dalam rangkaian kegiatan edukatif dan hiburan yang bukan hanya meriah, tetapi juga sarat muatan sejarah dan budaya lokal.
Perayaan dimulai sejak pagi melalui apel peringatan Hari Jadi Kabupaten Wonogiri. Suasana halaman sekolah berubah penuh semangat saat para siswa bersama-sama menyanyikan lagu Rukun Sama Teman serta lagu daerah Gundul-Gundul Pacul. Kebersamaan dan antusiasme terlihat dari seluruh peserta yang mengikuti kegiatan hingga akhir.
Selepas apel, kegiatan berlanjut dengan pentas seni yang menampilkan beragam kreativitas siswa. Penampilan demi penampilan dari anak-anak berhasil mencuri perhatian, mulai dari pertunjukan seni hingga ekspresi budaya yang menumbuhkan rasa percaya diri sekaligus kecintaan terhadap warisan daerah.
Namun, yang paling menyita perhatian adalah sesi edukasi sejarah Kabupaten Wonogiri. Wali Kelas VI B SDN 1 Pokoh Kidul, Tri Hartanti, membacakan kisah panjang asal-usul Wonogiri di hadapan para siswa. Siapa pun yang mampu menjawab pertanyaan sejarah mendapatkan hadiah langsung dari guru.
Tri mengungkapkan bahwa sejarah Wonogiri tidak bisa dilepaskan dari sosok besar Raden Mas Said atau Pangeran Sambernyawa, tokoh yang menjadi pendiri Wonogiri sekaligus pejuang yang menentang ketidakadilan pada masa Kerajaan Mataram Kartasura.
“Nama Wonogiri berasal dari bahasa Jawa, yaitu wana yang berarti hutan atau alas dan giri yang berarti gunung. Kondisi wilayah yang berbukit dan berhutan ini menyimpan sejarah panjang yang menjadi cikal bakal berdirinya kabupaten ini,” jelas Tri.
Kabupaten Wonogiri yang kini dikenal sebagai wilayah terluas kedua di Jawa Tengah ternyata berawal dari sebuah pemerintahan kecil di Dusun Nglaroh, Kecamatan Selogiri.
Sejarah mencatat, Raden Mas Said lahir di Kartasura pada Minggu Legi, 4 Ruwah 1650 Tahun Jimakir, Windu Adi, Wuku Wariagung atau bertepatan dengan 8 April 1725 Masehi. Ia merupakan putra Kanjeng Pangeran Aryo Mangkunegoro dan Raden Ayu Wulan yang wafat saat melahirkannya.
Masa kecil RM Said dihabiskan bersama anak-anak para abdi dalem sehingga membuatnya dekat dengan kehidupan rakyat kecil atau kawula alit. Ia juga memiliki garis keturunan Nglaroh melalui neneknya, Mas Sumarsono, istri PB II yang berasal dari wilayah tersebut.
Pada usia 13 tahun, RM Said memperoleh jabatan Manteri Anom dengan gelar RM Suryokusumo. Namun perlakuan itu dianggap tidak sesuai karena dirinya seharusnya menyandang status Pangeran Sentana. Kekecewaan semakin besar karena ia melihat Keraton Kartasura terlalu tunduk terhadap Belanda.
Puncaknya terjadi pada Rabu Kliwon, 3 Rabiulawal Tahun Jawa 1666 atau 19 Mei 1741 Masehi. Pada hari itu, RM Said bersama neneknya BRA Kusumonarso serta para pengikut meninggalkan Keraton Kartasura menuju Dusun Nglaroh, Wonogiri.
Sesampainya di Nglaroh, mereka langsung membangun pusat pemerintahan kecil lengkap dengan perangkatnya.
Susunan awal pemerintahan tersebut meliputi:
🟢 RM Sutowijoyo sebagai senopati
🟢 Ki Wirodiwongso sebagai patih
🟢 22 prajurit sebagai pasukan awal perjuangan
Di tempat inilah lahir pemerintahan yang kemudian menjadi tonggak sejarah berdirinya Kabupaten Wonogiri.
Perjuangan RM Said juga melahirkan ikrar legendaris yang dikenal sebagai Pamoring Kawulo Gusti atau Kawulo Gusti, pengikat batin antara pemimpin dan rakyat.
Ikrar itu berbunyi:
“Tiji tibeh, mati siji mati kabeh, mukti siji mukti kabeh.”
Maknanya adalah senasib sepenanggungan, berjaya bersama dan berjuang bersama.
Selain itu, terdapat pula ajaran Tri Dharma:
• Rumongso Melu Handarbeni
• Wajib Melu Hangrungkebi
• Mulat Sariro Hangroso Wani
Pasukan inti RM Said kemudian berkembang menjadi kekuatan tempur yang dikenal sebagai Punggowo Baku Kawandoso Joyo.
Pemerintahan kecil di Nglaroh resmi dimulai pada Rabu Kliwon, 3 Rabiul Awal Tahun 1666 dengan candra sengkala “Roso Retu Ngoyag Jagad” yang bertepatan dengan 19 Mei 1741 M serta surya sengkala “Kahutaman Sumbering Giri Linuwih.”
Tanggal itulah yang kemudian ditetapkan sebagai hari lahir Kabupaten Wonogiri.
Bagian penting lain dari sejarah tersebut adalah keberadaan Watu Gilang di Nglaroh. Batu kecil itu dahulu digunakan Pangeran Sambernyawa untuk menyusun strategi perang sekaligus mengatur jalannya pemerintahan. Kini Watu Gilang telah menjadi monumen sejarah yang mengingatkan jejak awal lahirnya Wonogiri.
Tri menegaskan bahwa Wonogiri berdiri dari basis perjuangan Raden Mas Said melawan VOC dan Dusun Nglaroh menjadi lokasi pemerintahan pertama yang dibangun tokoh tersebut.
Sementara itu, Kepala SDN 1 Pokoh Kidul, Sigit Ari Wibowo, mengatakan peringatan HUT Ke-285 Kabupaten Wonogiri tahun ini mengusung tema “Manunggal Sedyo.”
Ia berharap semangat persatuan terus tertanam pada peserta didik.
“Melalui momentum Hari Jadi Wonogiri ini, kami berharap siswa-siswi memiliki semangat kebersamaan, saling mendukung, dan terus menjaga budaya serta sejarah daerah,” ungkapnya.
Rangkaian kegiatan berlangsung meriah hingga selesai. Antusiasme siswa terlihat sepanjang acara, mulai dari apel, pentas seni, hingga sesi sejarah yang membuat generasi muda kembali mengenal akar panjang lahirnya Kabupaten Wonogiri. Aris Arianto
