
SOLO, JOGLOSEMARNEWS.COM — Pemerintah pusat dan daerah tidak jalan sendiri-sendiri dalam mengaplikasikan program prioritas nasional. Hal itu mengemuka dalam Rapat Koordinasi Regional Monitoring dan Evaluasi Pelaksanaan Program Direktif Presiden bersama Komisi II DPR RI di Solo, Jumat (5/6/2026).
Kepala Badan Strategi Kebijakan Dalam Negeri (BSKDN) Kemendagri RI Yusharto Huntoyungo mengatakan program direktif presiden mengakomodasi isu mendasar dan langsung bersentuhan dengan masyarakat. Program direktif tersebut, yakni pertumbuhan ekonomi, makan bergizi gratis (MBG), penghapusan kemiskinan ekstrem, pengendalian inflasi daerah, percepatan penurunan stunting, swasembada pangan, sekolah rakyat, pemeriksaan kesehatan gratis, pembangunan tiga juta rumah, sekolah garuda, dan koperasi merah putih.
“Pelaksanaan program nasional di daerah tidak bisa berlangsung seragam. Setiap daerah memiliki tantangan dan kapasitas yang berbeda, sehingga membutuhkan pendekatan yang adaptif,” bebernya.
Yusharto menambahkan, melalui rakor kali ini membahas tantangan implementasi kebijakan pusat di daerah. Hal itu termasuk dilakukan untuk koordinasi antarinstansi, dukungan sumber daya, kualitas data, dan efektivitas komunikasi kebijakan antara pemerintah pusat dan daerah.
“Monitoring dan evaluasi yang terintegrasi menjadi instrumen penting untuk memastikan kebijakan strategis nasional dapat berjalan optimal, tepat sasaran, dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat,” imbuhnya.
Sementara itu, Wakil Ketua Komisi II DPR RI Aria Bima mengatakan implementasi kebijakan pemerintah pusat harus benar-benar realistis dalam melibatkan mitra kerja di daerah. Aria berharap kebijakan tidak hanya menjadi narasi subjektivitas pusat dan tidak ada konvergensi dengan daerah.
“Bagaimana sebenarnya dua tahun pemerintahan Pak Prabowo mengkonstruksikan kebijakan di daerah itu, seperti apa dalam konteks bukan hanya kebijakan dan program tapi juga pelaksanaan program itu sendiri. Apakah bisa digeneralisasikan dengan 514 kota/kabupaten se-Indonesia, atau ada karakteristik yang membedakan keberagamannya,” tukasnya. Prihatsari
Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.














