Site icon JOGLOSEMAR NEWS

Diancam Bakal Dilaporkan Polisi, Jumlah Baliho PB XIV Mangkubumi Malah Merebak di 60 Titik di Jateng dan Jatim!

Baliho bergambar SISKS Pakubuwono XIV Mangkubumi terpasang di kawasan Bundaran Baron, Solo, Jumat (5/6/2026). Pemasangan baliho tersebut muncul di tengah memanasnya polemik suksesi Keraton Surakarta, bahkan dilakukan setelah kubu Pakubuwono XIV Purboyo menyatakan akan menempuh jalur hukum terkait penggunaan gelar dan atribut keraton | Foto: Ando

SOLO, JOGLOSEMARNEWS.COM Ancaman kubu Pakubuwono XIV Purboyo yang akan melaporkan pemasangan baliho Pakubuwono XIV Mangkubumi ke polisi, bukannya membuat hati kecut.

Justru sebaliknya, ancaman itu bak sebuah tantangan yang disambut dengan dada tegak. Usai ancaman itu dilontarkan, jumlah titik pemasangan baliho Pakubuwono XIV Mangkubumi justru bertambah di penjuru Kota Solo.

Dari pantauan di lapangan, sejak Jumat (5/6/2026) pagi tampak baliho Pakubuwono XIV Mangkubumi berukuran besar telah terpasang di lampu merah Bundaran Baron.

Dalam baliho tersebut terpajang foto Paku Buwono XIV Mangkubumi mengenakan pakaian kebesaran Raja Keraton Surakarta. Di samping foto itu tertulis gelar lengkap Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kangjeng Susuhunan (SISKS) Paku Buwono XIV Karaton Surakarta Hadiningrat.

Sementara pada sisi lainnya tertera kalimat “Sura Dira Jayaningrat Lebur Dening Pangastuti”, sebuah petuah Jawa yang bermakna bahwa segala sifat angkara murka dan kekuatan yang mengandalkan kekerasan pada akhirnya akan luluh oleh kebijaksanaan, kesabaran, dan kelembutan hati.

Ketua Eksekutif Lembaga Dewan Adat (LDA), KPH Edy Wirabhumi, mengungkapkan bahwa pemasangan baliho tersebut bukan hanya terjadi di Kota Solo. Menurutnya, sejumlah komunitas abdi dalem dan pendukung di berbagai daerah justru berinisiatif memasang baliho secara mandiri sebagai bentuk dukungan terhadap perjuangan yang mereka yakini.

“Mereka berinisiatif dari daerah-daerah itu. Mereka merasa jadi bagian dari keluarga besar yang turut berjuang. Jadi dari berbagai wilayah malah ada yang sudah mulai masang duluan. Misalnya Kudus, Demak itu sudah mulai masang,” ungkapnya.

Ia menyebut, hingga saat ini pemasangan baliho telah menjangkau hampir 60 titik yang tersebar di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Adapun untuk Kota Solo, proses pemasangan di sejumlah titik lainnya masih terus berjalan.

Menurut Edy, dukungan tersebut tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan merupakan buah dari keterlibatan para pendukung dalam proses panjang yang disebut telah berlangsung sejak 2004.

“Jadi mereka merasakan proses dari awal bagaimana berjuang mempertahankan adat dan tradisi budaya itu. Bahkan spirit mereka itu terbangun sejak tahun 2004. Jadi bukan tiba-tiba sekarang ini. Mereka merasa bagian dari elemen yang berjuang di dalam garis adat dan tradisi. Sehingga bagi mereka ya ini tanggung jawab bersama-sama untuk mempertahankan,” katanya.

Ia menjelaskan, baliho-baliho tersebut telah terpasang di sejumlah daerah seperti Ngawi, Boyolali, Madiun, Grobogan, Sragen, Ponorogo, Demak, Pacitan, Nganjuk, Malang Raya, Jepara, Magelang, Trenggalek, Karanganyar, Klaten hingga Magetan.

Menurut Edy, pemasangan baliho merupakan bagian dari upaya sosialisasi atas proses yang saat ini tengah berjalan di lingkungan Keraton Surakarta.

“Ini itu bagian dari sosialisasi proses yang sedang berjalan. Seperti keterangan saya yang sebelumnya. Ini berlaku sebetulnya ke dalam dan ke luar secara soft,” ujarnya.

Menanggapi ancaman pelaporan yang sebelumnya disampaikan pihak Pakubuwono XIV Purboyo dengan alasan dugaan pembohongan publik atau penyebaran informasi yang dianggap tidak benar, Edy mengaku tidak mempermasalahkannya.

“Baguslah coba nanti dibuktikan. Katanya mau menempuh proses hukum. Supaya nanti lebih jelas siapa yang sebenarnya duduk menempatkan diri pada posisinya dan siapa yang sebenarnya tidak pada posisi,” tandasnya.

Di sisi lain, KGPH Panembahan Agung Tedjowulan melalui juru bicaranya, Kangjeng Pakoenegoro, mengungkapkan bahwa sebenarnya pernah muncul gagasan agar materi baliho lebih banyak berisi dokumentasi kegiatan dan program revitalisasi keraton.

“Justru beliau malah, Gusti Tedjowulan sempat ngendiko, sebenarnya yang paling pas justru ini baliho-baliho itu berisi gambar-gambar tentang proses revitalisasi, kemudian kalaupun grebeg ya gunungan grebegnya. Kalau kirab ya kira-kira kebo dan kirabnya,” ungkapnya.

Menurut Kangjeng Pakoenegoro, pendekatan tersebut dinilai lebih meneduhkan suasana sekaligus memberikan informasi yang lebih utuh kepada masyarakat mengenai aktivitas budaya dan pelestarian tradisi yang sedang dilakukan.

“Masyarakatnya, itu akan lebih menenangkan, lebih adem gitu. Jadi timeline-nya jelas, tanpa menonjolkan satu dan lain pihak gitu, supaya rukun,” tandasnya. [Ando]

 

Exit mobile version