Site icon JOGLOSEMAR NEWS

Eddy Wirabhumi soal Baliho Fadli Zon di Gladag: Jangan Terjebak Persoalan Kecil, Fokus Selamatkan Karaton

Baliho bergambar Menteri Kebudayaan Fadli Zon bersama KGPH Panembahan Agung Tedjowulan dan GKR Koes Moertiyah Wandansari (Gusti Moeng), berdiri megah di kawasan Keraton Surakarta | Ando

SOLO, JOGLOSEMARNEWS.COM Pemasangan baliho bertuliskan “Karaton Surakarta Wajib Dilestarikan” di kawasan Gapura Gladag, pintu masuk sisi utara Karaton Surakarta Hadiningrat, memunculkan berbagai tanggapan. Menanggapi hal tersebut, KPH Eddy Wirabhumi menilai keberadaan baliho itu harus dipahami sebagai bagian dari momentum penguatan hubungan antara Karaton Surakarta dan negara.

Baliho tersebut menampilkan Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon bersama KGPH Panembahan Agung Tedjowulan dan GKR Koes Moertiyah Wandansari atau Gusti Moeng. Menurut KPH Eddy Wirabhumi, pesan yang terkandung dalam baliho jauh lebih penting dibanding sekadar keberadaannya sebagai media visual.

Ia menegaskan bahwa upaya menyambungkan kembali hubungan Karaton Surakarta dengan pemerintah merupakan langkah strategis dalam memperkuat ketahanan budaya bangsa.

“Ini adalah menyambungkan hubungan keraton dengan negara, keraton dengan pemerintah. Memang dimulai dari Kementerian Kebudayaan, tetapi jangan lupa bahwa di antara elemen-elemen penting pertahanan negara, pertahanan budaya justru menempati posisi yang sangat penting,” ujarnya.

Menurutnya, Indonesia memperoleh kekuatan dari keberagaman budaya yang dimiliki. Karena itu, pusat-pusat kebudayaan seperti Karaton Surakarta harus terus dijaga, dilestarikan, dan mendapatkan perhatian dari negara.

KPH Eddy Wirabhumi menilai hubungan yang kembali terjalin antara Karaton Surakarta dan pemerintah telah membuahkan langkah konkret. Salah satunya melalui program revitalisasi kawasan keraton yang saat ini tidak hanya menyentuh aspek fisik, tetapi juga mulai bergerak ke arah revitalisasi nonfisik.

“Terbukti begitu tersambung langsung masuk revitalisasi. Dari revitalisasi fisik sekarang sudah menuju revitalisasi nonfisik,” katanya.

Lebih lanjut, ia mengingatkan agar seluruh pihak tidak terjebak pada persoalan-persoalan kecil yang berpotensi menghambat proses yang lebih besar. Menurutnya, perjuangan untuk menyambungkan kembali hubungan Karaton Surakarta dengan negara bukanlah proses singkat, melainkan perjalanan panjang yang telah berlangsung selama puluhan tahun.

“Perjuangan ini sudah sejak tahun 1946. Sekarang tahun 2026, artinya sudah sekitar 80 tahun. Kalau kemudian ini menjadi titik awal tersambungnya kembali Karaton dengan negara, tentu harus kita syukuri bersama,” ungkapnya.

Ia berharap momentum yang sedang berlangsung saat ini dapat menjadi fondasi bagi semakin kuatnya sinergi antara Karaton Surakarta dan pemerintah dalam menjaga serta mengembangkan warisan budaya bangsa.

“Jangan sampai persoalan-persoalan kecil menjadi penghambat tersambungnya Karaton dengan negara. Yang terpenting adalah bagaimana pusat budaya seperti Karaton Surakarta dapat terus dilestarikan dan diperkuat untuk kepentingan bangsa,” pungkasnya. [Ando]

 

Exit mobile version