WONOGIRI, JOGLOSEMARNEWS.COM – Langkah besar kembali ditorehkan Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah. Organisasi Islam modern terbesar di Indonesia ini resmi memulai pembangunan atau groundbreaking pabrik farmasi PT Suryavena Farma Indonesia di Malang, Jawa Timur, Kamis (11/6/2026).
Pabrik yang berdiri di atas lahan milik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tersebut diproyeksikan menjadi salah satu pusat produksi farmasi modern yang mampu memperkuat kemandirian sektor kesehatan sekaligus membangun ekosistem ekonomi sirkular berbasis organisasi.
Prosesi peletakan batu pertama berlangsung meriah dan dihadiri sejumlah tokoh penting Muhammadiyah. Hadir langsung Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir, Muhadjir Effendy, Saad Ibrahim, dr. Agus Taufiqurrahman, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Fauzan, serta Ketua PWM Jawa Timur dr. Sukadiono.
Pembangunan pabrik ini menjadi langkah strategis Muhammadiyah dalam memasuki sektor ekonomi bernilai tinggi yang selama ini banyak dikuasai pelaku industri besar. Namun demikian, Muhammadiyah menegaskan bahwa penguatan sektor industri tidak akan membuat organisasi tersebut meninggalkan pembinaan terhadap pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang selama ini menjadi bagian penting dari gerakan ekonomi umat.
Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir menegaskan bahwa pembangunan pabrik farmasi merupakan bagian dari upaya meningkatkan kapasitas ekonomi umat agar mampu bersaing di level yang lebih tinggi.
“Semangat Muhammadiyah adalah membangun ekosistem ekonomi umat, bangsa, atau rakyat yang mulai naik kelas ke ekonomi menengah ke atas. Langkah ini justru melengkapi pendampingan kelompok ekonomi mikro, kecil, dan menengah yang selama ini sudah berjalan,” ungkap Haedar.
Menurutnya, pembangunan industri farmasi bukan semata urusan bisnis dan keuntungan ekonomi. Lebih jauh, proyek tersebut merupakan bentuk penguatan kemandirian bangsa dalam sektor kesehatan yang selama ini masih menghadapi tantangan ketergantungan terhadap produk impor.
Dilansir dari majelistabligh.id, proyek PT Suryavena Farma Indonesia juga memperlihatkan bagaimana organisasi kemasyarakatan berbasis keagamaan mampu mengelola industri manufaktur modern dengan skala besar dan visi jangka panjang.
Haedar menilai, Indonesia memiliki potensi ekonomi yang sangat besar dan harus dimanfaatkan untuk kepentingan bangsa sendiri. Karena itu, penguatan industri strategis menjadi langkah penting dalam menyongsong visi Indonesia Emas 2045.
Ia juga menekankan bahwa semangat kemandirian ekonomi yang sedang dibangun Muhammadiyah sejalan dengan amanat Pasal 33 UUD 1945 yang menempatkan perekonomian nasional sebagai instrumen untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
“Muhammadiyah berada di jalur itu. Dengan cara seperti ini, saya yakin visi kami akan bertemu dengan spirit pemerintah saat ini, sekaligus menjawab kepentingan bangsa yang lebih luas,” tegasnya.
Pabrik PT Suryavena Farma Indonesia sendiri merupakan hasil kolaborasi antara Majelis Ekonomi Bisnis (MEB) dan Majelis Pembinaan Kesehatan Umum (MPKU) PP Muhammadiyah. Pada tahap awal operasional, fasilitas ini akan difokuskan untuk memproduksi cairan infus yang menjadi salah satu kebutuhan dasar dan vital di rumah sakit.
Keputusan memulai produksi dari sektor infus bukan tanpa alasan. Muhammadiyah memiliki jaringan kesehatan yang sangat besar melalui Rumah Sakit Muhammadiyah-‘Aisyiyah (RSMA) yang tersebar hampir di seluruh wilayah Indonesia. Saat ini terdapat sedikitnya 135 RSMA yang membutuhkan pasokan produk kesehatan secara berkelanjutan.
Keberadaan pabrik tersebut diharapkan mampu menciptakan rantai pasok yang lebih efisien, memperkuat kemandirian layanan kesehatan, sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pemasok eksternal.
“Dengan pabrik infus ini, kita memulai dari sesuatu yang paling mendasar dan paling bisa kita lakukan di dalam ekosistem bisnis rumah sakit kita sendiri,” imbuh Haedar.
Tak berhenti pada produksi infus, Muhammadiyah juga telah menyiapkan rencana ekspansi yang lebih besar. PT Suryavena Farma Indonesia nantinya akan mengembangkan berbagai lini produk farmasi lain mulai dari obat-obatan, alat kesehatan, hingga jarum suntik yang selama ini menjadi kebutuhan rutin rumah sakit.
Langkah ini membuka peluang lahirnya ekosistem kesehatan yang saling terhubung mulai dari pendidikan, penelitian, produksi, distribusi hingga pelayanan kesehatan dalam satu jaringan besar Muhammadiyah.
Jika berjalan sesuai rencana, pabrik ini tidak hanya menjadi pemasok kebutuhan internal 135 rumah sakit Muhammadiyah-‘Aisyiyah, tetapi juga berpotensi menjadi pemain penting dalam industri farmasi nasional. Kehadirannya menjadi penanda bahwa organisasi masyarakat berbasis keagamaan mampu mengambil peran strategis dalam pembangunan ekonomi, kesehatan, dan kemandirian bangsa di masa depan. Aris Arianto
