JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM – Di tengah sorotan publik terkait tingginya frekuensi kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke luar negeri, Istana membantah anggapan bahwa perjalanan-perjalanan tersebut hanya menghabiskan anggaran negara tanpa manfaat nyata. Pemerintah justru mengklaim aktivitas diplomasi Presiden telah berkontribusi mendatangkan investasi dalam jumlah besar ke Indonesia.
Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menyebut nilai investasi yang masuk selama sekitar satu setengah tahun pemerintahan Prabowo mencapai Rp 2.430 triliun. Menurutnya, capaian tersebut tidak bisa dilepaskan dari berbagai lawatan Presiden ke sejumlah negara mitra.
“Total investasi yang masuk dalam 1,5 tahun ini adalah sekitar Rp 2.430 triliun, itu data dari BKPM,” kata Teddy dalam keterangan video yang disampaikan pada Senin (1/6/2026).
Ia mencontohkan kunjungan Presiden ke Jepang dan Korea Selatan pada akhir Maret lalu yang, menurutnya, diikuti realisasi investasi dalam jumlah signifikan.
“Contoh konkret lagi nih, bulan lalu Presiden Prabowo ke Jepang dan Korea, langsung ada investasi sekitar Rp 575 triliun,” ujarnya.
Teddy menilai kritik yang menyebut kunjungan luar negeri Presiden sekadar pencitraan atau kegiatan seremonial tidak berdasar. Ia mengatakan agenda luar negeri tersebut merupakan bagian dari upaya memperkuat hubungan Indonesia dengan negara-negara lain di tengah dinamika dan ketidakpastian global.
Menurutnya, membangun komunikasi langsung dengan para pemimpin dunia menjadi langkah penting untuk membuka peluang kerja sama ekonomi maupun investasi yang menguntungkan Indonesia.
Pernyataan Teddy itu sekaligus merespons kritik yang sebelumnya disampaikan pendiri Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI), Dino Patti Djalal. Melalui akun Instagram pribadinya, Dino menilai Presiden perlu mempertimbangkan kembali intensitas perjalanan luar negeri yang dilakukan.
Ia mengungkapkan banyak masyarakat berharap frekuensi kunjungan ke luar negeri dapat dikurangi dan meminta pemerintah tidak mengabaikan aspirasi tersebut.
“Dalam perhitungan kami, dari seluruh pemimpin dunia, Presiden Prabowo telah menjadi kepala negara yang paling sering melakukan perjalanan keluar negeri,” kata Dino.
Mantan Wakil Menteri Luar Negeri itu juga menyoroti besarnya biaya yang harus dikeluarkan negara setiap kali presiden melakukan kunjungan ke luar negeri. Menurutnya, anggaran satu kali lawatan bisa mencapai puluhan hingga ratusan miliar rupiah.
Biaya tersebut mencakup berbagai kebutuhan, mulai dari tim pendahulu, transportasi udara, akomodasi, logistik, konsumsi, protokol, pengamanan, uang harian delegasi, hingga berbagai kebutuhan operasional lainnya.
“Kunjungan kepala negara ke luar negeri memakan biaya yang besar dan bahkan sangat besar,” ujar mantan Duta Besar RI untuk Amerika Serikat tersebut.
Perdebatan mengenai efektivitas kunjungan luar negeri Presiden pun kembali mencuat. Di satu sisi, pemerintah menilai diplomasi langsung mampu membuka peluang investasi dan kerja sama strategis. Namun di sisi lain, sejumlah pihak meminta manfaat kunjungan tersebut dapat diukur secara lebih transparan dan sebanding dengan biaya yang dikeluarkan negara. [*] Disarikan dari sumber berita media daring
