WONOGIRI, JOGLOSEMARNEWS.COM – Teror kawanan monyet liar di Kabupaten Wonogiri kini memasuki babak yang semakin mengkhawatirkan. Jika sebelumnya hanya dikenal merusak tanaman pertanian, kini gerombolan primata tersebut mulai menyerbu permukiman warga, membongkar genting rumah, masuk ke dapur, hingga menghabiskan persediaan makanan. Kondisi ini membuat masyarakat di berbagai wilayah hidup dalam kewaspadaan setiap hari.
Fakta yang mengejutkan, gangguan kera ekor panjang kini tercatat terjadi di seluruh 25 kecamatan di Kabupaten Wonogiri. Tidak ada lagi wilayah yang benar-benar steril dari ancaman kawanan monyet liar tersebut. Bahkan Kecamatan Paranggupito yang selama ini dikenal sebagai kawasan wisata pantai di ujung selatan Wonogiri kini ikut merasakan dampaknya.
Meski demikian, serangan monyet tidak selalu terjadi merata di seluruh desa dalam satu kecamatan. Pada sejumlah wilayah, hanya beberapa desa yang menjadi sasaran utama, sementara desa lainnya masih relatif aman. Namun kondisi itu bisa berubah sewaktu-waktu karena pergerakan kawanan monyet yang semakin sulit diprediksi.
Keluhan petani terus bermunculan. Tanaman yang selama ini menjadi sumber penghasilan utama warga rusak dalam hitungan jam akibat serangan kawanan monyet yang datang bergerombol.
“Kera-kera (monyet) ini merusak ketela dan jagung kami. Kami rugi besar,” ujar Kepala Desa Gunturharjo Kecamatan Paranggupito, Suyadi, beberapa waktu lalu.
Situasi serupa terjadi di Desa Paranggupito. Para petani kini harus mengorbankan waktu lebih banyak untuk menjaga lahan mereka dari serangan monyet.
“Kalau ada hajatan atau keperluan sosial, ladang ditinggal sebentar saja, langsung diserbu. Mereka tahu kapan kami lengah,” ungkap Kepala Desa Paranggupito, Dwi Hartono.
Gangguan ternyata tidak berhenti di area pertanian. Warga mulai mengalami kejadian yang sebelumnya jarang terjadi, yakni monyet masuk ke dalam rumah dan mengacak-acak isi dapur.
Ani (47), warga Kecamatan Baturetno, mengaku sempat mengira rumahnya dimasuki pencuri saat mendengar suara gaduh dari dapur.
“Saya kira maling, ternyata monyet masuk dari atap dan obrak-abrik semua. Nasipun habis!” katanya kesal.
Di Kecamatan Giriwoyo, para petani bahkan mengaku sudah kehabisan cara untuk mengusir kawanan monyet. Berbagai metode tradisional yang dulu dianggap ampuh kini tak lagi memberikan hasil.
“Sudah pakai orang-orangan sawah, memelihara anjing suara petasan dan senapan dan berbagai cara lainnya, tapi sekarang sudah tidak mempan,” ungkap Riyanto, salah seorang petani.
Ketua Komisi II DPRD Wonogiri, Supriyanto, menjelaskan bahwa fenomena ini tidak lagi terbatas pada daerah yang berbatasan langsung dengan kawasan hutan. Kecamatan-kecamatan yang sebelumnya relatif aman kini mulai mengalami gangguan serupa.
Menurutnya, wilayah seperti Karangtengah, Batuwarno hingga Sidoharjo juga menghadapi persoalan yang sama. Karena itu diperlukan langkah yang lebih komprehensif daripada sekadar pengusiran biasa.
Supriyanto mencontohkan keberhasilan sejumlah petani di Karangtengah yang mengubah pola tanam mereka. Tanaman yang menjadi favorit monyet diganti dengan komoditas lain yang tidak menarik bagi satwa tersebut.
✓ Porang
✓ Empon-empon
✓ Janggelan
“Tanaman itu tidak disukai monyet, dan hasilnya bisa diekspor. Pendapatan malah meningkat,” terang Supriyanto.
Namun ia mengingatkan bahwa solusi tersebut belum tentu cocok diterapkan di seluruh wilayah Wonogiri. Kondisi geografis dan karakter lahan pertanian setiap kecamatan berbeda-beda sehingga memerlukan kajian lebih lanjut.
“Tanaman seperti palawija atau padi gogo sulit diganti dengan tanaman seperti merica khusus di Paranggupito tanpa kajian mendalam. Dulu pernah ada solusi dengan mendatangkan warga suku Baduy, namun kami belum tahu apakah solusi yang sama bisa dilakukan saat ini,” jelasnya.
Sementara itu, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menegaskan bahwa penanganan gangguan kera ekor panjang tidak boleh dilakukan dengan cara dibunuh. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah akan berkoordinasi dengan pemerintah pusat untuk mencari solusi yang lebih tepat.
Luthfi menyatakan Pemprov Jateng akan mengirim surat kepada Menteri Kehutanan guna meminta tambahan kuota penangkapan serta pengamanan satwa liar yang dinilai semakin meresahkan masyarakat.
Persoalan serangan kera liar ternyata juga terjadi di wilayah lain. Bupati Boyolali Agus Irawan menyampaikan bahwa kawasan pertanian di lereng Merapi-Merbabu juga menghadapi gangguan serupa. Kawanan kera turun ke lahan pertanian dan merusak berbagai tanaman sayuran milik warga.
Kini harapan masyarakat tertuju pada langkah nyata dari pemerintah dan instansi terkait. Sebab masalah ini tidak lagi sebatas kerugian hasil panen. Gangguan monyet telah merambah ke lingkungan permukiman, memengaruhi rasa aman warga, hingga mengganggu aktivitas sehari-hari.
“Wonogiri bukan lagi tentang nyamannya desa dan sejuknya alam. Sekarang, ini tentang bertahan hidup dari serangan monyet,” ujar seorang warga.
Ketika kawanan monyet mampu menjangkau 25 kecamatan sekaligus, pertanyaan besar pun muncul. Sampai kapan warga harus berjaga di ladang dan rumah mereka setiap hari? Dan mampukah solusi yang disiapkan pemerintah menghentikan teror monyet yang kini menjadi masalah lintas wilayah di Wonogiri? Aris Arianto
