JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM – Mantan Wakapolri Komjen Pol (Purn) Oegroseno mengaku merasa dilecehkan setelah Ketua Komisi III DPR RI Habiburokhman menyebut Jenderal Listyo Sigit Prabowo sebagai Kapolri terbaik sepanjang masa. Pernyataan tersebut dinilai bukan sekadar pujian, melainkan juga mengabaikan jasa dan pengabdian para Kapolri terdahulu yang pernah memimpin Korps Bhayangkara.
Reaksi keras itu disampaikan Oegroseno setelah mendengar pernyataan Habiburokhman dalam rapat paripurna DPR terkait pengesahan Rancangan Undang-Undang Polri beberapa waktu lalu.
Dalam sambutannya saat itu, Habiburokhman menyampaikan penghormatan kepada Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo yang hadir dalam rapat tersebut.
“Yang kami hormati Pak Kapolri Listyo Sigit Prabowo. Jarang-jarang beliau hadir di sini, salah satu Kapolri terbaik sepanjang masa,” ucap Habiburokhman.
Pernyataan itu rupanya memantik keberatan dari Oegroseno. Dalam sebuah tayangan di kanal YouTube Abraham Samad yang dikutip Sabtu (13/6/2026), mantan jenderal bintang tiga tersebut menyebut dirinya tersinggung sebagai bagian dari keluarga besar Polri.
“Saya sebagai purnawirawan Polri merasa dilecehkan,” kata Oegroseno.
Menurutnya, ucapan Habiburokhman secara tidak langsung menempatkan para Kapolri sebelumnya pada posisi yang tidak semestinya. Padahal, sejak era Kapolri pertama Raden Said Soekanto hingga saat ini, banyak pemimpin Polri yang memberikan kontribusi besar bagi institusi maupun negara.
“Kapolri ini dari masa ke masa itu dari mulai Pak Komisaris Jenderal Polisi Pak Raden Said Sukanto. Itu ada 24 atau 25 (Kapolri dari masa ke masa). Berarti kan Ketua Komisi III DPR ini menyatakan bahwa Kapolri selain Pak Listyo Sigit adalah Kapolri yang tidak baik ya kan?” ujarnya.
Oegroseno mempertanyakan dasar penilaian yang digunakan Habiburokhman hingga berani menyematkan predikat tersebut kepada Listyo Sigit.
Ia kemudian menyebut sejumlah nama mantan Kapolri yang menurutnya memiliki jasa besar dalam perjalanan institusi kepolisian. Di antaranya Hoegeng Iman Santoso, Awaloedin Djamin, Anton Soedjarwo, Mochammad Sanoesi, Banurusman Astrosemitro, Suroyo Bimantoro, Dai Bachtiar, hingga Sutanto.
“Pak Hoegeng Iman Santoso yang luar biasa, kemudian ada Pak Prof. Dr. Awaloedin Djamin yang dengan kebijakannya pola pembenahan Polri,” tuturnya.
“Ada Pak Anton Sujarwo ya kan? Ada Pak Sanusi. Ada Pak Banurusman yang angkatan dari mulai Akpol ada Pak Bimantoro Ya kan?”
“Kemudian ada Pak Dai Bachtiar. Ada Pak Tanto yang berani dengan kebijakan berantas preman dan judi. Itu dianggap apa seperti itu?” tegasnya.
Tak berhenti pada kritik, Oegroseno bahkan membuka kemungkinan membawa persoalan tersebut ke Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) DPR RI.
“Mungkin saya akan memberanikan diri cari waktu bisa konsultasi dengan majelis kehormatan dewan nanti saya adukan (Habiburokhman),” ujarnya.
Menurut Oegroseno, seorang pejabat publik tidak seharusnya menggunakan pujian berlebihan dalam forum resmi negara, terlebih ketika membahas regulasi penting seperti Undang-Undang Polri.
“Jangan memaksakan supaya orang bisa menerima undang-undang ini dengan cara-cara memuji-muji manusia,” kata dia.
“Harusnya sebagai ulama beragama cukup memuji-muji Allah saja sudah cukup seperti itu,” imbuhnya.
Ia menilai pernyataan Ketua Komisi III DPR tersebut sudah melampaui batas kewajaran dan berpotensi menyinggung banyak pihak di lingkungan kepolisian.
“Sudah kartu merah ini (Habiburokhman). Mantan Kapolri ini kan pimpinan satu lembaga tinggi di negara Republik Indonesia,” ucapnya.
“Dikatakan 25 Kapolri hanya satu yang terbaik sepanjang masa,” lanjutnya.
Dalam kesempatan itu, Oegroseno juga menyinggung sejumlah pernyataan kontroversial Habiburokhman pada masa lalu. Menurutnya, sebagai wakil rakyat, seorang anggota DPR seharusnya lebih berhati-hati dalam memilih kata-kata saat berbicara di ruang publik.
“Kan (Habiburokhman) pernah ngata-ngatain Pak Mahfud MD juga. Seharusnya dia bicaranya harus lebih baik dari kita rakyat,” kata Oegro.
“Kan dia wakil kita nih. Wakil rakyat harusnya lebih baik daripada rakyat seperti kita,” pungkasnya. [*] Disarikan dari sumber berita media daring
