Site icon JOGLOSEMAR NEWS

Puluhan Anggota IWAPI Surakarta Antusias Ikuti Pelatihan Kehumasan, Belajar Bangun Brand Lewat Cerita

Jajaran pengurus dan anggota DPC IWAPI Surakarta berfoto bersama narasumber usai mengikuti Pelatihan Kehumasan bertema "Strategi Komunikasi: Ceritakan! Brand Anda Lebih Powerful" di Sekretariat IWAPI Surakarta, Kamis (18/6/2026). | Suhamdani

SOLO, JOGLOSEMARNEWS.COM – Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI) Surakarta menggelar rapat pleno yang dirangkai dengan Pelatihan Kehumasan di Kantor Sekretariat DPC IWAPI Surakarta, Jalan Dr Ciptomangunkusumo No. 66, Mangkubumen, Solo, Kamis (18/6/2026).
Kegiatan yang diikuti sekitar 40 anggota IWAPI Surakarta tersebut menghadirkan jurnalis senior sekaligus praktisi story branding dan kehumasan, Didik Kartika, S.Sos sebagai narasumber. Pelatihan mengusung tema “Strategi Komunikasi: Ceritakan! Brand Anda Lebih Powerful”.

Didik Kartika saat menyampaikan materi dalam Pelatihan Kehumasan yang digelar DPC IWAPI Surakarta di Kantor Sekretariat IWAPI Surakarta, Kamis (18/6/2026) | Suhamdani

Dalam sambutan yang mewakili Ketua IWAPI Surakarta, Rusmi Sumargono mengajak seluruh peserta memanfaatkan kesempatan pelatihan itu untuk menambah ilmu dan wawasan di tengah perkembangan zaman yang berlangsung sangat cepat.
Ia menilai, pelaku usaha dituntut terus beradaptasi agar tidak tertinggal oleh perubahan yang terjadi, terutama dalam bidang komunikasi dan pemasaran.
“Saya berharap, seluruh peserta bisa memperoleh manfaat dari pelatihan ini. Kita perlu terus belajar dan mengejar ketertinggalan karena perkembangan zaman bergerak sangat cepat,” ujarnya.

Peserta tampak antusias mengikuti simulasi dengan menuliskan story branding usaha yang mereka miliki | Suhamdani

Sementara itu, moderator kegiatan, Rusmiyati, mengingatkan bahwa kehumasan pada dasarnya merupakan upaya mengelola komunikasi yang baik agar dapat memberi manfaat bagi masyarakat. Ia juga mengajak peserta membuka diri terhadap berbagai pengetahuan baru yang disampaikan narasumber.
“Mari kita kosongkan gelas dan siap menerima ilmu dan wawasan baru dari narasumber,” katanya.
Sementara itu, dalam paparannya, Didik Kartika menjelaskan bahwa fungsi kehumasan saat ini telah mengalami perubahan signifikan. Jika dahulu humas identik dengan tugas untuk menyebarkan informasi, maka kini peran tersebut lebih menitikberatkan pada upaya membangun kepercayaan atau trust di tengah masyarakat.
Menurutnya, di era media sosial, tugas humas tidak lagi sekadar menyampaikan data dan informasi, melainkan menciptakan percakapan yang mampu membangun kedekatan dengan publik.
“Humas sekarang bukan sekadar membuat orang kebanjiran informasi, tetapi bagaimana membangun kepercayaan dan percakapan dengan masyarakat, terutama di era digital sekarang ini, ya melalui media sosial,” paparnya.

Salah seorang peserta Pelatihan Kehumasan DPC IWAPI Surakarta memaparkan hasil praktik story branding yang disusunnya dalam sesi simulasi | Suhamdani

Ia juga mengajak para pelaku usaha untuk tidak hanya berfokus mempromosikan spesifikasi dan keunggulan produk, melainkan menggali cerita-cerita otentik yang dimiliki usaha mereka.
Menurutnya, kisah sederhana yang nyata sering kali lebih mudah menyentuh emosi publik dibandingkan promosi yang berisi angka dan klaim keunggulan produk.
Didik mencontohkan sebuah perusahaan yang memiliki petugas kebersihan (office boy) yang selalu mengenakan batik dan ramah menyapa setiap tamu. Ketika suatu hari petugas tersebut menemukan laptop milik tamu dan mengembalikannya, kisah itu justru menjadi cerita yang lebih kuat untuk membangun citra perusahaan dibanding sekadar mempromosikan produk atau layanan.
“Yang otentik dan spesifik itulah yang perlu diceritakan. Semua orang bisa bicara soal kualitas produk, tetapi masing-masing memiliki cerita yang berbeda,” ujarnya.
Ia menjelaskan, brand sejatinya adalah persepsi yang muncul di benak publik ketika mendengar nama organisasi atau produk tertentu. Karena itu, kekuatan visual dan cerita sering kali lebih efektif dibanding penjelasan panjang mengenai spesifikasi produk.
Dalam sesi tersebut, Didik juga mengulas cara menghadapi kritik di media sosial. Menurutnya, pelaku usaha perlu cermat menemukan sisi positif dari berbagai komentar yang muncul, lalu mengolahnya menjadi materi komunikasi yang menarik.
Ia kemudian membedakan antara fakta dan cerita. Fakta, menurutnya, berfungsi memberikan informasi, sedangkan cerita memberikan makna.
Sebagai contoh, kalimat “kami menanam 500 pohon” adalah fakta. Namun ketika diubah menjadi kisah seorang siswa yang menanam pohon pertamanya dan berjanji merawatnya hingga dewasa, pesan yang diterima publik menjadi jauh lebih kuat.
Ia juga memperkenalkan formulasi storytelling yang terdiri atas tokoh, masalah, perjuangan, dan perubahan. Formula tersebut dinilai dapat diterapkan dalam berbagai bentuk promosi usaha maupun kegiatan organisasi.
Dalam konteks organisasi, Didik menilai IWAPI dapat membangun citra yang kuat melalui aksi-aksi sosial yang menyentuh masyarakat secara langsung, seperti pemberdayaan kelompok perempuan dari kalangan kurang mampu atau pelatihan usaha bagi warga di kawasan tertentu.
Usai pemaparan materi, peserta diajak mengikuti simulasi praktik storytelling. Mereka diminta menuliskan satu kisah nyata dari organisasi, usaha, bisnis, maupun sekolah yang mereka miliki dan dinilai layak dibagikan kepada publik karena memiliki nilai emosional yang kuat.
Suasana pelatihan berlangsung interaktif. Para peserta tampak antusias mempresentasikan hasil tulisan mereka. Sejumlah pelaku usaha seperti Jenang Omi, Batik Sekar, Zupa Sup, dan peserta lainnya secara bergantian memaparkan cerita yang mereka susun berdasarkan formula storytelling yang telah dipelajari.
Melalui pelatihan tersebut, IWAPI Surakarta berharap para anggotanya semakin terampil memanfaatkan media sosial dan strategi komunikasi berbasis cerita untuk memperkuat brand, memperluas jaringan usaha, serta meningkatkan daya saing di era digital. [Suhamdani]

Exit mobile version