
SURAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM – Yayasan Imanda Sarva Indonesia (IMSI) menggelar rapat perdana pengurus di Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Selasa (9/6/2026).
Pertemuan tersebut menjadi momentum awal untuk memperkuat konsolidasi organisasi sekaligus merumuskan langkah nyata dalam menyebarkan nilai-nilai toleransi, perdamaian, dan kebersamaan di tengah masyarakat.
Rapat yang dihadiri para pembina, pengawas, dan pengurus yayasan itu diawali dengan agenda saling mengenal antarpengurus yang berasal dari berbagai latar belakang profesi, agama, dan bidang keahlian. Keberagaman tersebut dinilai menjadi kekuatan utama dalam mengembangkan visi organisasi.
Ketua Pembina Yayasan Imanda Sarva Indonesia, Prof. Dr. Bani Sudardi, M.Hum., menegaskan bahwa perbedaan merupakan keniscayaan yang telah menjadi bagian dari kehidupan manusia sejak awal. Menurutnya, keberagaman justru menjadi sarana untuk melahirkan kebijaksanaan dan keharmonisan.
“Perbedaan adalah keniscayaan sebagai ciptaan Tuhan. Kita merindukan hikmah dari perbedaan itu. Tuhan menciptakan laki-laki dan perempuan yang berbeda, tetapi dari perbedaan itulah lahir keturunan dan keluarga. Begitu pula bunga dan kupu-kupu yang saling membutuhkan,” ujarnya.
Ia menambahkan, keberagaman juga tampak dalam kehidupan beragama di Indonesia yang dihuni berbagai pemeluk agama dan kepercayaan. Namun, seluruhnya tetap merupakan saudara sebangsa yang hidup berdampingan dalam satu kesatuan bangsa.
“Keberagaman adalah jati diri Indonesia. Kita memiliki Bhinneka Tunggal Ika, berbeda-beda tetapi tetap satu. Dalam falsafah Jawa dikenal konsep memayu hayuning bawana, yakni menjaga dan merawat keselamatan dunia,” katanya.
Sementara itu, Sekretaris Yayasan Imanda Sarva Indonesia, Emmanuel Didik Kartika Putra, S.Sos., mengungkapkan rasa syukur karena yayasan tersebut kini telah resmi berdiri secara hukum.
“Kami bergerak cepat mengurus seluruh aspek regulatif. Berkat kerja sama yang solid dan kerja keras seluruh pihak, proses yang biasanya cukup panjang akhirnya bisa diselesaikan dalam waktu sekitar satu minggu,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Yayasan Imanda Sarva Indonesia, Pdt. Dr. Jarot Kristianto, S.Pd., S.Th., M.Si., menjelaskan bahwa organisasi yang dipimpinnya memiliki visi besar menjadikan toleransi tidak sekadar slogan, melainkan sistem sosial yang hidup dan berkembang di masyarakat.
Menurutnya, langkah awal yang akan dilakukan dalam waktu dekat adalah menjalin komunikasi dan audiensi dengan Pemerintah Kota Surakarta.
“Kami ingin spirit toleransi yang selama ini menjadi kekuatan Kota Solo dapat semakin diperkuat. Dalam gerakan Imanda, toleransi kami tempatkan sebagai ideologi sosial yang diharapkan tumbuh menjadi sistem sosial yang hidup di masyarakat,” ujarnya.
Jarot menambahkan, gerakan tersebut tidak hanya ditujukan untuk Kota Solo, tetapi juga memiliki orientasi yang lebih luas hingga tingkat nasional bahkan internasional.
“Kami membawa misi perdamaian dan toleransi. Harapannya, nilai-nilai ini bisa menjadi kontribusi nyata dari Solo untuk Indonesia dan dunia,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Jarot juga menjelaskan filosofi nama yayasan. Ia menyebut kata “Imanda” merupakan singkatan dari Iman Berbeda, sedangkan istilah “Sarva” berasal dari bahasa Sanskerta yang bermakna keutuhan.
“Artinya kita berbeda-beda, tetapi dipersatukan dalam satu keutuhan,” jelasnya.
Pandangan tersebut diperkuat oleh pengurus Divisi Entrepreneur, AKBP Purn. I Wayan Tudy Subawa, S.H., M.Pd.H., yang menambahkan bahwa makna Sarva juga mencerminkan prinsip kesetaraan bagi seluruh anggota masyarakat tanpa memandang latar belakangnya.
Meski tidak bisa hadir secara fisik, namun Sumartono Hadinoto selaku pembina berpesan, bahwa organisasi tidak cukup hanya berhenti pada tataran konsep. Menurutnya, Imanda harus mampu menghadirkan aksi nyata yang dapat dirasakan langsung manfaatnya oleh masyarakat.
“Kita harus memiliki sense terhadap persoalan toleransi dan menerjemahkannya ke dalam tindakan nyata,” pesannya melalui Didik Kartika.
Hal senada juga disampaikan oleh Prof. Dr. Slamet Subiyantoro, M.Si. Menurutnya, keselarasan justru lahir dari keberagaman yang mampu dikelola dengan baik.
“Dalam konsep budaya Jawa, kesuburan lahir dari keselarasan. Dan keselarasan itu sendiri terbentuk karena adanya perbedaan,” tuturnya.
Adapun melalui rapat perdana tersebut, Yayasan Imanda Sarva Indonesia menegaskan komitmennya untuk menjadi ruang bersama bagi berbagai elemen masyarakat dalam membangun dialog, memperkuat toleransi, dan menumbuhkan budaya damai di tengah kehidupan bangsa yang majemuk. Pertemuan diakhiri dengan sesi foto bersama. [*]
Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.












