JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM – Presiden Prabowo Subianto melontarkan pesan politik yang sarat makna di hadapan ribuan pimpinan perguruan tinggi dan akademisi. Di tengah dinamika demokrasi yang kerap diwarnai polarisasi pasca-pemilu, Prabowo mengingatkan bahwa menghormati mandat rakyat merupakan fondasi utama kehidupan berbangsa.
Pengalaman pribadinya yang empat kali gagal dalam kontestasi politik dijadikan contoh bahwa kekalahan dalam pemilu bukan alasan untuk mengganggu pemerintahan yang telah memperoleh legitimasi rakyat.
Pesan tersebut disampaikan Prabowo saat membuka Sarasehan Kebangsaan yang menjadi bagian dari Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia di Jakarta International Convention Center (JICC), Jumat (26/6/2026). Forum yang digelar Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi itu mengusung tema “Strategi Kemandirian Ekonomi dan Kesejahteraan Indonesia.”
Dalam pidatonya, Prabowo mengajak seluruh elite politik untuk membangun budaya demokrasi yang dewasa dengan mengedepankan persatuan dibandingkan persaingan berkepanjangan.
Ketua Umum Partai Gerindra itu mengatakan dirinya selama ini selalu berupaya menempuh jalan politik yang damai dan mengedepankan pendekatan persuasif.
“Saya selalu berusaha dengan persuasif. Sebagai pemimpin politik, saya dipilih secara demokratis,” ujarnya.
Prabowo kemudian mengulas perjalanan politiknya yang penuh dinamika. Ia mengingat kembali kegagalannya dalam Konvensi Partai Golkar menjelang Pemilu 2004, kekalahan sebagai calon wakil presiden pada Pemilu 2009, hingga dua kali gagal dalam pemilihan presiden pada 2014 dan 2019.
Menurut Prabowo, baru pada upaya kelima dirinya memperoleh mandat langsung dari rakyat untuk memimpin Indonesia. Meski berkali-kali mengalami kekalahan, ia mengaku tetap menghormati hasil pemilu.
“Empat kali saya kalah, tapi saya tidak mengganggu pemimpin yang dapat mandat,” tegasnya.
Prabowo mengakui bahwa menerima kekalahan bukan perkara mudah. Namun, menurutnya, sikap legawa menjadi harga yang harus dibayar demi menjaga stabilitas bangsa dan menghormati pilihan rakyat.
“Kalah itu sedih sebenarnya, tapi saya sadar, saya mengerti alternatifnya apa,” katanya.
Ia menegaskan bahwa Indonesia telah memilih sistem demokrasi sebagai jalan bernegara. Karena itu, hasil pemilu harus dihormati sebagai perwujudan kedaulatan rakyat.
“Kedaulatan rakyat dalam demokrasi wujudnya adalah pemilihan,” ujar Prabowo.
Sarasehan Kebangsaan tersebut dihadiri ribuan rektor, dekan, dosen, dan civitas akademika dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Sejumlah pejabat tinggi negara juga tampak hadir, di antaranya Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto, serta Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya. [*] Disarikan dari sumber berita media daring
