WONOGIRI, JOGLOSEMARNEWS.COM – Pelaksanaan Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) Jawa Tengah 2026 menjadi perhatian besar para orang tua dan calon peserta didik. Pasalnya, dari total 567.500 lulusan SMP dan sederajat di Jawa Tengah tahun ini, hanya sekitar 40 persen yang berpeluang diterima di SMA dan SMK Negeri.
Data Dinas Pendidikan Jawa Tengah menunjukkan daya tampung SMA dan SMK Negeri pada tahun ajaran 2026/2027 hanya mencapai 231.724 kursi. Artinya, sekitar 335 ribu lebih lulusan SMP atau hampir 60 persen siswa harus mencari alternatif pendidikan lain, termasuk melanjutkan pendidikan ke SMA maupun SMK swasta.
Kondisi tersebut membuat persaingan masuk sekolah negeri diperkirakan semakin ketat dibanding tahun-tahun sebelumnya. Banyak orang tua yang selama ini menargetkan sekolah negeri kini harus mulai mempertimbangkan pilihan sekolah swasta sejak awal proses pendaftaran.
Kuota SPMB 2026 tersebar di 366 SMA Negeri dan 238 SMK Negeri di seluruh Jawa Tengah. Total daya tampung tersebut terbagi menjadi 122.616 kursi SMA Negeri dan 109.108 kursi SMK Negeri yang tersebar dalam 6.442 rombongan belajar (rombel).
Jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, sebenarnya daya tampung sekolah negeri mengalami peningkatan. Pada SPMB 2025, total kursi yang tersedia sebanyak 230.019 siswa dengan rincian 121.572 kursi SMA Negeri dan 108.447 kursi SMK Negeri dalam 6.395 rombel.
Namun, kenaikan jumlah kursi tersebut belum mampu mengimbangi lonjakan jumlah lulusan SMP di Jawa Tengah. Akibatnya, secara persentase peluang masuk sekolah negeri justru mengalami penurunan.
Fakta ini sekaligus menegaskan bahwa sekolah swasta akan menjadi tujuan utama bagi sebagian besar lulusan SMP di Jawa Tengah. Dengan jumlah lulusan yang jauh melampaui kapasitas sekolah negeri, SMA dan SMK swasta diperkirakan akan menerima mayoritas peserta didik baru pada tahun ajaran 2026/2027.
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah sendiri masih melanjutkan program sekolah kemitraan yang melibatkan 139 SMA dan SMK swasta. Program tersebut bertujuan membantu akses pendidikan bagi siswa yang tidak tertampung di sekolah negeri.
Dalam program kemitraan tersebut, setiap sekolah mitra tetap memperoleh kuota sebanyak 36 siswa dengan regulasi yang tidak mengalami perubahan dibanding tahun sebelumnya. Biaya pendidikan peserta didik dalam program tersebut juga mendapat dukungan dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.
Meski demikian, jumlah sekolah kemitraan maupun kuota yang tersedia masih tetap, sehingga belum mampu menutup selisih besar antara jumlah lulusan SMP dengan kapasitas sekolah negeri yang tersedia.
Dengan kondisi tersebut, para calon peserta didik dan orang tua diimbau tidak hanya berfokus pada sekolah negeri. Persiapan memilih sekolah swasta berkualitas sejak dini menjadi langkah penting agar proses melanjutkan pendidikan tidak terkendala ketika hasil seleksi SPMB diumumkan.
Tahun ini menjadi gambaran nyata bahwa jalur pendidikan menengah di Jawa Tengah tidak lagi bertumpu pada sekolah negeri semata. Saat hanya sekitar 40 persen lulusan SMP yang dapat tertampung di SMA dan SMK Negeri, maka sekitar 60 persen lainnya harus bersaing dan melanjutkan pendidikan melalui sekolah swasta yang tersebar di berbagai daerah. Aris Arianto
