Site icon JOGLOSEMAR NEWS

Tergiur Haji Plus Bersubsidi, Uang Rp 104 Juta Milik Janda di Karanganyar Ini Malah Ditilep Teman Sendiri

Haji

Sri Wijiningsih | Foto: Ando

KARANGANYAR, JOGLOSEMARNEWS.COM – Niat seorang janda asal Kecamatan Colomadu, Karanganyar, untuk menunaikan ibadah haji sekaligus memberi kejutan kepada anak-anaknya justru berakhir pahit.

Sri Wijiningsih (61), demikian nama perempuan tersebut, mengaku menjadi korban dugaan penipuan biro perjalanan haji yang dikelola oleh seseorang yang telah lama dikenalnya.

Ditemui di kediamannya, Rabu (3/6/2026), Sri menceritakan bahwa kasus tersebut bermula dari perkenalannya dengan seorang perempuan berinisial D yang pernah menjadi rekan satu biro perjalanan umrah dan haji, Samira Travel.

Menurut Sri, setelah tidak lagi bergabung dengan biro tersebut, D kemudian mendirikan usaha perjalanan haji sendiri. Karena sudah saling mengenal, Sri pun menaruh kepercayaan dan tertarik mengikuti program haji yang ditawarkan.

“Awalnya kami sama-sama di Samira Travel. Setelah itu dia keluar atau dikeluarkan, saya kurang tahu pasti. Kemudian dia mendirikan biro sendiri dan menawarkan program haji kepada saya,” ujar Sri.

Sri mengaku tergiur setelah mendapat penawaran haji plus dengan biaya yang disebut jauh lebih murah karena adanya subsidi. Dari harga normal sekitar Rp 199 juta, ia dijanjikan hanya perlu membayar Rp 99 juta.

Pembayaran dilakukan secara bertahap dalam beberapa kali setoran. Hingga menjelang jadwal keberangkatan, total dana yang telah diserahkan mencapai Rp 104,3 juta.

“Karena sudah kenal, saya percaya. Saya setor sedikit demi sedikit, ada yang Rp 10 juta, Rp 6 juta, sampai totalnya Rp 104.300.000,” tuturnya.

Namun menjelang keberangkatan yang dijadwalkan pada 2 Juni 2025, Sri mulai merasa curiga. Pasalnya, hingga waktu yang semakin dekat, ia belum menerima visa maupun paspor sebagai syarat utama perjalanan haji.

Saat mempertanyakan hal tersebut, Sri mengaku terus mendapat jawaban yang menenangkan dari terlapor. Meski demikian, ia tetap menolak berangkat tanpa dokumen resmi.

“Saya bilang tidak mau berangkat kalau belum ada visa haji. Tapi dia selalu bilang agar saya tenang karena semuanya sudah diatur. Saya tetap tidak mau karena anak-anak saya juga melarang kalau belum jelas dokumennya,” ungkapnya.

Sri mengaku semula tidak memberi tahu anak-anaknya mengenai rencana keberangkatan tersebut. Ia sengaja ingin memberikan kejutan kepada keluarganya setelah berhasil berangkat ke Tanah Suci.

Lebih lanjut, Sri mengungkapkan bahwa dana yang digunakan untuk mendaftar haji berasal dari tabungan dan hak-hak yang diterimanya setelah sang suami, seorang anggota TNI, meninggal dunia sekitar dua tahun lalu.

“Suami saya anggota ABRI dan mendapat hak dari Asabri. Saya kumpulkan semuanya, termasuk dari penghasilan suami saat masih menjadi pengacara. Uang itu saya niatkan untuk berangkat haji,” katanya.

Merasa dirugikan, Sri akhirnya melaporkan kasus tersebut ke pihak kepolisian. Saat ini laporan tersebut masih dalam proses penyelidikan dan penyidik disebut telah meminta keterangan dari sejumlah saksi terkait dugaan penipuan tersebut. [Ando]

 

Exit mobile version