WONOGIRI, JOGLOSEMARNEWS.COM – Banyak yang mengira PT Djarum akan membangun pabrik baru di Kabupaten Wonogiri. Namun fakta di lapangan justru berbeda. Raksasa industri rokok asal Kudus itu memilih strategi yang lebih cepat dengan memanfaatkan bangunan gudang yang sudah ada, bukan mendirikan pabrik dari nol.
Kini, pencarian lokasi mengerucut ke dua kecamatan, yakni Jatisrono dan Baturetno, yang dinilai paling memenuhi kebutuhan perusahaan untuk membuka unit produksi Sigaret Kretek Tangan (SKT).
Perkembangan terbaru ini disampaikan Bupati Wonogiri, Setyo Sukarno, Kamis (1607/2026). Menurutnya, PT Djarum tidak memiliki rencana membangun kompleks pabrik baru. Sebaliknya, perusahaan sedang mencari gudang yang layak dan sesuai standar agar bisa segera diubah menjadi lokasi produksi.
Awalnya, tim teknis PT Djarum telah melakukan survei terhadap delapan lokasi di berbagai wilayah Wonogiri. Namun proses seleksi berlangsung cukup ketat karena harus memenuhi ketentuan tata ruang serta spesifikasi bangunan yang dibutuhkan perusahaan.
Lima lokasi di Kecamatan Ngadirojo akhirnya gugur karena kawasan tersebut tidak diperuntukkan bagi industri besar berdasarkan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR). Sementara satu lokasi di Kecamatan Sidoharjo juga belum memenuhi persyaratan lantaran ukuran bangunan gudangnya tidak sesuai standar operasional perusahaan.
Setelah melalui berbagai tahapan penilaian, kini tersisa dua lokasi yang dianggap paling potensial, yakni Desa Gunungsari, Kecamatan Jatisrono, serta Desa Watuagung, Kecamatan Baturetno.
Menariknya, Pemkab Wonogiri tidak menutup kemungkinan kedua lokasi tersebut sama-sama dimanfaatkan apabila seluruh persyaratan perusahaan terpenuhi.
“Keputusan akhirnya berada di tangan investor. Yang jelas, Pemkab Wonogiri siap memfasilitasi proses investasi ini,” ujar Bupati Wonogiri Setyo Sukarno.
Strategi memanfaatkan gudang yang sudah tersedia dinilai mampu mempercepat realisasi investasi. Perusahaan tidak perlu menghabiskan waktu panjang untuk pembangunan fisik sehingga proses produksi bisa lebih cepat dimulai apabila seluruh tahapan administrasi dan teknis selesai.
Di balik pencarian gudang tersebut, tersimpan potensi ekonomi yang sangat besar. Satu line produksi SKT diperkirakan mampu menyerap sekitar 2.000 tenaga kerja, dengan kapasitas produksi mencapai 2,5 juta batang rokok per hari.
Manajemen PT Djarum bahkan membuka peluang menghadirkan lebih dari satu line produksi di Wonogiri apabila tersedia bangunan gudang yang memenuhi standar perusahaan. Artinya, kebutuhan tenaga kerja berpotensi terus bertambah seiring berkembangnya investasi.
Perwakilan HRD PT Djarum, Ivan Satrio, sebelumnya menyampaikan bahwa Wonogiri dipilih karena memiliki ketersediaan tenaga kerja yang melimpah. Saat ini perusahaan masih terus melakukan pencocokan terhadap bangunan yang dinilai layak digunakan sebagai lokasi produksi.
Apabila investasi ini terealisasi, manfaatnya diperkirakan tidak hanya dirasakan oleh para pekerja. Kehadiran ribuan karyawan baru diyakini akan menggerakkan roda ekonomi di sekitar lokasi, mulai dari usaha kuliner, rumah kos, toko kebutuhan harian, jasa transportasi, hingga berbagai pelaku UMKM lainnya.
Kini perhatian masyarakat tertuju pada dua wilayah yang masih bertahan dalam proses seleksi. Apakah gudang di Jatisrono yang akan dipilih, Baturetno, atau justru keduanya akan diaktifkan sebagai lokasi produksi PT Djarum? Keputusan itu masih menunggu hasil akhir dari manajemen perusahaan, namun satu hal sudah jelas: PT Djarum datang ke Wonogiri bukan untuk membangun pabrik baru, melainkan mencari gudang yang siap dihidupkan menjadi pusat produksi padat karya. Aris Arianto
