SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM – Persoalan klasik yang selama ini membayangi peternakan rakyat, mulai dari penumpukan limbah kandang, bau menyengat hingga ancaman terhadap kualitas susu, kini mendapat solusi berbasis teknologi dari Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Melalui inovasi mesin konveyor pengangkut limbah, tim pengabdian kepada masyarakat UNS tidak hanya membantu menciptakan kandang yang lebih bersih dan sehat, tetapi juga membuka peluang baru bagi peternak untuk mengolah limbah menjadi sumber pendapatan.
Inovasi tersebut diterapkan di MK Farm, peternakan kambing perah di Dusun Bende, Desa Purworejo, Kecamatan Gemolong, Kabupaten Sragen, melalui program bertajuk “Zero Waste Livestock: Rekayasa Konveyor Limbah untuk Kandang Sehat dan Ekonomi Sirkular Peternakan Rakyat.”
Program tersebut merupakan bagian dari Program Kemitraan Masyarakat (PKM-UNS) yang didanai Universitas Sebelas Maret dalam bidang unggulan Pengentasan Kemiskinan.
Tim pengabdian dipimpin oleh Guru Besar Program Studi S-1 Teknik Mesin Fakultas Teknik UNS, Prof. Dr. Ir. Eko Prasetya Budiana, S.T., M.T., dengan anggota Agung Irawan, S.Pt., M.Sc., Ph.D. dari Program Studi D-3 Budidaya Ternak Sekolah Vokasi UNS serta Novedi Risanti Langgi, S.Pd., M.Pd. dari Program Studi S-1 Pendidikan Administrasi Perkantoran Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UNS.
Prof. Eko menjelaskan, MK Farm saat ini memelihara 162 ekor kambing dewasa jenis Peranakan Ettawa, Jawarandu, dan Sapera. Dari populasi tersebut dihasilkan sekitar 300 kilogram limbah kotoran setiap hari atau mencapai sekitar 9 ton per bulan.
Tim Pengabdian Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta memasang mesin belt conveyor penampung limbah kotoran kambing di Mitra Karya (MK) Farm, Desa Purworejo, Kecamatan Gemolong, Kabupaten Sragen. Teknologi tepat guna ini dikembangkan untuk mempercepat proses pembersihan kandang, meningkatkan sanitasi peternakan, serta mendukung pengelolaan limbah berbasis ekonomi sirkular | Foto: Istimewa
Selama ini proses pembersihan kandang panggung masih dilakukan secara manual menggunakan sekop dan alat angkut sederhana. Cara tersebut dinilai kurang efektif karena hanya mampu mengangkut sekitar 70 hingga 80 persen limbah setiap hari. Akibatnya, sekitar 60 hingga 90 kilogram limbah masih tertinggal dan terus menumpuk di bawah kandang.
“Penumpukan ini memicu bau amonia yang menyengat, mengganggu kesehatan ternak dan kenyamanan kerja tenaga kandang, bahkan berisiko mencemari susu hasil perahan yang menjadi produk utama mitra,” ujar Prof. Eko.
Padahal, produksi susu kambing di MK Farm mencapai 45 hingga 60 liter per hari yang dipasarkan melalui Himpunan Peternak Domba dan Kambing Indonesia (HPDKI) dengan harga sekitar Rp 20.000 per liter. Selain itu, MK Farm juga membina sejumlah peternak dengan total populasi 184 ekor kambing yang memasok sekitar 1.000 liter susu setiap pekan ke dalam rantai pasok.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, tim UNS merancang dan memasang mesin belt conveyor horizontal sepanjang 20 meter yang ditempatkan di bawah kandang panggung. Mesin berkapasitas angkut 300 kilogram limbah per hari itu digerakkan motor listrik berdaya rendah 0,5 hingga 1 HP sehingga hemat energi.
Peralatan tersebut juga dilengkapi scraper berbahan karet, penutup pelindung, tombol darurat, serta saluran drainase guna menjaga keselamatan kerja sekaligus mempertahankan higienitas kandang.
“Dengan sistem ini, target kami limbah dapat terangkut 100 persen setiap hari tanpa residu, penurunan bau dan kadar amonia minimal 80 persen, serta waktu pembersihan kandang bisa dipangkas lebih dari separuhnya,” jelasnya.
Program pengabdian ini tidak berhenti pada penyediaan teknologi. Tim UNS juga menyusun standar operasional prosedur (SOP) sanitasi kandang, memberikan pelatihan pengoperasian dan perawatan mesin kepada pekerja maupun peternak binaan, melakukan digitalisasi pencatatan produksi susu dan limbah, hingga mendampingi pengolahan limbah menjadi pupuk organik bermerek yang siap dipasarkan.
Anggota tim, Agung Irawan, mengatakan pengelolaan limbah yang baik tidak hanya berdampak pada kebersihan lingkungan, tetapi juga berpengaruh langsung terhadap kesehatan ternak dan kualitas susu yang dihasilkan.
“Limbah yang terkelola baik akan menekan risiko kontaminasi mikroba pada susu dan menjaga kesehatan ternak. Di sisi lain, limbah 9 ton per bulan yang selama ini menjadi beban justru memiliki nilai ekonomi tinggi jika diolah menjadi pupuk organik,” ujarnya.
Sementara itu, Novedi Risanti Langgi menambahkan, digitalisasi pencatatan produksi susu maupun pengelolaan limbah menjadi bagian penting agar sistem yang dibangun dapat berjalan secara konsisten dan berkelanjutan.
“Kami ingin mitra tidak hanya memperoleh teknologi, tetapi juga memiliki sistem manajemen yang membuat program ini tetap berjalan setelah pendampingan selesai,” katanya.
Penanggung jawab MK Farm, Budi Harjono, mengaku menyambut baik inovasi tersebut. Ia berharap setelah masa pendampingan berakhir, pihaknya mampu mengoperasikan sekaligus merawat mesin secara mandiri.
Melalui inovasi teknologi tepat guna itu, tim pengabdian UNS berharap model pengelolaan limbah peternakan berbasis ekonomi sirkular yang diterapkan di MK Farm dapat direplikasi di berbagai daerah. Selain meningkatkan sanitasi dan produktivitas peternakan rakyat, program ini juga diharapkan memperkuat peran perguruan tinggi dalam pemberdayaan masyarakat sekaligus mendukung upaya pengentasan kemiskinan di sektor peternakan. [*]
