WONOGIRI, JOGLOSEMARNEWS.COM – Jangan buru-buru membuang minyak jelantah bekas menggoreng ikan, ayam, tempe, atau gorengan ke saluran air. Mulai sekarang, setiap liter minyak jelantah memiliki nilai ekonomi yang cukup menggiurkan. Bahkan, harga minyak jelantah kini dihargai Rp7.000 per liter, sehingga limbah dapur yang selama ini dianggap tidak berguna justru bisa berubah menjadi sumber penghasilan tambahan bagi keluarga.
Inilah yang menjadi semangat lahirnya Gerakan Minyak Jelantah Jadi Rupiah yang resmi diluncurkan Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Jawa Tengah, Nawal Arafah Yasin, dalam Kick Off Meeting di Wisma Perdamaian, Kota Semarang, Jumat (17/7/2026).
Program ini bukan sekadar mengajak masyarakat mengumpulkan minyak bekas. Lebih dari itu, gerakan tersebut membuka peluang baru agar setiap rumah tangga memperoleh manfaat ekonomi sekaligus membantu menjaga lingkungan.
Yang paling menarik perhatian masyarakat tentu soal harga minyak jelantah. Dalam skema yang telah disiapkan, setiap satu liter minyak jelantah dibeli seharga Rp7.000.
Rinciannya cukup sederhana.
🟢 ✓ Rp5.000 langsung menjadi hak warga yang menyetorkan minyak jelantah.
🟢 ✓ Rp2.000 masuk ke kas PKK desa sebagai dana pemberdayaan masyarakat.
Artinya, minyak bekas yang selama ini dibuang percuma kini memiliki nilai jual nyata. Semakin banyak minyak jelantah yang dikumpulkan, semakin besar pula tambahan pemasukan yang bisa diterima warga.
Gerakan tersebut menggandeng PT BioSirkular Inovasi Indonesia dan PT Gapura Mas Lestari (GML) sebagai mitra pengelola, sehingga proses pengumpulan hingga penjualan dilakukan secara lebih profesional dan transparan.
Menurut Nawal Arafah Yasin, kebiasaan menggunakan minyak goreng berulang kali hingga berubah warna menjadi hitam sebaiknya mulai ditinggalkan. Selain menurunkan kualitas makanan, kebiasaan tersebut juga berpotensi meningkatkan risiko gangguan kesehatan.
Tak kalah penting, minyak jelantah yang dibuang sembarangan ke selokan atau sungai dapat mencemari lingkungan, merusak kualitas air, bahkan mengganggu ekosistem.
Karena itu, daripada dibuang, minyak jelantah lebih baik dikumpulkan untuk kemudian diolah menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi jauh lebih tinggi.
Program ini mengandalkan jaringan kader PKK hingga tingkat desa dan kelurahan sebagai ujung tombak edukasi sekaligus pengumpulan minyak jelantah.
Jangkauannya bahkan akan diperluas melalui 49.149 Posyandu yang tersebar di seluruh Jawa Tengah. Dengan jaringan sebesar itu, gerakan ini diproyeksikan menjadi salah satu model ekonomi sirkular berbasis rumah tangga terbesar di Indonesia.
Konsep ekonomi sirkular sendiri mengubah cara pandang masyarakat terhadap limbah. Jika sebelumnya minyak bekas dianggap sampah, kini justru diposisikan sebagai bahan baku industri yang bernilai tinggi.
Minyak jelantah nantinya dapat diolah menjadi berbagai produk, antara lain:
🟢 ✓ Biodiesel
🟢 ✓ Sustainable Aviation Fuel (SAF) atau bahan bakar pesawat ramah lingkungan
🟢 ✓ Bioavtur
🟢 ✓ Produk energi terbarukan lainnya
Bahkan saat ini, minyak jelantah sudah dimanfaatkan sebagai salah satu bahan baku pengembangan Sustainable Aviation Fuel (SAF) di Kilang Pertamina Cilacap.
Keberhasilan program serupa sebenarnya sudah terlihat di Kabupaten Batang. Dalam waktu sekitar satu tahun sejak Juni 2025, pengelolaan minyak jelantah di daerah tersebut berhasil membukukan omzet hingga Rp170 juta.
Capaian itu menunjukkan bahwa limbah rumah tangga ternyata dapat memberikan dampak ekonomi yang cukup besar apabila dikelola secara konsisten dan melibatkan masyarakat.
Direktur PT BioSirkular Inovasi Indonesia, Dicka Dwi Candra, menjelaskan bahwa program tersebut merupakan tindak lanjut kerja sama yang telah disepakati bersama TP PKK dan TP Posyandu Jawa Tengah pada Hari Bumi 22 April 2026.
Pelaksanaannya dilakukan melalui empat tahapan utama.
🟢 ✓ Edukasi kepada masyarakat
🟢 ✓ Penyediaan titik pengumpulan minyak jelantah di desa dan kelurahan
🟢 ✓ Penjemputan minyak oleh operator tingkat kecamatan
🟢 ✓ Pencatatan digital hingga hasil penjualan masuk ke rekening pengelola
Seluruh transaksi dilakukan menggunakan sistem digital sehingga proses penjualan dapat dipantau secara terbuka dan transparan.
Selain menambah penghasilan warga, sistem tersebut juga memperkuat peran PKK dan Posyandu dalam pengelolaan lingkungan sekaligus mendukung berbagai program pemerintah daerah terkait pengurangan limbah rumah tangga.
Pada kesempatan yang sama, TP PKK Jawa Tengah juga menandatangani nota kesepakatan dengan PT Pegadaian (Persero) Kanwil XI Semarang untuk mengembangkan program pilah sampah menjadi tabungan emas. Kolaborasi ini diharapkan semakin memperluas peluang masyarakat memperoleh manfaat ekonomi dari pengelolaan sampah rumah tangga.
Bagi masyarakat Wonogiri dan daerah lain di Jawa Tengah, hadirnya program ini menjadi kesempatan menarik untuk mengubah kebiasaan lama. Minyak jelantah yang biasanya dibuang begitu saja kini memiliki harga jual yang jelas, membantu menjaga lingkungan sekaligus memberikan tambahan pemasukan bagi keluarga. Aris Arianto
