Site icon JOGLOSEMAR NEWS

Jangan Dibuang! Minyak Jelantah di Wonogiri Kini Bisa Jadi Dana Masjid dan Sosial Begini Caranya

Jelantah

Minyak jelantah. Istimewa

WONOGIRI, JOGLOSEMARNEWS.COM – Siapa sangka minyak jelantah yang selama ini kerap dibuang ke saluran air atau tempat sampah ternyata memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi. Bahkan, jika dikelola secara bersama-sama, limbah dapur tersebut dapat berubah menjadi sumber pendanaan untuk kegiatan sosial, keagamaan, hingga pemberdayaan masyarakat.

Inilah gagasan yang diperkenalkan mahasiswa Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) Kelompok 1 Desa Pokoh Kidul, Sekolah Tinggi Agama Islam Mulia Astuti (STAIMAS) Wonogiri melalui Program Sedekah Minyak Jelantah untuk Kesejahteraan (SEJUTA) dalam sosialisasi yang digelar di rumah Widiastuti, Dusun Kajar RT 1 RW 6, Jumat (17/7/2026).

Program ini mengajak masyarakat mengubah kebiasaan lama membuang minyak jelantah menjadi budaya baru yang lebih bermanfaat. Minyak bekas memasak tidak lagi dianggap sebagai limbah, melainkan dikumpulkan sebagai sedekah yang hasil penjualannya dimanfaatkan untuk mendukung berbagai kegiatan sosial melalui masjid.

Dalam pemaparannya, narasumber Pontjo Mardiono mengingatkan masyarakat agar tidak menggunakan minyak goreng secara berulang kali. Menurutnya, minyak goreng idealnya hanya dipakai maksimal tiga kali proses penggorengan agar kualitasnya tetap terjaga.

Penggunaan minyak yang terus-menerus dipanaskan dapat menghasilkan berbagai senyawa berbahaya yang berisiko mengganggu kesehatan. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko penyumbatan pembuluh darah, penyakit jantung, stroke, hingga kanker.

Pontjo juga menjelaskan bahwa beberapa bahan makanan seperti tempe, tahu, terong, dan gembus cenderung menyerap minyak lebih banyak dibandingkan bahan pangan lainnya. Akibatnya, sisa minyak semakin sedikit dan kualitasnya terus mengalami penurunan sehingga tidak layak digunakan kembali untuk memasak.

Namun di balik potensi bahayanya, minyak jelantah ternyata memiliki nilai ekonomi yang tidak bisa dipandang sebelah mata.

Ia memberikan ilustrasi sederhana. Apabila satu rumah tangga mampu mengumpulkan sekitar dua liter minyak jelantah setiap bulan, maka dari 50 kepala keluarga dapat terkumpul sekitar 100 liter. Jumlah tersebut sudah memiliki nilai jual yang cukup besar ketika dikelola secara kolektif.

Minyak jelantah yang berhasil dikumpulkan nantinya akan disalurkan kepada pengepul untuk diolah menjadi berbagai produk ramah lingkungan, antara lain:

🟢 Biodiesel ramah lingkungan
🟢 Sabun berbahan daur ulang
🟢 Lilin aromaterapi
🟢 Produk turunan lainnya yang memiliki nilai jual

Dengan kisaran harga sekitar Rp8.000 per kilogram, limbah rumah tangga yang selama ini dianggap tidak berguna justru dapat berubah menjadi sumber pemasukan yang mendukung berbagai kegiatan masyarakat.

Selain memiliki manfaat ekonomi, program ini juga membawa dampak positif bagi lingkungan. Warga diimbau untuk tidak lagi membuang minyak jelantah ke wastafel maupun saluran air karena dapat menyebabkan penyumbatan sekaligus mencemari lingkungan.

Sebagai solusi, minyak jelantah disarankan disimpan dalam wadah yang bersih dan tertutup sebelum disetorkan ke titik pengumpulan.

Untuk memudahkan masyarakat, mahasiswa KPM STAIMAS Wonogiri menyiapkan sistem pengumpulan di setiap masjid yang ada di Dusun Kajar. Dengan demikian, warga dapat menyetorkan minyak jelantah ke lokasi terdekat dari rumah masing-masing.

Selanjutnya, minyak tersebut akan diambil secara berkala oleh pengepul melalui rak penyimpanan yang telah disediakan. Hasil penjualannya kemudian digunakan untuk mendukung kegiatan sosial, keagamaan, dan berbagai program pemberdayaan masyarakat.

Model seperti ini telah diterapkan di sejumlah daerah dan terbukti mampu membantu pembiayaan kegiatan umat sekaligus mengurangi pencemaran lingkungan akibat limbah rumah tangga.

Dalam sesi diskusi, salah satu peserta bernama Yuli menyampaikan bahwa tidak semua rumah tangga mampu menghasilkan minyak jelantah hingga satu liter setiap bulan.

Menanggapi hal tersebut, Pontjo Mardiono menegaskan bahwa keberhasilan Program SEJUTA bukan ditentukan oleh banyaknya minyak dari setiap rumah, melainkan semangat kebersamaan seluruh warga.

“Kalau dikumpulkan bersama-sama, sedikit demi sedikit minyak jelantah akan menjadi sumber manfaat yang besar bagi masyarakat,” jelasnya.

Koordinator Kelompok 1 KPM Pokoh Kidul, Eka Agus Widianto, berharap Program SEJUTA mampu menjadi gerakan jangka panjang yang meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap kesehatan, lingkungan, sekaligus memperkuat nilai ekoteologi, yaitu menjaga kelestarian alam sebagai bagian dari tanggung jawab keagamaan.

Sementara itu, Penanggung Jawab Kegiatan, Rifa’atul Mahmudah, berharap mahasiswa KPM STAIMAS Wonogiri mampu menghadirkan pengabdian yang memberikan dampak langsung bagi masyarakat melalui solusi yang mengintegrasikan aspek lingkungan, ekonomi, dan sosial.

Melalui Program SEJUTA, limbah dapur yang sebelumnya dianggap tidak memiliki nilai kini diharapkan berubah menjadi sumber manfaat bagi masyarakat, membantu pendanaan kegiatan umat, meningkatkan kesejahteraan warga, sekaligus menciptakan lingkungan yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan. Aris Arianto

Exit mobile version