BANTUL, JOGLOSEMARNEWS.COM – Musim kemarau belum berlangsung lama, namun puluhan warga di kawasan perbukitan Padukuhan Jasem, Kalurahan Srimulyo, Kapanewon Piyungan, Bantul, sudah harus bergantung pada bantuan air bersih. Sumur-sumur yang selama ini menjadi sumber kehidupan mulai kehilangan debit air, memaksa warga mengantre membawa galon demi memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Pemandangan itu terlihat saat truk tangki milik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bantul memasok air bersih ke permukiman warga, Kamis (23/7/2026). Kendaraan bermuatan sekitar 5.000 liter air tersebut perlahan menembus jalan menanjak di kawasan perbukitan sebelum disambut puluhan warga yang telah menunggu dengan wadah air masing-masing.
Bagi warga, air yang mengalir dari selang truk bukan sekadar bantuan, melainkan penopang kebutuhan dasar untuk minum, memasak, mandi hingga mencuci di tengah sumur-sumur yang mulai mengering.
Warsiyem (42), warga RT 2 Padukuhan Jasem, mengaku mulai merasakan dampak kemarau sejak Juni 2026. Sumur yang selama ini digunakan bersama beberapa keluarga kini tak lagi mampu memenuhi kebutuhan harian.
“Di sini sebenarnya ada sumur. Itu sumurnya dalem, sekitar 15 meteran mungkin ya. Jadi, kan ada tiga sumur. Satu sumur ada buat tiga orang, satu lagi ada buat dua orang, dan satu lagi untuk bareng-bareng untuk umum. Sumur itu dulu dibikin oleh masyarakat sini. Tapi, ternyata sejak Juni 2026, beberapa warga di sini, termasuk saya mulai merasakan kekeringan,” ujarnya.
Kondisi tersebut memaksa warga mencari berbagai cara untuk memperoleh air bersih. Selain mengajukan permohonan bantuan kepada BPBD Bantul, sebagian warga harus mengambil air dari sumur lain yang berjarak sekitar satu kilometer dari rumah mereka.
“Jadi, kami cuma mengandalkan bantuan seperti ini. Kalau enggak ada bantuan ya kami ngambil air di bawah sana, sekitar satu kilometer dari rumah saya. Di bawah sana kan ada sumur milik warga, ya kadang ambil di sana. Kalau ngambil ya pakai sepeda motor, karena kalau jalan kaki jauh sekali. Tapi kan kalau dari sumur ke rumah saya itu nanjak sekali, jadi harus hati-hati,” katanya.
Dukuh Jasem, Arif Gunawan, mengatakan kekeringan paling dirasakan warga RT 2 yang berada di kawasan perbukitan. Meski fenomena kekeringan hampir selalu terjadi setiap musim kemarau, tahun ini warga merasakannya lebih awal dibanding biasanya.
Menurutnya, sekitar 20 kepala keluarga atau 76 jiwa kini bergantung pada pasokan air bersih dari berbagai pihak.
“Tapi, ini sudah ada beberapa bantuan dari beberapa pihak. Kemarin ada dari BPBD Bantul, ada dari swasta. Ini untuk kebutuhan sekitar 20 KK atau 76 jiwa. Kekeringan sudah dirasakan sejak sebulan terakhir. Sumur-sumur dangkal warga sudah mulai agak mengering,” ujarnya.
Arif menjelaskan, meskipun sebagian sumur memiliki kedalaman hingga sekitar 15 meter, debit air tetap mengalami penurunan karena berada di wilayah perbukitan. Akibatnya, warga mulai memanfaatkan berbagai sumber air yang masih tersedia, termasuk sumur milik warga lain dan sumur di area persawahan.
“Tapi, untuk kebutuhan warga yang di sini (RT 2), sudah mulai agak kekeringan. Biasanya mereka ambil airnya dari pagi untuk kebutuhan anak-anak mereka, kebutuhan memasak, serta mencuci. Dan kalau sore untuk kebutuhan mandi sore dan masak malam,” katanya.
Untuk mengurangi dampak kekeringan, pemerintah bersama sejumlah lembaga terus melakukan dropping air bersih. Pada hari itu, BPBD Bantul menyalurkan sekitar 15.000 liter air yang ditampung di bak penampungan bantuan pemerintah yang telah berdiri sekitar 15 tahun di lokasi tersebut.
Menurut Arif, bak berkapasitas 15.000 liter itu umumnya mampu memenuhi kebutuhan warga selama sekitar sepekan.
“Yang di belakang ini (bak penampungan) itu dari bantuan pemerintah. Sudah sekitaran 15 tahun ada di sini. Dulu itu untuk penampungan air dan ini kembali lagi digunakan untuk penampungan air. Kapasitasnya sekitar 15.000 liter. Biasanya cukup untuk kebutuhan masyarakat selama seminggu. Jadi kebutuhannya sangat banyak sekali untuk minum, ternak, mencuci, maupun memasak,” tandasnya. [*] Disarikan dari sumber berita media daring
