Site icon JOGLOSEMAR NEWS

Muharram Jangan Cuma Jadi Seremoni! Pesan Menyentak dari Pengajian NU Pokoh Kidul: Umur Berkurang, Sudah Siap Bawa Bekal?

Pengajian

Pengajian Muharram di Pokoh Kidul Wonogiri. Istimewa

WONOGIRI, JOGLOSEMARNEWS.COM – Peringatan Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah di Pokoh Kidul, Kabupaten Wonogiri, berlangsung dengan suasana penuh makna. Tidak sekadar menjadi agenda tahunan, Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (NU) Pokoh Kidul menghadirkan rangkaian kegiatan yang memadukan kepedulian sosial, penguatan pendidikan keagamaan, hingga pengajian yang menggugah kesadaran umat untuk melakukan introspeksi diri. Acara yang digelar di Gedung MWC NU Pokoh Kidul, Sabtu (4/7/2026), dipenuhi jamaah dari berbagai kalangan yang ingin menyambut tahun baru Hijriah dengan semangat baru.

Sorotan utama dalam kegiatan tersebut adalah penyaluran santunan kepada 21 anak yatim yang berasal dari wilayah Pokoh Kidul. Bantuan itu menjadi wujud kepedulian nyata kepada mereka yang membutuhkan perhatian dan kasih sayang. Momentum Muharram dimanfaatkan sebagai pengingat bahwa berbagi kepada sesama bukan hanya menghadirkan kebahagiaan bagi penerima, tetapi juga menjadi amalan yang memiliki nilai besar dalam ajaran Islam.

Ketua Pengurus Ranting NU Pokoh Kidul, Suratmin, berharap santunan tersebut mampu memberikan manfaat lebih dari sekadar bantuan materi. Ia ingin kepedulian masyarakat mampu menjadi suntikan semangat bagi anak-anak yatim agar terus berjuang menuntut ilmu, membangun karakter, serta mengejar cita-cita tanpa kehilangan harapan. Menurutnya, masa depan generasi muda harus terus dijaga melalui dukungan moral maupun sosial dari lingkungan sekitar.

Tak berhenti pada santunan, NU Pokoh Kidul juga memberikan bantuan operasional kepada sejumlah Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) yang berada di bawah naungan takmir masjid. Dukungan tersebut diharapkan mampu memperkuat proses pendidikan Al-Qur’an di tingkat akar rumput sekaligus mendorong lahirnya generasi muda yang memiliki bekal ilmu agama sejak usia dini. Langkah ini mendapat apresiasi dari jamaah karena dinilai menjadi investasi jangka panjang dalam membangun kualitas sumber daya manusia yang berakhlak.

Suasana pengajian semakin hidup ketika ustadz Mahmud dari Magelang menyampaikan tausiyah yang mengajak seluruh jamaah memaknai Tahun Baru Islam dari sudut pandang yang berbeda. Ia menilai masih banyak masyarakat yang menganggap Muharram hanya sebagai pergantian kalender, padahal di balik datangnya tahun baru tersimpan pengingat yang sangat mendalam tentang perjalanan hidup manusia.

“Tahun baru sejatinya bukan hanya bertambahnya usia, tetapi justru berkurangnya jatah umur kita. Karena itu, Muharram harus menjadi waktu untuk memperbaiki diri, dan meluruskan niat dalam setiap amal,” pesannya di hadapan jamaah.

Kalimat tersebut menjadi perhatian banyak jamaah karena menyentuh sisi kehidupan yang sering terlupakan. Ustadz Mahmud mengingatkan bahwa setiap pergantian tahun seharusnya menjadi alarm bagi setiap muslim untuk mengevaluasi amal, memperbaiki hubungan dengan Allah SWT maupun sesama manusia, serta mempersiapkan bekal menuju kehidupan akhirat.

Dalam tausiyahnya, dia juga mengajak masyarakat memperbanyak ibadah selama bulan Muharram. Ia menganjurkan umat Islam untuk menghidupkan puasa sunah, memperbanyak salat sunah, memperluas sedekah, serta memperbanyak amal kebajikan lainnya. Menurutnya, bulan Muharram merupakan salah satu bulan mulia yang menyimpan banyak peluang untuk meningkatkan kualitas keimanan sekaligus memperbesar pahala.

Tak hanya itu, dia kembali mengingatkan mengenai tiga amalan yang pahalanya tidak akan terputus meski seseorang telah meninggal dunia. Ketiga amalan tersebut adalah sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan doa dari anak yang saleh. Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa kehidupan tidak berhenti ketika seseorang wafat, tetapi amal baik yang ditanam selama hidup akan terus mengalir apabila dilakukan dengan ikhlas.

Pada kesempatan yang sama, dia juga membagikan pesan penting bagi para penuntut ilmu agar ilmu yang dipelajari benar-benar membawa keberkahan dalam kehidupan. Menurutnya, ada enam sikap utama yang harus dimiliki oleh setiap pencari ilmu.

🔹 Cerdas dan memiliki kemauan belajar yang tinggi.
🔹 Menyimak serta memperhatikan guru dengan sungguh-sungguh.
🔹 Bersabar menghadapi berbagai ujian selama proses belajar.
🔹 Tidak takut berkorban tenaga, waktu, maupun biaya demi menuntut ilmu.
🔹 Memiliki guru yang membimbing dengan baik.
🔹 Siap menjalani proses belajar dalam waktu yang panjang tanpa mudah menyerah.

Rangkaian kegiatan tersebut menjadi gambaran bahwa peringatan Tahun Baru Islam di Pokoh Kidul tidak hanya diisi dengan seremoni, tetapi juga menghadirkan aksi sosial, penguatan pendidikan Al-Qur’an, serta siraman rohani yang mengajak masyarakat kembali merenungkan tujuan hidup. Semangat berbagi kepada anak yatim, perhatian terhadap pendidikan keagamaan, dan ajakan memperbaiki diri diharapkan terus tumbuh menjadi budaya di tengah masyarakat, sehingga Muharram benar-benar menjadi titik awal perubahan menuju pribadi yang lebih baik. Aris Arianto

Exit mobile version