WONOGIRI, JOGLOSEMARNEWS.COM Siapa sangka, tanaman manis yang dulu sering dipandang sebelah mata ini sekarang malah jadi ‘tambang emas’ baru di pelosok Wonogiri. Warga Kecamatan Bulukerto saat ini sedang tersenyum lebar karena hasil panen mereka dihargai sangat tinggi, bahkan memecahkan rekor termahal sepanjang sejarah satu dekade terakhir!
Harga ubi madu alias ubi jenis Rancing atau sering disebut ubi Cilembu di tingkat petani meroket tajam hingga menembus angka Rp8.000 per kilogram. Angka ini langsung bikin para petani lokal semringah dan mantap beralih menjadikan ubi madu sebagai modal utama mengais rezeki.
Seorang petani ubi madu asal Desa Geneng, Rohman Setiawan, tak bisa menyembunyikan rasa gembiranya saat menceritakan lonjakan harga fantastis ini.
”Sekarang harganya tembus Rp8.000 per kg di tingkat petani. Ini rekor harga tertinggi yang pernah kami rasakan selama sekitar 10 tahun ini,” ujar Rohman dengan nada antusias.
Hitung-Hitungan Cuan yang Bikin Merinding
Prospek manis ubi madu ternyata bukan sekadar isapan jempol. Mari kita intip hitung-hitungan modal dan keuntungan yang bikin geleng-geleng kepala ini:
🟢 Modal Relatif Hemat
Untuk menggarap lahan seluas 4.000 meter persegi, petani hanya perlu merogoh kocek sekitar Rp10 juta sebagai biaya produksi.
🟢 Masa Tanam Singkat
Cukup menunggu durasi masa tanam selama 4 bulan saja, ubi manis berkualiats super sudah siap dipanen.
🟢 Omzet Tembus Puluhan Juta
Dalam sekali panen, petani bisa mengantongi pendapatan kotor hingga Rp50 juta! Jika dikalkulasi dari potensi ideal produktivitas yang mencapai 22 ton per hektare, angka yang masuk ke kantong jelas sangat menggiurkan.
🟢 Pasar Luas Hingga Luar Kota
Hasil panen tak cuma menumpuk di desa, tapi langsung diserbu pembeli luar daerah.
“Hasil panen biasa saya kirim ke berbagai pasar di luar kota sesuai volume permintaan, bahkan peluang pasar ekspornya masih sangat terbuka,” imbuh Rohman.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Wonogiri, Baroto Eko Pujanto, mengonfirmasi bahwa Bulukerto memang menjadi rajanya ubi madu di wilayahnya. Saat ini, total luas tanam di wilayah tersebut sudah menembus 130 hektare yang tersebar di Desa Krandegan, Desa Conto, Desa Tanjung, hingga Desa Geneng.
Wilayah kecamatan tetangga seperti Slogohimo mulai melirik potensi ini, Baroto menegaskan kalau ubi madu punya rahasia tersendiri agar bisa tumbuh sempurna dengan rasa manis legit yang khas.
”Budi daya ubi madu ini tidak bisa di sembarang lahan, sebab sangat bergantung pada kesesuaian jenis tanah serta elevasi suhu udara,” papar Baroto.
Kombinasi tanah subur, udara sejuk pegunungan, dan perawatan yang tepat terbukti mengubah tanah Bulukerto menjadi ‘mesin pencetak uang’ bagi warga sekitar. Aris Arianto
