SLEMAN, JOGLOSEMARNEWS.COM — Suadesa Festival 2026 menjadi ruang promosi sekaligus peluang memperluas pasar bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Sebanyak 40 UMKM ikut meramaikan kegiatan tersebut dengan menawarkan beragam produk, mulai dari kerajinan kayu, makanan ringan, kudapan tradisional hingga kuliner khas Yogyakarta.
Kehadiran puluhan UMKM dalam Suadesa Festival 2026 tidak hanya membuat acara semakin semarak, tetapi juga menjadi kesempatan bagi pelaku usaha lokal untuk bertemu langsung dengan konsumen baru, memperkenalkan produk, sekaligus membangun jejaring pemasaran.
Salah satu peserta adalah Gesang Art, UMKM kerajinan kayu asal Dlingo, Bantul, yang dikelola Budi Sutantyo. Menjadi UMKM binaan PGN sejak 2008, Gesang Art memperoleh dukungan berupa akses pembiayaan dengan persyaratan relatif ringan serta kesempatan mengikuti bazar dan pameran.
“Sejak 2008 kami menjadi UMKM binaan PGN. Kami mendapatkan fasilitas pinjaman yang sangat lunak, bahkan tanpa jaminan untuk usaha. Selain itu, kami juga difasilitasi mengikuti bazar dan pameran,” kata Budi, saat ditemui di Suadesa Festival, Sabtu (22/8/2026).
Dalam festival tersebut, Budi membawa mainan tradisional dan peralatan dapur berbahan kayu. Produk yang ditawarkan antara lain ketapel, tembakan kayu, yoyo dan berbagai mainan tradisional dengan harga Rp10.000 hingga Rp200.000 per item.
“Mainan tradisional dari kayu biasanya laris dan banyak diburu. Selain harganya murah, pengerjaannya juga relatif mudah. Produk seperti ini juga simpel dibawa ketika mengikuti bazar atau pameran,” ujarnya.
Budi berharap kegiatan seperti Suadesa Festival dapat berlangsung berkelanjutan dan memberikan ruang lebih luas bagi UMKM untuk memperluas pasar, termasuk melalui pameran di luar daerah seperti Jakarta dan Bali.
“Kami pengusaha UMKM lemah yang merupakan dampingan PGN sudah saatnya mendapatkan kesempatan lebih luas untuk mendongkrak pasar. Kami berharap ada fasilitasi pameran, terutama di luar kota seperti Jakarta dan Bali,” katanya.
Kesempatan serupa dirasakan pelaku UMKM perempuan di Desa Sinduharjo. Koordinator Forum Komunikasi dan Organisasi (Forkom) UMKM Desa Sinduharjo, Arsinta Lisnawati, mengatakan kelompoknya membawa berbagai makanan ringan dan kudapan, seperti mochi, kue gulung, sosis, arem-arem dan lumpia. Produk tersebut dijual dengan harga Rp2.000 hingga Rp15.000 per item.
Meski bukan UMKM binaan PGN, Arsinta menilai keikutsertaan dalam festival memberikan kesempatan bagi pelaku usaha, khususnya kaum ibu, untuk memperkenalkan produk kepada konsumen yang lebih luas sekaligus meningkatkan kepercayaan diri dalam mengembangkan usaha.
Peserta lainnya, Cucur Jadul Bu Wanti dari Pasar Ngasem Yogyakarta, turut memanfaatkan festival untuk memperluas pasar jajanan tradisional. Pemilik usaha, Nurmalita, mendapat tawaran mengikuti festival melalui tim Pasar Kangen Yogyakarta.
“Begitu tim panitia Pasar Kangen Yogyakarta memberikan informasi dan menawarkan untuk masuk di Suadesa Festival 2026, saya girang sekali. Kehadiran di acara ini bisa menambah pelanggan,” tutur Nurmalita.
Selama ini, pelanggan Cucur Jadul Bu Wanti datang langsung ke Pasar Ngasem untuk menikmati kue cucur berbahan dasar tepung beras tersebut. Harganya sekitar Rp4.000 per buah.
Adapun penyelenggaraan Suadesa Festival 2026 ini didukung oleh PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGN), Subholding Gas Pertamina, sebagai ruang kolaborasi yang mengintegrasikan pemberdayaan masyarakat dengan pengembangan potensi bisnis lokal.
Kehadiran 40 UMKM dalam Suadesa Festival 2026 ini menunjukkan potensi festival sebagai ruang promosi sekaligus pertemuan antara pelaku usaha dan konsumen. Kerajinan kayu, makanan ringan, kudapan tradisional hingga kuliner khas Yogyakarta hadir dalam satu ruang, membuka peluang transaksi, pelanggan baru dan perluasan pemasaran.
Dengan semakin banyak ruang promosi dan pameran, UMKM diharapkan dapat meningkatkan kapasitas produksi, memperluas pasar dan berkembang menjadi penggerak ekonomi masyarakat di tingkat lokal. *
