Site icon JOGLOSEMAR NEWS

6 Negara Terbang di Langit Wonogiri! 78 Atlet Paralayang Adu Nyali di Bukit Joglo, Ada Misi Besar di Baliknya

Paralayang

Pengalungan bunga untuk atlet paralayang di Wonogiri. Istimewa

WONOGIRI, JOGLOSEMARNEWS.COM – Langit Wonogiri selama beberapa hari ke depan tak hanya dihiasi awan dan hamparan bentang alam. Sebanyak 78 atlet paralayang dari enam negara datang untuk menaklukkan langit Bukit Joglo dalam Paragliding Cross-Country World Cup (PWC) Pre-Series Panglima TNI Cup Wonogiri 2026.

Kejuaraan yang berlangsung di kawasan Bukit Joglo, Desa Sendang, Kecamatan Wonogiri, itu digelar pada 19–23 Agustus 2026. Pembukaan secara resmi dilakukan Bupati Wonogiri Setyo Sukarno, Kamis (20/8/2026).

Para atlet datang dari Indonesia, China, Malaysia, Prancis, Korea, dan Nepal. Mereka tidak sekadar mengandalkan keberanian untuk mengudara. Nomor Cross-Country (XC) menuntut kemampuan membaca kondisi angin dan alam, teknik penerbangan, ketahanan fisik hingga ketangguhan mental.

Komposisi peserta didominasi atlet Indonesia. Kepala Dinas Teritorial Lanud Adi Soemarmo, Kolonel Lek Amrico, menyebut dari total 78 peserta, sebanyak 68 atlet merupakan wakil Indonesia.

✓ Indonesia: 68 atlet, terdiri dari 60 putra dan 8 putri
✓ China: 6 atlet
✓ Malaysia: 1 atlet
✓ Prancis: 1 atlet
✓ Korea: 1 atlet
✓ Nepal: 1 atlet

Kehadiran atlet mancanegara membuat kejuaraan di Bukit Joglo sekaligus menjadi arena untuk mengukur kemampuan atlet Indonesia dengan peserta dari berbagai negara.

Pada kategori Pre-PWC, sejumlah kelas dipertandingkan, mulai dari Overall Class, Women Class, Sport Class, Under 26 Class, Master Class untuk atlet berusia 45 tahun ke atas, hingga Team Class.

Sementara dalam kategori Kejurnas, pertandingan meliputi kelas perorangan putra, perorangan putri dan beregu.

Danlanud Adi Soemarmo Solo Marsma TNI Henri Ahmad Badawi membacakan poin-poin utama amanat Panglima TNI dalam pembukaan kejuaraan tersebut.

Penyelenggaraan kompetisi ini menjadi bagian dari kontribusi TNI terhadap peningkatan prestasi olahraga nasional, sejalan dengan amanat Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2022 tentang Keolahragaan.

Namun, misi kejuaraan tidak berhenti pada perebutan gelar juara. Ajang tersebut juga diarahkan menjadi ruang pertemuan atlet TNI, Polri, masyarakat dan peserta dari berbagai negara.

Harapannya, kompetisi internasional ini mampu memperkuat persahabatan sekaligus membuka jalan bagi lahirnya atlet-atlet baru olahraga dirgantara Indonesia.

Bupati Wonogiri Setyo Sukarno mengatakan setiap atlet akan menghadapi tantangan yang tidak ringan. Dalam olahraga paralayang lintas alam, kemampuan fisik dan mental sama pentingnya dengan teknik terbang.

“Serangkaian kegiatan dalam International Paragliding Cross Country Championship akan diadakan dalam beberapa hari ke depan. Tentu setiap atlet akan menampilkan teknik terbaik, yang akan menguras kemampuan fisik dan mental, baik dari para atlet dan juga ofisial untuk keluar sebagai juara,” kata Setyo.

Menurut dia, suksesnya kejuaraan membutuhkan dukungan banyak pihak. Karena itu, kolaborasi lintas sektor menjadi salah satu faktor penting agar event internasional tersebut berjalan aman dan lancar.

“Kami berharap kejuaraan ini sukses dalam penyelenggaraan, sukses dalam mencetak prestasi, dan pada akhirnya memberi dampak positif dan menjadi satu pengalaman terbaik bagi semua pihak,” ujarnya.

Lebih dari sekadar kompetisi, kedatangan puluhan atlet dari enam negara juga menjadi panggung promosi potensi Wonogiri.

Kabupaten Wonogiri memiliki bentang alam yang beragam. Wilayahnya mencakup kawasan pegunungan, hutan hingga pesisir selatan. Kondisi geografis tersebut menjadi modal untuk mengembangkan wisata berbasis alam sekaligus olahraga dirgantara.

“Potensi wisata terus dikembangkan, sementara itu, potensi olahraga terus diupayakan untuk dapat berkembang dan mampu bersaing di zona regional, hingga nasional dan bahkan hingga internasional,” jelas Setyo.

Wonogiri sebenarnya bukan pendatang baru dalam olahraga dirgantara. Sejumlah kegiatan gantole dan paralayang sebelumnya pernah digelar di wilayah tersebut.

Kini, kehadiran PWC Pre-Series Panglima TNI Cup 2026 kembali mengangkat nama Wonogiri sebagai salah satu daerah yang memiliki potensi untuk pengembangan olahraga udara.

Namun, pemerintah daerah masih memiliki pekerjaan rumah. Salah satunya adalah memperbanyak atlet lokal agar potensi yang dimiliki Wonogiri tidak hanya menjadi lokasi penyelenggaraan kompetisi.

“Harus diakui, ada sejumlah keterbatasan bagi pemerintah daerah untuk memberikan perhatian bagi perkembangan olahraga dirgantara. Landasan sudah ada, akan tetapi jumlah atletnya masih sangat sedikit, dan ini patut menjadi perhatian kita bersama,” ungkap Setyo.

Pernyataan tersebut menjadi tantangan tersendiri. Sebab, kejuaraan internasional di depan mata bisa menjadi momentum untuk mengenalkan olahraga paralayang kepada generasi muda Wonogiri.

Keberadaan atlet dari enam negara juga memberikan kesempatan bagi atlet lokal untuk melihat secara langsung standar kompetisi internasional.

Di sisi lain, ada keuntungan lain yang tidak kalah penting. Selama para atlet mengudara dari Bukit Joglo, mata mereka akan disuguhi bentang alam Wonogiri dari ketinggian.

Dengan begitu, olahraga dan pariwisata bertemu di satu ruang yang sama.

Bukit Joglo bukan hanya menjadi titik keberangkatan para atlet. Kawasan tersebut juga menjadi etalase alam Wonogiri ketika puluhan penerbang melintas di atasnya dalam perburuan jarak, waktu dan posisi terbaik.

Jika pembinaan atlet lokal terus diperkuat, event seperti PWC Pre-Series bukan tidak mungkin menjadi pintu masuk bagi Wonogiri untuk semakin dikenal sebagai salah satu destinasi sport tourism dan olahraga dirgantara di Indonesia. Aris Arianto

Exit mobile version