SOLO, JOGLOSEMARNEWS.COM -– Yayasan lingkungan Clean Rivers asal Uni Emirat Arab mendukung penuh Program Sungai Lestari di Kota Surakarta. Dukungan diberikan melalui kemitraan dengan United Nations Development Programme (UNDP) berupa pendanaan, tenaga ahli, serta pertukaran pengetahuan untuk mengurangi pencemaran sampah di sungai.
Associate Director Programmes and Impact Clean Rivers, Rainer van der Lely, mengatakan Kota Solo dipilih sebagai lokasi program berdasarkan kajian UNDP bersama Kementerian Koordinator Bidang Pangan. Ia menegaskan Clean Rivers berperan sebagai mitra pendukung, sementara penentuan lokasi dan pelaksanaan program dilakukan oleh UNDP. “UNDP memilih Solo untuk bergabung dalam program ini,” ujarnya, Selasa (4/8/2026).
Rainer menjelaskan, Clean Rivers tidak menerapkan satu jenis teknologi secara seragam. Menurutnya, setiap daerah punya karakteristik berbeda sehingga solusi harus disusun berdasarkan kondisi lokal dengan melibatkan organisasi masyarakat sipil (CSO) setempat. “Solusi untuk Solo harus datang dari Solo,” tegasnya.
Selain pendanaan, Clean Rivers juga memfasilitasi berbagi praktik baik antardaerah. Pengalaman sukses di satu lokasi diharapkan jadi pembelajaran bagi daerah lain tanpa mengabaikan perbedaan kondisi. “Pelajaran dari satu program harus dibagikan ke program lain,” tambah Rainer.
Meski belum menilai sistem pengelolaan sampah Solo secara menyeluruh, Rainer melihat komitmen kuat dari Pemkot Surakarta, kementerian, komunitas, dan CSO untuk menjalankan program ini. “Kami melihat komitmen yang sangat kuat,” katanya.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Surakarta, Herwin Tri Nugroho Adi, menyampaikan bahwa kunjungan tim Clean Rivers bertujuan memastikan keseriusan Pemkot dalam menangani sampah. Tim telah berdiskusi dengan Wali Kota dan DLH, serta meninjau langsung kondisi di kawasan Laweyan dan Joyontakan.
Hasilnya, program yang disusun bersama UNDP dinilai aplikatif dan sesuai kebutuhan warga. “Mereka menilai program ini aplikatif,” ujar Herwin.
Ia menegaskan, dukungan Clean Rivers tidak hanya sebatas pemasangan trash boom di sungai. Fokus utama program adalah edukasi masyarakat untuk mengubah perilaku mengelola sampah sejak dari rumah tangga. “Yang diubah adalah perilaku masyarakat,” katanya.
Melalui program ini, warga didorong memilah dan mengolah sampah sesuai potensi masing-masing wilayah. Pendekatan dimulai dengan mengidentifikasi persoalan dan sumber daya di tingkat kelurahan agar solusi benar-benar lahir dari masyarakat. “Solusi terbaik datang dari penduduk setempat,” ucap Herwin.
Herwin menambahkan, perubahan perilaku jadi kunci agar penanganan sampah tidak bergantung pada TPA Putri Cempo. Clean Rivers, UNDP, pemda, CSO, hingga sektor informal akan dilibatkan untuk membangun sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan. “Tujuannya bukan hanya menangani sampah, tetapi juga mengubah pola pikir masyarakat,” pungkasnya. Prihatsari
