MAGELANG, JOGLOSEMARNEWS.COM – Krisis yang menghimpit peternak ayam rakyat mulai memperlihatkan wajah yang berbeda di sejumlah daerah. Di Pati, ratusan peternak turun ke jalan dan meluapkan kemarahan karena harga pakan yang tinggi dan harga telur yang terpuruk. Sementara di Magelang, hampir 2.000 ayam afkir dibagikan gratis kepada masyarakat sebagai gambaran betapa beratnya mempertahankan usaha peternakan.
Di tengah situasi tersebut, Perum Bulog Cabang Magelang memastikan salah satu kebutuhan utama peternak, yakni jagung untuk bahan pakan, masih tersedia hingga akhir tahun.
Kepastian itu disampaikan Pimpinan Perum Bulog Cabang Magelang Iksan Suraadilaga. Ia mengatakan stok jagung dalam program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) masih cukup untuk diserap peternak.
“Stok jagung SPHP masih sangat mencukupi,” kata Iksan.
Menurut dia, Bulog Cabang Magelang mendapat alokasi jagung SPHP sebanyak 10.000 ton. Namun hingga saat ini, penyerapan baru mencapai sekitar separuh dari kuota tersebut.
Iksan menyebut masih terdapat sekitar 300 ton jagung yang siap disalurkan kepada peternak.
“Dari kuota 10.000 ton untuk Cabang Magelang, masih tersisa sekitar 50 persen atau 300 ton yang siap diserap oleh para peternak,” jelasnya.
Program tersebut menjadi salah satu intervensi pemerintah untuk menekan biaya produksi peternak yang selama ini sangat bergantung pada harga bahan baku pakan.
Skema subsidi jagung itu telah berjalan sejak Februari 2026. Bulog membeli jagung hasil panen petani dengan harga Rp6.400 per kilogram, kemudian jagung tersebut disalurkan kepada peternak melalui koperasi dengan harga hanya Rp5.000 per kilogram.
Selisih antara harga pembelian dan harga penyaluran tersebut menjadi beban subsidi pemerintah.
“Selisih harga sebesar Rp1.400 per kilogram ditanggung oleh pemerintah dalam bentuk subsidi,” ujar Iksan.
Bagi peternak ayam petelur, kebijakan tersebut cukup penting karena pakan merupakan salah satu komponen biaya terbesar dalam menjaga produktivitas kandang.
“Program ini diharapkan dapat membantu menekan biaya pakan sehingga beban produksi yang ditanggung peternak bisa lebih ringan,” katanya.
Harga Telur Mulai Bergerak
Persoalan peternak bukan hanya soal mahalnya pakan. Harga jual telur yang fluktuatif juga menjadi tekanan tersendiri karena menentukan apakah biaya produksi yang telah dikeluarkan dapat kembali atau justru berubah menjadi kerugian.
Kabar sedikit lebih baik datang dari perkembangan harga telur di Magelang.
Bulog mencatat harga telur yang sebelumnya sempat melemah kini mulai bergerak naik. Salah satu penyebab turunnya harga beberapa waktu lalu disebut berkaitan dengan berkurangnya serapan pasar selama masa libur sekolah.
“Penurunan harga sebelumnya sempat dipicu oleh masa libur sekolah yang mengurangi tingkat penyerapan pasar,” ujarnya.
Namun, memasuki periode setelah libur sekolah, kondisi pasar mulai menunjukkan perubahan.
Pemantauan harga yang dilakukan melalui DataGO secara real-time menunjukkan adanya kecenderungan kenaikan harga telur.
“Berdasarkan pemantauan harian real-time DataGO, tren harga telur saat ini mulai menunjukkan pergerakan naik dan diharapkan segera kembali stabil sesuai regulasi pemerintah,” kata Iksan.
Perubahan tersebut tentu menjadi kabar positif bagi peternak. Namun, kenaikan harga telur belum otomatis menyelesaikan seluruh persoalan karena struktur biaya produksi masih menjadi tantangan.
Selama harga pakan tetap tinggi dan pasar tidak mampu menyerap hasil produksi secara konsisten, margin keuntungan peternak akan tetap berada dalam tekanan.
Gambaran mengenai beratnya kondisi tersebut terlihat dari pembagian hampir 2.000 ayam afkir di Alun-Alun Kota Magelang.
Ayam afkir merupakan ayam yang produktivitas telurnya sudah menurun sehingga harus dikeluarkan dari kandang. Bagi peternak, mempertahankan ayam yang tidak lagi produktif berarti menambah beban biaya pakan dan pemeliharaan tanpa imbal hasil yang sebanding.
Fenomena di Magelang tersebut menjadi bagian dari persoalan yang lebih luas di sektor peternakan rakyat.
Di Pati, misalnya, ratusan peternak unggas bahkan turun ke jalan menyuarakan keberatan atas tingginya biaya pakan dan rendahnya harga jual hasil ternak. Mereka menilai ketimpangan antara biaya produksi dan harga jual semakin membuat usaha peternakan rakyat sulit bertahan.
Karena itu, ketersediaan jagung SPHP hingga akhir tahun diharapkan tidak hanya menjadi kabar baik di atas kertas, tetapi benar-benar dapat diakses peternak yang membutuhkan.
Persoalan peternakan rakyat pada akhirnya tidak cukup diselesaikan hanya dengan menjaga salah satu komponen biaya. Pemerintah perlu memastikan rantai usaha dari pakan hingga pemasaran telur dan ayam berjalan seimbang.
Harga pakan yang terkendali, harga jual yang layak, serta kepastian penyerapan produksi menjadi tiga mata rantai yang menentukan apakah peternak rakyat mampu bertahan atau justru semakin banyak yang meninggalkan usahanya.
Di tengah gejolak yang mulai muncul di berbagai daerah, kepastian pasokan jagung subsidi menjadi salah satu bantalan yang penting. Namun, efektivitasnya tetap akan ditentukan oleh seberapa jauh kebijakan tersebut benar-benar mampu mengurangi beban produksi peternak di lapangan. [*] Disarikan dari sumber berita media daring
