Site icon JOGLOSEMAR NEWS

Josjis! Minat Baca Siswa SMPN 1 Selogiri Meledak dari 40% Jadi 85,03 Persen, KOTAK MASA, Rahasianya Bikin Penasaran

Literasi

Penerapan KOTAK MASA di SMPN 1 Selogiri Wonogiri. Dok. SMPN 1 Selogiri

WONOGIRI, JOGLOSEMARNEWS.COM – Ada cara berbeda yang dilakukan SMP Negeri 1 Selogiri, Kabupaten Wonogiri, untuk menghadapi tantangan budaya membaca di kalangan pelajar. Ketika buku harus bersaing dengan derasnya konten media sosial dan video pendek, sekolah tersebut justru memilih menghadirkan komik sebagai pintu masuk untuk membuat siswa kembali tertarik membaca.

Hasilnya tidak main-main. Inovasi literasi bernama KOTAK MASA (Komik Tanamkan Kegemaran Membaca Siswa) itu mampu meningkatkan persentase siswa yang memiliki minat membaca dari 40 persen menjadi 85,03 persen.

Angka tersebut menjadi salah satu capaian menarik dari program yang dirancang SMPN 1 Selogiri untuk mengubah kebiasaan membaca siswa. Laporan inovasi KOTAK MASA dirilis pada 22 Juni 2026.

Sebelum program berjalan, sekolah menemukan sejumlah persoalan dalam budaya literasi siswa. Data internal menunjukkan hanya sekitar 40 persen siswa yang menyukai buku-buku yang tersedia di sekolah.

Persoalannya tidak berhenti di minat membaca. Kemampuan siswa dalam mengolah informasi juga masih perlu diperkuat. Tercatat hanya 30,07 persen siswa yang mampu menjawab soal secara kritis, sementara kemampuan menjelaskan kembali materi yang telah dipelajari berada di angka 34,44 persen.

Kondisi tersebut kemudian menjadi dasar bagi sekolah untuk mencari pendekatan baru.

Kepala SMP Negeri 1 Selogiri, Agus Joko Sumarno, mengatakan perkembangan teknologi dan masifnya konten audio visual membuat sekolah tidak bisa menggunakan pendekatan literasi secara monoton.

“Kami harus bergerak. Membaca itu pondasi. Kalau anak tidak suka membaca, daya analisis dan berpikir kritisnya juga tertinggal. Lewat KOTAK MASA kami ingin mengubah mindset bahwa membaca itu membosankan menjadi membaca itu menyenangkan,” kata Agus Joko Sumarno, Rabu (19/8/2026).

Dari gagasan itulah KOTAK MASA dikembangkan. Komik dipilih bukan sekadar sebagai gambar penghias materi, tetapi menjadi media untuk menyampaikan pesan dan informasi dengan format yang lebih dekat dengan karakter siswa.

Program tersebut kemudian dipadukan dengan kegiatan pembiasaan bernama SELAGI atau Selasa Literasi Pagi.

Setiap Selasa pukul 07.00-07.15 WIB, sebelum kegiatan belajar mengajar dimulai, siswa melakukan aktivitas literasi di ruang kelas masing-masing.

Waktu yang relatif singkat tersebut dimanfaatkan secara konsisten. Polanya dibuat sederhana agar membaca tidak terasa seperti tugas tambahan yang membebani siswa.

Menariknya, proses pembuatan komik juga memanfaatkan perkembangan teknologi digital. Tim inovasi menggunakan Gemini AI sebagai salah satu alat bantu dalam menghasilkan materi visual yang kemudian disesuaikan dengan kebutuhan dan karakter siswa.

Teknologi tersebut tidak ditempatkan sebagai pengganti peran guru. Justru guru tetap menjadi pihak yang menentukan materi, mengarahkan isi, serta memastikan pesan yang disampaikan melalui komik sesuai dengan tujuan pembelajaran dan literasi sekolah.

Ketua Tim Inovasi KOTAK MASA sekaligus inovator, Esti Handayani, mengatakan keberhasilan program tersebut tidak datang secara instan. Tim berupaya membuat materi yang tidak jauh dari kehidupan sehari-hari siswa sehingga mereka lebih mudah tertarik untuk membaca.

“Tujuan kami sederhana, membangun budaya literasi yang berkesinambungan. Kami ingin siswa membaca tanpa paksaan, berpikir kritis, dan informasinya bisa tersimpan lebih lama. Hasilnya alhamdulillah di luar ekspektasi. Partisipasi siswa naik drastis jadi 85,03 persen. Kemampuan berpikir kritis naik jadi 50,07 persen. Daya ingat siswa juga naik jadi 75,23 persen,” ungkap Esti Handayani.

Perubahan angka tersebut menjadi bagian penting dari evaluasi program. Jika sebelumnya tingkat kesenangan siswa terhadap aktivitas membaca hanya 40 persen, setelah penerapan KOTAK MASA meningkat menjadi 85,03 persen.

Sementara itu, kemampuan berpikir kritis yang sebelumnya tercatat 30,07 persen meningkat menjadi 50,07 persen. Kemampuan mengingat atau menyimpan informasi yang dipelajari juga mencapai 75,23 persen.

Bagi SMPN 1 Selogiri, capaian tersebut menunjukkan bahwa pendekatan literasi dapat dikembangkan mengikuti perubahan kebiasaan generasi muda.

Komik menjadi media penghubung. Teknologi digital menjadi alat bantu. Sedangkan pembiasaan membaca tetap menjadi inti program.

31 guru dan karyawan terlibat dalam tim inovasi KOTAK MASA. Esti Handayani dipercaya sebagai ketua tim, Fadil Pradipta sebagai sekretaris, dan Tri Widiyastuti sebagai bendahara.

Tim tersebut juga melibatkan Nanik Pujiyanti, Eko Puji Hastuti, Sri Endang Lestari, Eny Kusrini, Harmini, Christiana Ninik Rahayu, Siti Muninggar, Emi Diah Lestari, Yuliani, Agus Triyatno, Endro Tri Latmoko, Bowo Nurcahyo, Rosita Tuti Hartini, Slamet Susilo, Supraptini, Aryo Danurwindo, Setyaningsih, Erna Setyowati, Ponco Suhardi, Eny Kurniawati, Sri Nuryanti, Rizkie Perdana, Wahyu Tri Sajiwo, Fitri Widyaningsih, Mulyani, Neni Midaningsih, Wahyu Yulianto, dan Antonius Bambang Natal.

Keterlibatan banyak guru dan karyawan membuat KOTAK MASA tidak berhenti sebagai proyek satu orang atau satu kelompok. Program tersebut diarahkan menjadi bagian dari budaya sekolah.

Dari sisi guru, inovasi ini juga memberikan dampak terhadap proses pembelajaran. Guru terdorong mengembangkan materi dengan pendekatan yang lebih kreatif, sekaligus mencari cara agar informasi yang diberikan kepada siswa lebih mudah dipahami dan diingat.

Sementara bagi sekolah, KOTAK MASA mendukung pelaksanaan Gerakan Literasi Sekolah sekaligus memperkuat citra SMPN 1 Selogiri sebagai sekolah yang terbuka terhadap inovasi pendidikan.

Program ini juga diharapkan dapat berkontribusi terhadap peningkatan kualitas hasil belajar dan rapor pendidikan sekolah.

Untuk menjalankan inovasi tersebut, pembiayaan KOTAK MASA bersumber dari RKAS SMP Negeri 1 Selogiri. Anggaran digunakan untuk memenuhi berbagai kebutuhan peralatan pendukung pembuatan komik dan pelaksanaan program literasi.

Yang menarik, keberhasilan KOTAK MASA memperlihatkan bahwa upaya menghidupkan kembali budaya membaca tidak selalu harus dilakukan dengan cara lama.

Di tengah kebiasaan anak-anak mengonsumsi konten visual secara cepat, sekolah mencoba masuk melalui format yang mereka sukai, lalu mengarahkannya kembali pada aktivitas membaca, memahami informasi, mengingat, dan berpikir kritis.

Dari angka 40 persen menjadi 85,03 persen, SMPN 1 Selogiri menunjukkan bahwa perubahan kebiasaan membaca bisa dimulai dari pendekatan sederhana, tetapi dilakukan secara konsisten.

Ke depan, sekolah berharap KOTAK MASA tidak hanya menjadi inovasi internal. Program tersebut diharapkan dapat direplikasi dan dikembangkan oleh sekolah lain di Wonogiri maupun daerah lain sebagai salah satu alternatif untuk memperkuat budaya literasi pelajar.

Pada akhirnya, tantangan terbesar literasi bukan semata-mata bagaimana membuat siswa membaca buku lebih banyak. Tantangannya adalah bagaimana membuat mereka mau membaca, memahami apa yang dibaca, mampu mengolah informasi, lalu menggunakannya untuk berpikir lebih kritis.

Dan SMPN 1 Selogiri mencoba menjawab tantangan itu melalui sebuah pendekatan yang sederhana: membuat membaca terasa lebih dekat dengan dunia siswa. Aris Arianto

Exit mobile version