JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM – Polemik makalah ilmiah yang mengusulkan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai kandidat Hadiah Nobel Perdamaian 2026 memasuki babak baru. Setelah menuai perhatian publik karena mencantumkan nama Presiden Prabowo Subianto sebagai penulis, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) mengungkap adanya dugaan pencatutan identitas sejumlah pihak tanpa sepengetahuan mereka.
Temuan awal tersebut diperoleh setelah Kemendiktisaintek membentuk tim investigasi khusus untuk menelusuri makalah berjudul Nobel Peace Prize 2026 Free Meal Program by the National Nutrition Agency yang diunggah melalui platform SSRN.
Dalam proses klarifikasi, tim investigasi menghubungi sejumlah nama yang tercantum sebagai penulis makalah. Hasilnya, beberapa pihak mengaku sama sekali tidak mengetahui keberadaan paper tersebut, apalagi memberikan persetujuan untuk dicantumkan sebagai penulis.
“Berdasarkan hasil koordinasi dengan sejumlah pihak yang namanya tercantum dalam paper tersebut, diperoleh keterangan bahwa mereka tidak mengetahui, tidak pernah dimintai persetujuan, dan tidak terlibat dalam proses penyusunan maupun pengunggahan paper dimaksud,” demikian pernyataan Kemendiktisaintek dalam siaran pers, Jumat (7/8/2026).
Kementerian menyebut temuan tersebut selaras dengan informasi dari perguruan tinggi asal penulis utama berinisial DD. Berdasarkan penelusuran, DD telah membuat pernyataan sekaligus menyampaikan permohonan maaf terkait polemik tersebut.
Kemendiktisaintek juga meluruskan informasi mengenai status akademik DD. Berdasarkan hasil investigasi, yang bersangkutan belum menyandang jabatan guru besar dan tidak tercatat sebagai dosen yang berafiliasi dengan perguruan tinggi mana pun.
“Berdasarkan informasi yang diperoleh tim, yang bersangkutan tersebut baru menjalani sidang promosi doktor beberapa waktu yang lalu,” demikian isi keterangan kementerian.
Selain menelusuri dugaan pelanggaran etika publikasi, Kemendiktisaintek juga memberikan penjelasan mengenai platform SSRN yang menjadi tempat makalah itu dipublikasikan.
Menurut kementerian, SSRN hanyalah repositori atau platform publikasi preprint yang memungkinkan peneliti mengunggah naskah ilmiah sebelum melalui proses penelaahan ilmiah. Karena itu, keberadaan sebuah makalah di SSRN tidak dapat diartikan sebagai pengakuan ataupun verifikasi dari Komite Nobel.
Kementerian juga menegaskan bahwa penggunaan istilah nomination atau nominasi dalam judul makalah tidak berarti telah terjadi nominasi resmi untuk Hadiah Nobel Perdamaian.
Proses nominasi Nobel, lanjut Kemendiktisaintek, memiliki mekanisme yang sangat ketat dan hanya dapat dilakukan oleh pihak-pihak yang memiliki kewenangan. Bahkan, identitas para nominator maupun kandidat dijaga kerahasiaannya oleh Komite Nobel selama 50 tahun.
“Dengan demikian, keberadaan paper di SSRN tidak dapat dijadikan bukti bahwa seseorang telah memperoleh nominasi resmi Nobel,” tulis Kemendiktisaintek.
Kementerian juga menegaskan bahwa pencantuman nama seseorang sebagai penulis dalam sebuah paper di SSRN tidak otomatis menunjukkan adanya persetujuan dari yang bersangkutan. Identitas penulis sepenuhnya diinput oleh pihak yang mengunggah naskah.
Karena itu, dugaan pencatutan nama dalam paper tersebut dinilai sebagai persoalan serius dalam etika publikasi ilmiah yang harus ditindaklanjuti sesuai ketentuan. Kemendiktisaintek memastikan proses investigasi masih berlangsung dan hasil akhirnya akan diumumkan kepada publik setelah seluruh tahapan klarifikasi rampung.
Sebelumnya, hingga Kamis (6/8/2026), makalah berjudul Nobel Peace Prize 2026 Free Meal Program by the National Nutrition Agency Building Smart Business for Food Security Industry and Indonesia’s Economic Growth masih dapat diakses melalui situs SSRN. Dalam daftar penulis, nama Presiden Prabowo Subianto tercantum di urutan pertama bersama sembilan nama akademikus lainnya.
Makalah tersebut memaparkan Program Makan Bergizi Gratis sebagai model yang menggabungkan kebijakan kesejahteraan sosial dengan pendekatan bisnis untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. [*] Disarikan dari sumber berita media daring
