JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM – Pengunduran diri Perry Warjiyo dari kursi Gubernur Bank Indonesia langsung memicu beragam spekulasi politik mengenai sosok yang akan memimpin bank sentral berikutnya.
Sejumlah nama bermunculan, mulai dari figur yang dikaitkan dengan lingkaran kekuasaan hingga ekonom senior yang dinilai memiliki kapasitas menjaga independensi Bank Indonesia.
Di tengah berbagai spekulasi tersebut, dua nama justru semakin sering disebut sebagai kandidat kuat, yakni Muhamad Chatib Basri dan Muliaman Darmansyah Hadad. Keduanya dinilai memiliki rekam jejak panjang dalam merumuskan kebijakan ekonomi, mengelola stabilitas sektor keuangan, hingga berkiprah di level internasional.
Meski demikian, hingga kini pemerintah belum mengumumkan secara resmi siapa calon Gubernur Bank Indonesia yang akan diajukan kepada DPR. Saat ini, kepemimpinan BI untuk sementara dijalankan oleh Destry Damayanti sebagai Pejabat Gubernur Sementara (PGS).
Muhamad Chatib Basri
Muhamad Chatib Basri lahir di Jakarta pada 22 Agustus 1965. Ekonom lulusan Universitas Indonesia ini kemudian menyelesaikan pendidikan Master of Economic Development dan meraih gelar doktor (Ph.D.) bidang Ekonomi di Australian National University (ANU), Australia.
Saat ini Chatib menjabat sebagai Anggota Dewan Ekonomi Nasional (DEN). Sebelumnya, ia pernah mengemban berbagai posisi penting, antara lain peneliti LPEM UI, penasihat Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Deputi Menteri Keuangan untuk G20, Wakil Ketua Komite Ekonomi Nasional, Kepala BKPM, hingga Menteri Keuangan RI periode 2013–2014.
Di tingkat global, Chatib juga dipercaya menjadi Co-Chair Pandemic Fund di Bank Dunia serta duduk sebagai penasihat di sejumlah lembaga keuangan internasional. Selain itu, ia tetap aktif sebagai akademisi di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia.
Muliaman Darmansyah Hadad
Muliaman Darmansyah Hadad lahir di Bekasi pada 3 April 1960. Ia menyelesaikan pendidikan Sarjana Ekonomi di Universitas Indonesia, Master of Public Administration di Harvard University, Amerika Serikat, serta doktor (Ph.D.) bidang Business and Economics di Monash University, Australia.
Kariernya dimulai di Bank Indonesia pada 1986. Selama lebih dari dua dekade, ia menduduki berbagai posisi strategis hingga dipercaya menjadi Deputi Gubernur BI selama dua periode (2006–2012). Meski demikian, ia belum pernah menjabat sebagai Gubernur Bank Indonesia.
Selepas dari BI, Muliaman dipercaya menjadi Ketua Dewan Komisioner pertama Otoritas Jasa Keuangan (OJK), kemudian menjabat Duta Besar RI untuk Swiss dan Liechtenstein pada 2018–2023. Pada awal pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, ia kembali mendapat amanah memimpin Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara).
Dengan pengalaman panjang di Bank Indonesia, OJK, dunia diplomasi, hingga pengelolaan investasi negara, Muliaman dipandang sebagai salah satu figur yang memiliki bekal kuat apabila dipercaya memimpin bank sentral.
Sampai saat ini, seluruh nama yang beredar, termasuk Chatib Basri dan Muliaman Hadad, masih sebatas kandidat yang berkembang di ruang publik. Pemerintah belum mengumumkan secara resmi siapa sosok yang akan diajukan sebagai Gubernur Bank Indonesia definitif.
Menurutku, angle seperti ini lebih bernilai berita. Pembuka tidak langsung “mengiklankan” dua tokoh, tetapi mengangkat isu besarnya, yakni ramainya spekulasi politik pasca-pengunduran diri Perry Warjiyo. Setelah pembaca “terkait” dengan isu tersebut, baru diarahkan ke dua nama yang kini dinilai paling kredibel. Ini membuat alurnya lebih hidup dan lebih khas feature-straight news ala media nasional. [*] Disarikan dari sumber berita media daring
