Site icon JOGLOSEMAR NEWS

Program Pengabdian Internasional UNS Perkuat Industri Gula Semut Kebumen, Dukung Pencapaian SDGs 8 dan SDGs 17

KEBUMEN, JOGLOSEMARNEWS.COM — Tim pengabdian masyarakat Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta menggelar Focus Group Discussion (FGD) bersama kelompok petani dan pemerintah daerah untuk memperkuat pengembangan industri gula semut di Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah.

Kegiatan yang berlangsung di Kantor UPTD Metrologi Legal Kebumen, Jl. Dr. R. Moehiman Kromoatmodjo No. 6, Dukuh, Kebumen, Rabu (19/8/2026), tersebut diarahkan untuk mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi serta SDGs 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

FGD melibatkan perwakilan kelompok petani serta Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah Kabupaten Kebumen. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari Program Pengabdian Internasional Mandatory (PIM) UNS yang diarahkan untuk meningkatkan kapasitas pelaku industri gula semut, khususnya di Kecamatan Sempor

Kegiatan FGD ini merupakan kelanjutan dari Workshop on Financial Literacy atau Workshop Literasi Keuangan dengan tema “Memperkuat Kapasitas Industri Gula Semut Berorientasi Ekspor sebagai Sektor Unggulan di Kabupaten Kebumen melalui Literasi Keuangan dan Kemitraan Lokal”, yang telah dilaksanakan di Desa Wonoharjo, Kabupaten Kebumen pada Jumat (8/5/2026) lalu.

Kontribusi terhadap SDGs 8 (Decent Work and Economic Growth/Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) diwujudkan melalui upaya meningkatkan kapasitas manajerial, literasi keuangan, produktivitas, dan daya saing pelaku usaha gula semut. Penguatan usaha berbasis potensi lokal diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah produk, memperluas akses pasar, dan pada akhirnya memperkuat perekonomian masyarakat.

Sementara itu, dukungan terhadap SDGs 17 (Partnerships for the Goals/Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) diwujudkan melalui pengembangan kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, kelompok petani, BUMDes, dan pelaku industri. Kemitraan multipihak tersebut diharapkan membentuk ekosistem industri gula semut yang lebih transparan, akuntabel, dan berkelanjutan.

Industri gula semut merupakan salah satu potensi ekonomi lokal Kebumen yang memiliki peluang untuk terus dikembangkan. Di Kecamatan Sempor terdapat sekitar 50 dapur petani yang menjadi bagian dari ekosistem produksi gula semut. Rantai produksinya melibatkan petani penyadap nira, petani pengolah, unit pengemasan, BUMDes, serta mitra industri.

Selain memiliki potensi pasar domestik, gula semut Kebumen juga mempunyai peluang untuk memasuki pasar ekspor. Namun, pengembangan industri tersebut masih menghadapi sejumlah persoalan, terutama berkaitan dengan kemampuan manajemen usaha dan penguatan hubungan antarpelaku dalam rantai produksi.

FGD menjadi sarana untuk menggali secara langsung pengalaman, kebutuhan, serta persoalan yang dihadapi petani. Masukan dari pelaku usaha dan pemerintah daerah selanjutnya akan digunakan sebagai dasar untuk merancang program pendampingan yang sesuai dengan kondisi lapangan.

Program PIM UNS memprioritaskan tiga persoalan dalam pengembangan industri gula semut Sempor, yakni masih terbatasnya literasi keuangan dan sistem pembukuan usaha, belum kuatnya model kemitraan lokal yang terdokumentasi dan berkelanjutan, serta perlunya peningkatan kapasitas manajerial untuk mendukung usaha yang berorientasi pada pasar yang lebih luas, termasuk ekspor.

Dalam praktiknya, sebagian pelaku usaha masih melakukan pencatatan transaksi, perhitungan biaya produksi, pengelolaan arus kas, dan perhitungan keuntungan secara sederhana. Kondisi tersebut menjadi tantangan dalam pengembangan usaha karena pengelolaan keuangan yang baik diperlukan untuk perencanaan usaha, evaluasi kinerja, akses pembiayaan, maupun pemenuhan kebutuhan administrasi untuk memasuki pasar yang lebih luas.

Selain penguatan literasi keuangan, program memberikan perhatian pada pola kemitraan antara petani, BUMDes, unit pengolah, dan mitra industri. Kemitraan yang transparan dan terdokumentasi dinilai penting untuk menciptakan rantai pasok yang lebih stabil sekaligus memastikan hubungan usaha yang saling menguntungkan.

Hasil FGD akan menjadi bagian dari proses penyusunan model kemitraan lokal yang lebih terstruktur. Model tersebut diharapkan dapat memperjelas peran masing-masing pihak dalam rantai nilai gula semut, mulai dari petani penyadap dan pengolah hingga lembaga desa dan industri yang berhubungan dengan pemasaran produk.

Program pengabdian ini juga merencanakan penerapan sistem pengelolaan keuangan digital berbasis website. Sistem tersebut dirancang untuk membantu pelaku usaha melakukan pencatatan penjualan, pembelian bahan baku, pengelolaan arus kas, serta pemantauan kinerja usaha secara lebih sistematis. Fitur kemitraan digital juga akan mendukung koordinasi antara petani nira, pengolah, BUMDes, dan mitra industri agar lebih transparan dan terdokumentasi.

Program PIM melibatkan tim lintas disiplin dari Fakultas Ilmu Sosial dan Politik UNS, yaitu Program Studi Ilmu Administrasi Negara, Ilmu Komunikasi, Sosiologi, dan Hubungan Internasional. Tim terdiri atas Dr. Asal Wahyuni Erlin Mulyadi, S.Sos., MPA; Muhammad Faqih Annshori, S.AP., MPA; Sri Hastjarjo, S.Sos., Ph.D.; Dr. Likha Sari Anggreni, S.Sos., M.Soc.Sc.; Dr. Siti Zunariyah, S.Sos., M.Si.; dan Muhammad Chanif Hidayat, M.A.

Dimensi internasional program diperkuat dengan keterlibatan pakar dari Universiti Putra Malaysia dalam penguatan literasi keuangan terapan dan pengembangan model kemitraan lokal. Kolaborasi internasional tersebut menjadi bagian dari upaya mempertemukan pengetahuan akademik dengan pengalaman pelaku usaha serta dukungan pemerintah daerah dalam meningkatkan daya saing gula semut Kebumen.

Melalui FGD dan rangkaian kegiatan pendampingan berikutnya, program PIM UNS diharapkan dapat memberikan kontribusi konkret terhadap SDGs 8 melalui penguatan usaha produktif, peningkatan kapasitas pelaku usaha, dan pertumbuhan ekonomi lokal, serta SDGs 17 melalui pembangunan kemitraan yang kuat antara perguruan tinggi, pemerintah, masyarakat, dan pelaku usaha.

Penguatan kapasitas dan kemitraan tersebut diharapkan membuat potensi gula semut yang telah dimiliki masyarakat Kebumen berkembang menjadi usaha yang semakin profesional, produktif, berkelanjutan, serta memiliki daya saing untuk menjangkau pasar nasional maupun internasional. (Ali)

Exit mobile version