Site icon JOGLOSEMAR NEWS

Suara Inklusi untuk Semua 2026, Bentangkan 1.000 Meter Merah Putih Hingga Berhasil Pecahkan Rekor Muri

Ketua Panitia Founder Diwa Foundation, Diah Warih Anjari. Istimewa

YOGYAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM — Kawasan Malioboro Yogyakarta, Rabu, (12/08/2026) sore mendadak meriah dengan perayaan keberagaman dan kesetaraan yang dibalut dalam gelaran acara Suara Inklusi untuk Semua 2026 yang diinisiasi oleh Diwa Foundation.

Parade kebangsaan yang diikuti ribuan orang dari berbagai unsur kemasyarakatan, organisasi massa, kepemudaan, hingga TNI/Polri mengawali gelaran acara ini.

Dilanjutkan dengan pembentangan 1.000 meter bendera merah putih di sepanjang Jalan Malioboro.

Dimana turut dihadiri oleh Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Hariyadi (Titiek Soeharto), Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Prof.Dr. Abdul Mu’ti, Wakil Gubernur DiY Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo (KGPAA) Paku Alam X, Walikota Yogyakarta Hasto Wardoyo jajaran forkopimda, dan Ketua Panitia Founder Diwa Foundation, Diah Warih Anjari.

Lalu dilanjutkan dengan pemecahan Rekor Muri pengucapan dan pembacaan teks proklamasi Pancasila dengan bahasa isyarat oleh penyandang disabilitas terbanyak.

Ketua Panitia sekaligus Founder Diwa Foundation, Diah Warih Anjari menjelaskan bahwa inklusi bukan hanya sekedar empati, bukan pula berupa uluran tangan dari tangan yang di atas kepada tangan yang menadah.

Lebih daripada itu, inklusi adalah sebuah upaya pendekatan untuk menciptakan lingkungan yang terbuka, adil dan merata bagi semua individu. Dengan memegang penuh prinsip utama inklusi yaitu kesetaraan tanpa diskriminasi, kesetaraan kesetaraan dalam keberagaman.

“Kami dari Diwa Foundation merasa berbahagia dapat bergotong-royong secara langsung bersama masyarakat Jogja mewujudkan Suara Inklusi 2026,” ungkapnya.

Diah melanjutkan bahwa suara Inklusi bukanlah sesuatu yang baru bagi bangsa ini, khususnya suku bangsa Jawa.

Indonesia telah dianugerahi oleh para pendahulu dan leluhur sebuah sikap dan prinsip-prinsip dasar yang menyuarakan inklusi dalam tatanan kehidupan sosial.

“Kita diajarkan tentang tata krama, tepo seliro, dan musyawarah mufakat, gotong royong, sikap nrimo, luwes, ngeluruk tanpa bala, menang tanpa ngasorake adalah wujud peninggalan leluhur bangsa ini dalam mengajarkan arti inklusivitas yang sesungguhnya,” terangnya.

Diah menyebut Kraton Yogyakarta telah memberikan teladan kepada semuanya tentang arti inklusi yang telah berlangsung secara turun temurun dengan memberikan tempat kepada kalangan difabel dalam abdi polo wijo.

Bahkan menempatkan kalangan ini sebagai abdi kinasih yang artinya adalah mereka abdi-abdi yang dikasih dan disayang oleh raja.

“Itulah yang menjadikan kami Diwa Foundation memilih Kota Yogyakarta sebagai titik awal ini disuarakan pesan Suara Inklusi. Untuk digaungkan ke seluruh pelosok negeri. Semoga Suara Inklusi ini akan bergaung, bergema ke seluruh pelosok negeri dan menyuarakan akan pentingnya kesetaraan dalam keberagaman dan mengembalikan nilai-nilai luhur bangsa ini,” paparnya.

Diah berharap semoga suara inklusi ini terus bergema, menata kembali nilai-nilai dalam tatanan berkehidupan sosial berbangsa dan bertanah air. Ando

Exit mobile version