Beranda Daerah Solo UNS Dampingi UMKM Gethuk Bu Sri Tingkatkan Produksi dan Perluas Pemasaran melalui...

UNS Dampingi UMKM Gethuk Bu Sri Tingkatkan Produksi dan Perluas Pemasaran melalui Teknologi Tepat Guna

Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) terus mendorong hilirisasi hasil penelitian dan teknologi tepat guna agar memberikan dampak langsung bagi masyarakat. Salah satunya melalui pendampingan kepada UMKM Gethuk Bu Sri di Kemuning, Ngargoyoso, Karanganyar, Jawa Tengah, yang dilakukan oleh Riset Group (RG) Manajemen Inovasi dan Agribisnis UNS.

SOLO, JOGLOSEMARNEWS.COM — Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) terus mendorong hilirisasi hasil penelitian dan teknologi tepat guna agar memberikan dampak langsung bagi masyarakat. Salah satunya melalui pendampingan kepada UMKM Gethuk Bu Sri di Kemuning, Ngargoyoso, Karanganyar, Jawa Tengah, yang dilakukan oleh Riset Group (RG) Manajemen Inovasi dan Agribisnis UNS.

Pendampingan tersebut telah dilakukan dalam beberapa kegiatan pengabdian kepada masyarakat secara berkelanjutan. Tim yang dipimpin Prof. Dr. Ir. Mohamad Harisudin, M.Si., bersama Prof. Dr. Erlyna Wida Riptanti, S.P., M.P., dan Isti Khomah, S.P., M.Si. sebelumnya melakukan pendampingan dalam pengembangan produk gethuk, kemudian berlanjut pada pengembangan produk timus. Pada tahap berikutnya, UNS membantu mitra melalui penerapan teknologi tepat guna, pengemasan, serta penguatan pemasaran.
Kepala Seksi Peraihan Dana Pengabdian Masyarakat Eksternal dan Pengembangan Pusat Studi LPPM UNS, Sarjiyanto, S.E., MBA., Ph.D., CSRS, menyampaikan bahwa kegiatan evaluasi pengabdian kepada masyarakat merupakan bagian dari upaya LPPM untuk memastikan program yang dilaksanakan perguruan tinggi memberikan dampak nyata bagi mitra. Melalui evaluasi tersebut, LPPM juga dapat memperoleh masukan langsung dari mitra sebagai bahan perbaikan dan pengembangan program pengabdian kepada masyarakat di masa mendatang.

“Tugas dari LPPM adalah mengoordinasikan penelitian dan pengabdian. Hari ini kami melakukan evaluasi pelaksanaan pengabdian. Harapannya, kami dari perguruan tinggi tentunya ingin memberikan dampak kepada masyarakat,” ujar Sarjiyanto saat melakukan kunjungan ke Omah Produksi Gethuk Bu Sri di Kemuning pada Kamis (1/10/2026).

Ia menjelaskan, teknologi yang diterapkan dalam pendampingan Gethuk Bu Sri merupakan bentuk hilirisasi teknologi tepat guna yang dikembangkan di lingkungan UNS. Teknologi tersebut diharapkan dapat membantu menyelesaikan persoalan yang dihadapi UMKM, sekaligus meningkatkan efisiensi proses produksi.

“Teknologi tepat guna yang ditransfer diharapkan murah dan ramah energi, sehingga perawatannya tidak membebani mitra. Ini menjadi salah satu catatan penting kami dalam pelaksanaan pengabdian,” imbuhnya.

Sementara itu, Prof. Harisudin menjelaskan bahwa pendampingan Gethuk Bu Sri berawal dari pemetaan kebutuhan mitra. Sebelum menyusun proposal pengabdian, tim terlebih dahulu berdiskusi dan mengidentifikasi persoalan yang dihadapi UMKM, terutama dalam proses produksi dan pemasaran.

“Saat itu kami berpikir, ketika formula timusnya sudah siap bersaing, ada keresahan karena tenaga untuk mengaduk cukup besar dan membutuhkan waktu lama. Maka kami mencoba mengenalkan teknologi tepat guna untuk pengadukan adonan,” jelas Prof. Harisudin.

Salah satu teknologi yang diberikan berupa mesin pengaduk atau penggiling yang membantu proses pengolahan adonan timus. Menurutnya, penggunaan mesin membuat proses produksi menjadi lebih efisien sekaligus menghasilkan adonan yang lebih merata.

Baca Juga :  Andi Azwan Sebut Gibran Bakal Perlihatkan Ijazah, Waktunya? Publik Diminta Menunggu

Selain mendukung proses produksi, UNS juga memberikan pendampingan dalam aspek pengemasan. Mesin vakum diperkenalkan agar produk Gethuk Bu Sri dapat dikemas dengan lebih baik dan dikirim kepada konsumen di luar daerah.

“Harapan kami, selain memperbaiki adonan agar lebih merata dan efisien, produk ini juga bisa dikonsumsi oleh konsumen dengan jangkauan yang lebih luas,” terang Prof. Harisudin.

Pendampingan tidak berhenti pada pemberian alat. Tim UNS juga membantu mitra dalam menentukan jenis plastik yang sesuai untuk pengemasan vakum, termasuk pengaturan tekanan dan waktu vakum untuk masing-masing produk.

Prof. Harisudin menegaskan, pola pengabdian yang dilakukan UNS mengedepankan pendampingan secara langsung hingga teknologi yang diberikan benar-benar dapat dimanfaatkan oleh mitra. Apabila ditemukan kendala dalam penggunaan alat, tim akan melakukan evaluasi dan modifikasi agar teknologi sesuai dengan kebutuhan di lapangan.

“Kadang alat tidak mesti langsung sesuai dengan permasalahan. Karena itu, kami tetap mendampingi dan mencari solusi sampai akhirnya teknologi tersebut dapat digunakan dengan baik oleh mitra,” jelasnya.

Produksi Lebih Efisien, Pemasaran Semakin Luas

Pemilik Gethuk Bu Sri, Tatik Setyaningsih mengungkapkan bahwa pendampingan UNS memberikan manfaat nyata bagi perkembangan usahanya. Ia menyebut, bantuan mesin sangat membantu karena sebagian besar pegawainya merupakan perempuan sehingga keterbatasan tenaga menjadi salah satu kendala dalam proses produksi.

“Satu adonan itu sekitar 20 kilogram. Setelah ada bantuan mesin, 20 kilogram bisa diproses sekaligus dan hanya membutuhkan waktu sekitar 15 menit. Sebelumnya harus dilakukan sedikit demi sedikit sehingga membutuhkan waktu lebih lama,” ungkap Tatik.

Efisiensi tersebut membuat kapasitas produksi meningkat. Jika sebelumnya dalam sehari hanya mampu memproduksi sekitar dua hingga tiga adonan, kini mitra memiliki kesempatan menambah kapasitas produksi karena waktu pengolahan menjadi lebih singkat.

Selain produksi, teknologi pengemasan vakum juga membantu Gethuk Bu Sri memperluas pemasaran. Produk yang sebelumnya lebih banyak dijual secara langsung kini dapat dikirim kepada konsumen di luar kota.

“Sekarang gethuk, timus, dan produk yang lain sudah kami vakum. Sampai di tempat tujuan juga lebih aman, baik bentuk maupun kualitasnya. Masa simpannya juga menjadi lebih panjang,” kata Tatik.

Ia menambahkan, perkembangan pemasaran tersebut turut berdampak pada peningkatan omzet usaha. Jika sebelumnya penjualan hanya dilakukan melalui satu kios di depan Pasar Kemuning, kini produk Gethuk Bu Sri dipasarkan melalui rumah produksi, penjualan daring, serta disalurkan ke sejumlah restoran dan kafe.

“Kalau omzet juga naik. Kalau dihitung, lebih dari 50 persen karena jangkauannya lebih luas,” ujarnya.

Baca Juga :  Sarasehan di Monumen Pers Solo, Sejumlah Tokoh Bedah Tantangan Pengamalan Pancasila  
Dari Gethuk dan Timus hingga Wisata Edukasi

Gethuk Bu Sri berdiri sejak 2018. Pada awalnya, usaha tersebut hanya melayani penjualan secara daring melalui WhatsApp dengan sistem cash on delivery (COD). Setelah sekitar tujuh bulan, usaha tersebut memperoleh tempat berjualan di depan Pasar Kemuning.

Seiring meningkatnya jumlah pelanggan, Gethuk Bu Sri kemudian mengembangkan rumah produksi sekaligus menyediakan tempat yang lebih nyaman bagi pengunjung. Produk yang ditawarkan pun semakin beragam, mulai dari gethuk, timus, kroket, risol mayo, tahu bakso, pastel, hingga singkong beku (frozen).

Perkembangan usaha juga mendorong Gethuk Bu Sri membuka wisata edukasi. Pengunjung, termasuk kelompok ibu-ibu PKK dan pelajar dari wilayah Soloraya, dapat belajar secara langsung mengenai proses pembuatan gethuk dan timus serta berbagai kemungkinan pengolahan singkong dan ubi jalar menjadi produk bernilai jual.

“Banyak pengunjung yang datang dan meminta edukasi bagaimana cara membuat gethuk dan timus. Akhirnya kami membuka wisata edukasi, khususnya untuk gethuk dan timus. Kami juga memberikan motivasi bahwa singkong dan ketela bisa diolah menjadi berbagai produk,” tutur Tatik.

Dalam pengembangan produk, Gethuk Bu Sri juga mempertahankan penggunaan singkong lokal jenis Jarak Towo sebagai salah satu bahan baku. Menurut Prof. Harisudin, karakter bahan baku menjadi salah satu faktor yang memengaruhi cita rasa produk.

“Produk yang dibuat dari bahan yang berbeda tentu memiliki karakter rasa yang berbeda. Karena itu, Gethuk Bu Sri menggunakan singkong Jarak Towo yang berasal dari wilayah sekitar lereng Gunung Lawu,” jelasnya.

Ia menambahkan, penggunaan bahan baku lokal tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya mempertahankan karakter produk tradisional daerah.

Bagi Tatik, pendampingan UNS tidak hanya membantu menyelesaikan persoalan produksi, tetapi juga memberikan ruang untuk terus mengembangkan usaha. Ia berharap Gethuk Bu Sri dapat semakin dikenal luas sekaligus ikut menjaga keberlanjutan kuliner tradisional Nusantara.

“Harapan kami Gethuk Bu Sri semakin luas dikenal. Jangan sampai makanan tradisional ini berhenti pada generasi sebelumnya. Kami ingin terus berinovasi agar gethuk dan timus bisa menjadi sesuatu yang lebih berkembang,” pungkasnya. *

Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.