SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM – Puluhan pedagang kuliner di wilayah Sragen Kota dilaporkan menjadi korban penipuan yang mengatasnamakan Yayasan Pondok Pesantren Panti Asuhan An-Nahl Sragen.
Dengan dalih mengatasnamakan pengurus yayasan Ponpes itu, pelaku memesan makanan ke pedagang kuliner berbagai jenis itu dan meminta diantar ke pondok.
Tak hanya itu, pelaku juga tega meminta kiriman pulsa ratusan ribu ke para pedagang. Tak tanggung-tanggung, ada puluhan pedagang yang tertipu modus baru tersebut.
Aksi penipuan itu terungkap ketika pihak pondok mengaku didatangi puluhan pedagang dalam tiga hari terakhir.
Mereka yang datang itu beragam mulai dari pedagang bakso, seblak, mertabak, sate ayam dan lainnya. Mereka rata-rata berjualan di sekitar pondok dan ada di wilayah Sragen Kota.
Ketua Yayasan An-Nahl Hidayatullah Sragen Tri Sanyoto mengungkapkan pelaku menggunakan modus mengatasnamakan pengurus pondoknya.
Kemudian menghubungi para pedagang dan memesan makanan untuk diantar ke pondok. Padahal, pihak pondok tak pernah memesan makanan tersebut.
“Jadi modusnya mereka (pedagang) mengaku menerima pesanan makanan atas nama pengurus Pondok An-Hahl. Padahal dari kami nggak pernah memesan. Nah pelaku menggunakan modus mengatasnamakan pengurus,” paparnya kepada JOGLOSEMARNEWS.COM , Minggu (31/10/2021).
Tri menjelaskan rata-rata setiap pedagang terlanjur membuat 35-45 porsi makanan yang diantar ke Ponpes.
Ada beberapa pedagang yang lolos dari penipuan karena tak langsung percaya dan berusaha mengkonfirmasi terlebih dahulu dengan datang ke ponpes.
Bukti Transfer Palsu
Pelaku kemudian berdalih akan membayar melalui transfer rekening. Celakanya sudah tidak menerima bayaran, sebagian pedagang justru diminta mentransfer balik ke rekening pelaku.
Permintaan transfer balik itu dilakukan dengan mengelabuhi pakai bukti transfer palsu. Bukti transfer palsu itu sebelumnya dikirim kepada korban melalui percakapan aplikasi.
“Nah dengan alasan kelebihan transfer, pelaku lalu meminta ditransfer balik. Rata-rata pedagang ternyata nggak konfirmasi apakah betul ada transfer masuk rekeningnya,” terangnya.
Pelaku meminta kelebihan transfer itu dikembalikan lewat kiriman pulsa. Sehingga para pedagang rata-rata tertipu dua kali.
Yakni rugi karena pesanan makanannya tidak terbayar dan kehilangan uang untuk transfer balik dan membelikan pulsa.
“Kerugian transfer baliknya bervariasi. Ada yang tertipu kirim pulsa Rp 200.000, Rp 300.000. Bahkan ada yang sampai tertipu kirim pulsa dua kali,” terangnya.
Atas kejadian itu, Tri meminta agar pedagang lebih berhati-hati dan tidak mudah percaya jika menerima pesanan mengaku dari pondok.
Menurutnya, sebelum ditransfer uangnya dan dipastikan bahwa pemesannya pihak pondok, seyogianya tidak dibuatkan dulu.
“Saran kami kalau memang belum ditransfer belum jangan dibuatkan. Karena orang itu bukan bagian dari kami,” paparnya. Wardoyo