Beranda Daerah Sragen Hanya Gara-gara Makan Siang Diberikan Pakai Tangan Kiri, Pak Haji di...

Hanya Gara-gara Makan Siang Diberikan Pakai Tangan Kiri, Pak Haji di Sragen Ini Nekat Pukuli Istrinya

364
BAGIKAN
Kapolsek Masaran AKP Mujiono didampingi Danramil Kapten Agus saat memediasi pasutri yang mengadu di Polsek Masaran, Selasa (30/1/2018). Foto/JSnews

SRAGEN – Seorang kakek bergelar haji asal Dukuh Tanggungmulyo,  Desa Karangmalang,  Masaran,  berinisial H. SA (65) diadukan oleh istrinya sendiri,  DW ke polisi,  Selasa (30/1/2018). Pak haji itu diadukan ke Polsek lantaran dianggap telah melakukan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) terhadap sang istri.

Ironisnya, pengaduan itu dipicu hanya gara-gara persoalan sepele. Pak Haji merasa tidak terima dilayani makan dengan tangan kiri. Padahal sang istri merasa dia memberikan makan dengan tangan kanan ke suaminya.

Kasus itu terungkap ketika pasutri itu dimediasi di Polsek Masaran, Selasa (30/1/2018) pagi.  Mediasi dilakukan di Polsek setelah sang istri tidak terima dengan perlakuan kasar suaminya.

Di hadapan Babhinkamtibmas Karangmalang,  Bripka Wahid Didik mewakili Kapolsek AKP Mujiono,  korban menceritakan kejadian berawal ketika dia menyiapkan makan siang untuk suaminya.

Saat itu,  ia seperti biasa menyajikan dengan tangan kanan. Namun ternyata suaminya menganggap makanan itu diberikan dengan tangan kiri. Seketika Pak Haji yang merasa tak dihormati,  langsung kalap.

Ia memukul dan mencakar istrinya secara membabi buta. Istrinya hanya bisa pasrah. Karena tak bisa diselesaikan di rumah,  korban nekat mengadukan suaminya ke Polsek.

“Ya tadi memang mengadu ke Polsek. Korban memang menghendaki diselesaikan di Polsek.  Cuma salah paham, bapaknya itu kebetulan pakai kaca mata. Seingatnya istrinya memberikan makan siang pakai tangan kiri dan merasa nggak dihormati. Padahal istrinya mengaku menyajikan pakai tangan kanan, ” ujar Kapolsek mewakili Kapolres AKBP Arif Budiman.

Baca Juga :  Kobaran Api dan Kepulan Asap Tebal Landa Gemolong Sragen. Warga Berhamburan Padamkan Api

Meski sempat panas,  namun berkat penjelasan dari Kapolsek dan Babhinkamtibmas,  korban akhirnya meluruh dan bersedia memaafkan suaminya.

Sementara Pak Haji mengaku khilaf dan siap tidak mengulangi perbuatannya lagi. Kedua pasutri itu akhirnya sepakat berdamai dan rukun kembali.

“Pesan moralnya,  kami harap dalam setiap rumah tangga meski ada riak dan dinamika persoalan. Itu wajar terjadi sebagai bumbu sebuah kehidupan berumah tangga.  Sebisa mungkin setiap ada masalah diselesaikan dengan kepala dingin dan jangan sekali-kali pakai kekerasan. Karena bisa berimplikasi hukum,” jelasnya. Wardoyo