Site icon JOGLOSEMAR NEWS

Bupati Karanganyar Ungkap Praktik Rentenir Mencekik dan Marak di Pasar Tradisional 

Bupati Juliyatmono saat melakukan penarikan undian BKK Karanganyar

 

KARANGANYAR- Bupati Karanganyar, Juliyatmono, meminta masyarakat tidak  khawatir terhadap dana yang ditabung di beberapa lembaga keuangan milik Pemkab dan Pemprov Jawa Tengah, seperti  BKK Karanganyar. Pemkab bertanggungjawab penuh terhadap dana masyarakat yang dikelola BKK.

Hal tersebut dikatakan bupati Karanganyar, Juliyatmono usai melakukan penarikan undian Tamades BKK  milik Pemkab dan Pemprov Jawa Tengah tersebut, Rabu (10/10/2018).

“Para nasabah tidak perlu khawatir terhadap dana yang disimpan di BKK serta lembaga keuangan milik Pemkab lainnya. Pemkab tetap bertanggungjawab terhadap dana yang dikelola,” kata bupati.

Bupati juga meminta kepada jajaran direksi dan seluruh karyawan untuk tetap menjaga dana nasabah ini,  serta dikembangkan untuk kemajuan dan pengembangan usaha.

“Saya ingatkan, para jajaran direksi dan seluruh karyawan, menjaga kepercayaan masyarakat. Jangan sampai disalahgunakan,” tegasnya.

Dalam kesempatan tersebut, bupati  sempat menyinggung praktik rentenir yang semakin marak  di sejumlah pasar tradisional Karanganyar. Praktik  rentenir ini, menurut bupati, meminjamkan modal dengan berbagai kemudahan namun dengan bunga yang mencekik. Akibatnya, banyak pedagang yang terjerat rentenir tersebut.

“Kita sebenarnya telah melaksanakan berbagai program, diantaranya dengan memberikan bantuan modal yang bekerjasama dengan perbankan, untuk mengantisipasi atau mengurangi rentenir di pasar tradisional, namun nampaknya praktik tersebut masih saja marak. Saya berharap kepada badan usaha milik daerah, terutama yang bergerak dibidang keuangan, dapat membantu para pedagang agar terlepas dari jeratan renteninr dengan memberikan bantuan modal dengan persyaratan mudah dan bunga ringan,” ujar bupati.

Sementara itu, Direktur BKK Karanganyar Susilowati, menjelaskan, saat ini telah menyalurkan kredit sebesar Rp127 milyar atau mengalami kenaikan 8,6 persen dari tahun lalu dimana penyaluran kredit hanya Rp 106,4 milyar.

Dari segi pendapatan, menurut Susilowati, juga mengalami kenaikan dari  Rp 22,7 milyard menjadi Rp 23,1 milyard atau sebesar 9%. Wardoyo

Exit mobile version